TAFSIR, TA’WIL, DAN HERMENEUTIK

TAFSIR, TA’WIL, DAN HERMENEUTIK

( Kerangka Metodologi dalam Memahami Al-Qur’an )

 

 

Oleh: Ali Rif’an

 

 

  1. PENDAHULUAN

Al-Quran adalah sumber ajaran Islam yang pertama. Kitab Suci itu, menempati posisi sentral, bukan saja dalam perkembangan dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga merupakan inspirator, pemandu dan pemadu gerakan-gerakan umat Islam sepanjang empat belas abad sejarah pergerakan umat ini.[1] Di samping itu, Al Qur’an juga dipandang sebagai hudan li al-nas (Q.S. 14:1) mengandung kerangka hukum atau aturan yang menjadi dasar pijakan bagi manusia dalam menagarungi perjalanan hidupnya.[2]

Kalangan awam hanya dapat memahami makna-maknanya yang zahir (tekstual) dan pengertian ayat-ayatnya secara global. Sedangkan kalangan cerdik cendekia dan terpelajar akan dapat menyimpulkan pula dari padanya makna-makna yang menarik. Di antara dua kelompok ini terdapat aneka ragam dan tingkat pemahaman. Maka tidaklah mengherankan jika Qur’an mendapatkan perhatian besar dari umatnya melalui pengkajian intensif terutama dalam rangka menafsirkan kata-kata gharib (aneh, ganjil) atau mentakwilkan tarkib (susunan kalimat).[3]

Jika demikian itu halnya, maka pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Quran, melalui penafsiran-penafsirannya, mempunyai peranan yang sangat besar bagi maju-mundurnya umat manusia. Redaksi ayat-ayat Al Qur’an, tidak semua dapat dijangkau maksudnya secara pasti, kecuali oleh pemilik redaksi tesebut. Hal inilah yang kemudian menimbulkan keanekaragaman penafsiran.[4]

Dalam hal Al Qur’an, para sahabat sekalipun, yang secara umum menyaksikan turunnya wahyu, mengetahui konteksnya (asbabnun nuzul-nya), serta memahami secara alamiah strukur bahasa dan arti kosa katanya, tidak jarang mereka berbeda pendapat tentang maksud yang terkandung dalam firman – firman Allah tentang yang mereka dengar dan baca itu.[5]

Harus digarisbahwahi juga bahwa penjelasan Nabi tentang ayat-ayat Al Qur’an tidak banyak yang kita ketahui dewasa ini, bukan saja riwayat yang diterima generasi berikutnya setelah beliau tidak banyak dan sebagiannya tidak dapat dipertanggungjawabkan otentitasnya, tetapi juga karena Nabi sendiri tidak menafsirkan semua ayat Al Qur’an.[6]

Atas dasar hal di atas, menjadi alasan bahwa tidak ada jalan lain kecuali berusaha untuk memahami ayat-ayat Al Qur’an berdasarkan kaidah-kaidah disiplin penafsiran dan ilmu tafsr, serta berdasarkan kemampuan, serta masin-masing penafsir memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu.

Tulisan berikut, berupaya menguraikan pembahasan tafsir, ta’wil dan hermeneutik sebagai piranti analisis metodologis teks Al Qur’an. Secara berurutan mengemukanan tentang tafsir dan ta’wil, bagaimana membedakan tafsir dari ta’wil, hermeneutik: pro dan kontra, cara kerja tafsir, bagaimana dampak yang ditimbulkan dengan adanya penafsiran tersebut menurut tinjauan kacamata kita yang hidup pada abad ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), serta era globalisasi dan informasi saat ini sebagai sebuah analisis dan terahir adalah penutup.

 

  1. TAFSIR DAN TA’WIL
  2. Tafsir : Pengertian dan Perkembangannya

Secara etimologis, tafsir merupakan derivasi dari kata kerja bahasa Arab ( فَسَّرَ ) yang berarti keterangan dan pemberian penjelasan الايضاح و التّبيين )) [7] juga bermakna jelas dan pengungkapan( البيان و الكشف )  [8] serta menyingkap maksud dan lafal-lafal yang sulit  .( كشف المراد عن اللفظ المشكل )[9] Tafsir juga berarti mengungkap segala sesuatu yang dapat dicapai panca indera atau pengertian-pengertian yang dapat dicapai dengan akal.[10]

Dalam kamus Al Munawwir, ta’rif tafsir mempunyai banyak makna diantaranya diartikan dengan penjelasan dan komentar ( الإيضاح و الشرح ), keterangan  ( البيان ). Sedangkan kata فسّر  mempunyai arti menerangkan dan menjelaskan اوضح و بيّن )), memberi komentar, penjelasan, tafsiran ( شرح ), menterjemahkan  ترجم )), serta menta’wilkan  اوّل )).[11] Lafal dengan makna ini disebutkan di dalam Al-Quran dalam surat Al Furqan ayat 33:

وَلاَ يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلاَّ جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا  ( الفرقان : 33 )

Kata tafsir dalam kamus Bahasa Indonesia diartikan dengan “keterangan atau penjelasan tentang ayat-ayat Al Qur’an atau kitab suci lain sehingga lebih jelas maksudnya“.[12] Dari titik tolak ini, paling tidak tafsir dapat dimaknai sebagai usaha keras untuk menjelaskan dan menerangkan atau menguraikan tentang maksud-maksud Allah yang tertuang dalam Al Qur’an.

Adapun secara terminologis, terdapat banyak sekali definisi yang disampaikan oleh para ahli, diantaranya Imam Zarkasyi menerangkan bahwa:

التفسير علم يعرف به فهم كتاب الله المنزل على نبيه محمد صلى الله عليه وسلم وبيان معانيه واستخراج أحكامه وحكمه واستمداد ذلك من علم اللغة والنحو والتصريف وعلم البيان وأصول الفقه والقراءات ويحتاج لمعرفة أسباب النزول والناسخ والمنسوخ

 

“Tafsir adalah Ilmu untuk memahami Kitabullah yang diturunkan kepada Nabi-Nya Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, menjelaskan maknanya, serta menguraikan hukum dan hikmahnya, terkandung didalamnya juga ilmu bahasa (semantic) nahwu, tashrif, ilmu bayan, ushul fiqih, ilmu qira’at yang dibutuhkan untuk mnegetahui asbabun nuzul serta nasikh dan mansukh”.[13]

 

Dari definisi diatas, paling tidak kita dapat membedakan 3 pokok dalam memahami tafsir, yaitu:

  1. Tafsir adalah sebuah ilmu untuk memahami kitabullah (Al Qur’an) yang diturunkan kepada Rasulullah.
  2. Tafsir adalah upaya untuk menjelaskan makna yang terkandung dalam Al Qur’an;
  3. Tafsir adalah upaya dalam menguraikan hukum-hukum dan hikmah-hikmah yang ada dalam Al Qur’an baik dalam aspek kebahasaannya, nahwu, tashrif, bayan, ushul fiqih, qira’at, yang diperukan untuk memahanmi asbabun nuzul serta nasih mansuh.

Sementara itu, Imam Jalaluddin As-Suyuthy sebagaimana dikutip Adz Zahabi mendefinisikan tafsir dengan:

علم يبحث عن مراد الله تعالى بقدر الطاقة البشرية, فهو شامل لكل مايتوقف عليه فهم المعنى وبيان المراد. 

“Ilmu yang membahas maksud Allah ta‘ala sesuai dengan kadar kemampuan manusiawi yang mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan pemahaman dan penjelasan makna.”[14]

 

Definisi tafsir lainnya dikemukakan oleh Syaikh Muhammad Abdul Azhim Az-Zarqany:

علم يبحث فيه عن أحوال القرآن الكريم من حيث دلالته على مراد الله تعالى بقدر الطاقة البشرية.

“Ilmu yang membahas perihal Al-Quran Al-Karim dari segi penunjukan dalilnya sesuai dengan maksud Allah ta‘ala berdasarkan kadar kemampuan manusiawi”.[15]

 

Definisi lain diberikan oleh Abu Hayyan sebagaimana dikutip oleh Manna’ Al Qattan:

علم يبحث عن كيفية النطق بالفاظ القرأن,ومدلولاتها, واحكامها الإفرادية والتركيبيّة و معانيها التٌحمل عليها حالة التركيب و تتمات لذلك.

 

“Adalah Ilmu yang membahas tentang cara pengungkapan lafadz-lafadz Qur’an, petunjuk-petunjuknya, hukum-hukumnya baik ketika berdiri sendiri maupun ketika tersusun (tartib) dan makna-makna yang dimungkinkan baginya ketika tersusun serta hal-hal lain yang melengkapinya.[16]

 

Ahmad Al Syirbasyi memaparkan makna tafsir menjadi 2 macam, yaitu:

  1. Keterangan atau penjelasan sesuatu yang tidak jelas dalam Al Qur’an yang dapat menyampaikan pengertian atau maksud yang dikehendaki.
  2. Merupakan bagiian dari ilmu badi’ yaitu salah satu dari cabang ilmu sastra arab yang mengutamakan indahnya makna dan menyusun kalimat.[17]

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa tafsir merupakan salah satu metode dalam memahami Al Qur’an, baik dalam aspek kebahasaannya, maknanya, maupun hukum-hukumnya. Untuk menggunakan metode ini diperlukan seperangkat ilmu yang harus dikuasai oleh penafsir, agar ayat-ayat yang dipahami tidak jauh menyimpang dari yang dikehendaki Allah.[18]

Hasbi Assidiqiy, membedakan tafsir kedalam 3 macam, yaitu:[19] (1). Tarsir bi al riwayah atau tafsir bi al ma’tsur,[20] (2) Tafsir bi al dirayah atau tafsir bi al ra’yu, dan (3). Tafsir bi al syarah atau tafsir isyra’i. Sedangkan bila dilihat dari segi kondifikasinya, tafsir terbai menjadi 3 periode.[21] Periode pertama, yaitu masa rasul, sahabat dan permulaan masa tabi’in, di mana tafsir pada masa itu belum tertulis, dan secara umum periwayatannya pada masa itu tersebar secara lisan.

Periode kedua, bermula pada kondifikasi hadits secara resmi pada masa pemerintahan Umar Bin Abdul Aziz (99-101 H). Tafsir ketika itu bergabung dengan penulisan hadits, dan dihimpun dalam bab seperti bab-bab hadits yang pada umumnya adalah tafsir bi al ma’tsur. Periode Ketiga dimulai dengan penyusunan kitab-kitab tafsir secara khusus dan berdiri sendiri, yang oleh sementara ahli diduga dimulai oleh Al Farra ( w. 207 H ) dengan kitabnya yang berjudul Ma’ani Al Qur’an.

Menurut Al Dzahabi sebagaimana diungkapkan Quraish Shihab, Al Farra masih memfokuskan diri dan menjadikan aspek kebahasaan sebagai landasan yang kokoh dalam memahami tafsirnya, seperti pada masa-masa sebelumnya.[22] Mengandalkan metode ini, mempunyai beberapa keistimewaan, yaitu: 1) Mementingkan landasan bahasa dalam memahami Al Qur’an; 2). Memaparkan ketelitian redaksi ayat ketika menyampaikan pesan-pesannya, dan; 3). Mengikat mufassir dalam bingkai teks ayat-ayat, sehingga membatasinya terjerumus dalam subyektivitas berlebihan dalam memaknainya. Di samping itu juga terdapat sisi negatif dalam metode ini, yaitu: 1). Terjerumusnya mufassir dalam uraian kebahasaan yang bertele-tele, sehingga pesan pokok Qur’an menjadi kabur; 2). Seringkali konteks asbabun nuzul yang dipahami dari uraian nasikh mansukh terabaikan, sehingga ayat-ayat tersebut bagaikan bukan dalam satu masa atau berada di tengah-tengah masyarakat tanpa budaya.

Dalam pembagian tafsir sebagaimana tersebut di atas, baik itu jenis dan metode tafsir maupun preodenya, maka aabila kita lihat dari subyek pelakunya berdasarkan kandungan  Surat Ali Imron ayat 7, tafsir hanya bisa diketahui oleh Allah dan tafsir yang bisa diketahi oleh Allah dan orang-orang yang “rasikhun fi al ilmi. Dan apabila di tinjau dari alat yang digunakan, maka dibedakan menjadi tafsir bil ma’tsur (menggunakan nash) dan tafsir bi al ra’yi (menggunakan akal).

Di ukur dari tingkat kebenarannya, maka tafsir jenis pertama itulah yang paling benar. Kedatipun demikian, bisa jadi suatu saat kurang mampu menyentuh keadaan zaman secara kontekstual dan detail. Sedangkan kebenaran jenis kedua, kebenarannya jenis nisbi (relaitf). Tetapi metode ini pada saat tertentu mampu menyentuh keadan yang sedang dialami.

Bagaimanapun keadaannya, menafsirkan Al Qur’an pada dasarnya adalah merasionalisasikan ayat-ayatnya yang belum jelas untuk dapat diterima secara wajar oleh pikiran,[23] dan upaya untuk itu bukan untuk mencapai pengertian secara absolut (mutlaq) sesuai dengan keadaan manusia yang kemampuannnya serba terbatas, tidak memiliki otoritas yang absolut.

Mengingat keterbatasan akan kemampuan akal manusia, dan pentingnya penafsiran Al Qur’an untuk dikembangkan sesuai dengan konteks perkembangan zaman maka tidak berlebihan jika arti kalimat “Al Tafsir” dimaknai beraneka macam sesuai dengan kaca mata dan prespektif bidang keilmuwan masing-masing.

Tahap paling awal dari tahapan tafsir Al Qur’an menurut Farid Esack dalam buku aslinya The Qur’an, a Short Intriduction mengemukakan bahwa istilah Ma’ani (harfiyah) merupakan stilah yang paling sering digunakan untuk menunjukkan tafsir.[24] Sekitar abad ke-3 H istilah ini diganti dengan ta’wil. Tahap berikutnya istilah ini diganti lagi dengan istilah tafsir dengan penggunaan istilah tafsir dan ta’wil secara bergantian.

 

  1. Ta’wil: Upaya Memahami Wahyu dengan Rasionalitas

Dahulu, sebagian ulama merasa puas dengan menyatakan bahwa “Allahu a’lam bi muradihi” (Allah yang mengetahui maksud-Nya). Tetapi, ini tentunya tidak memuaskan banyak pihak, apalagi dewasa ini. Karena itu, sedikit demi sedikit sikap seperti itu berubah dan para mufasir akhirnya beralih pandangan dengan jalan menggunakan ta’wil.[25] Memang, literalisme (penafsiran) seringkali mempersempit makna, berbeda dengan penta’wilan yang memperluas makna sekaligus tidak menyimpang darinya. Di sinilah ta’wil dibutuhkan dalam memahami Al Qur’an.

Takwil sendiri secara bahasa berasal dari kata “الاول ” yang berarti           “الرجوع إلي للأصل ” (kembali kepada asal). Bila dikatakan: “آل إليه أولا ومآلا” artinya: kembali kepadanya. Dan apabila dikatakan: “أول الكلام تأويلا” artinya: memikirkan, memperkirakan dan menafsirkannya.[26] Atau seperti diungkapkan Al Shabuni dalam Al Thibyan Fi ‘Ulum Al Qur’an, ta’wil seperti makna leksikalnya (masdar), ” تأويلا ” mempunyai makna ) دبّره وقدّره و فسّره ) “merenungkan, mengira-ngirakan, dan mentafsirkan”.[27]

Secara istilah, menurut golongan salaf, takwil mempunyai dua arti, yaitu:

هو تفسيرالكلام و بيان معناه¸ سواءفق ظاهره او خالفه, فيكون التأويل و التفسير علي هذامترادفين

Dalam makna ini, ta’wil bermakna “penafsiran kalam dan penjelasan maknanya. Dalam hal ini arti ta’wil sama dengan tafsir.” Dan pemaknaan yang kedua kaum salaf memaknai ta’wil sebagai berikut:

هو نفس المراد بالكلام , فانّ الكلام طلبا كان تاويله نفس الفعل المطلوب , وان كان خبرا, كان تاويله نفس الشيءالمخبر به.

“Takwil dalam makna ini berarti menjelaskan kalam dengan sesuatu yang sesuai dengan yang dikehendaki / dimaksud kalam. Misalnya apabila kalam berbentuk perintah, maka takwilnya berupa perbuatan yang memenuhi perintah tersebut. [28]

 

Adapun menurut muta’akhkhirun (golongan ulama’ kontemporer)[29], mendefinisikan ta’wil sebagai berikut:

هو صرف اللفظ عن المعني الراجح الي المعني المرجوح لدليل يقترن به.

 

Ta’wil diartikan sebagai memalingkan/mengganti makna lafadz yang kuat (rajih) kepada makna yang lemah (marjuh) karena adanya dalil yang menyertainya.[30]

 

Dari definisi di atas, ada perbedaan mendasar yang diungkapkan oleh ulama. mutaqaddimin dengan ulama mutaakhirin. yakni dalam hal penyamaan tafsir dan ta’wil pada awal pertumbuhannya, kemudian pada perkembangan selanjutnya dibedakan antara tafsir dan ta’wil. Pada abad ke-2 Hijriah tiba masa pembukuan (tadwin) yang dimulai dengan pembukuan hadis dengan segala babnya yang bermacam-macam, dan itu juga menyangkut hal yang berhubungan dengan tafsir. Maka, sebagian ulama membukukan tafsir Quran yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. dari para sahabat atau dari para tabi’in.

Di antara mereka itu, yang terkenal adalah Yazid bin Harun as-Sulami (wafat 117 H), Syu’bah bin Hajjaj (wafat 160 H), Waki’ bin Jarrah (wafat 197H), Sufyan bin Uyainah (wafat 198), dan Abdurrazaq bin Hammam (wafat 112). Mereka semua adalah para ahli hadis; tafsir yang mereka susun merupakan salah satu bahagiannya. Namun, tafsir mereka yang tertulis tidak ada yang sampai ke tangan kita. Kemudian, langkah mereka itu diikuti oleh segolongan ulama. Mereka menyusun tafsir Alquran yang lebih sempurna berdasarkan susunan ayat. Dan yang paling terkenal di antara mereka adalah Ibn Jarir at-Thabari (wafat 310 H).[31]

Demikianlah, tafsir pada mulanya dinukil (dipindahkan) melalui penerimaan dari riwayat (dari mulut ke mulut), kemudian dibukukan sebagai salah satu bahagian hadis, selanjutnya ditulis secara bebas dan mandiri. Maka, berlangsunglah proses kelahiran tafsir bil ma’tsur (tafsir berdasarkan riwayat), lalu diikuti oleh at-tafsir bir ra’yi (tafsir berdasarkan penalaran).

Di samping ilmu tafsir, lahir pula karangan yang berdiri sendiri mengenai pokok-pokok pembahasan tertentu yang berhubungan dengan Alquran, dan hal ini sangat diperlukan oleh seorang mufassir (ahli tafsir), diantaranya:

  1. Pada abad ke-3 Hijriyah, ulama-ulama yang terkenal adalah:
  • Ali bin al-Madini (wafat 234 H) yang merupakan guru Bukhari menyusun karangan tentang asbaabun-nuzuul.
  • Abul Ubaid al-Qasim bin Salam (wafat 224) menulis Naasikh wal-Mansuukh dan Qira-at.
  • Ibnu Qutaibah (wafat 276 H) menyusun Musykilaatul Qur’an tentang permasalahan quran.
  1. Pada abad ke-4 Hijriyah, ulama-ulama yang terkenal adalah:
  • Muhammad bin Khalaf bin Marzaban (wafat 309 H) menyusun Al-Haawi wa-Uluumil Quraan.
  • Abu Muhammad bin Qasim al-Anbari (wafat 751 H) juga menulis tentang ilmu-ilmu Alquran.
  • Abu Bakar as-Sijistani (wafat 330 H) menyusun Ghariibul Qur’an.
  • Muhammad bin Ali al-Adfawi (wafat 388 H) menyusun Al-Istighna’ fii ‘Uluumil Qur’an. [32]

Dan, sesudah itu kegiatan karang-mengarang dalam ilmu Alquran terus berlangsung. Abu Bakar al-Baqalani (wafat 403 H) menyusun I’jaazul Qur’an, dan Ali Ibrahim bin Said al-Hufi (wafat 430 H) menulis I’rabul Qur’an. Al-Mawardi (wafat 450 H) mengenai tamsil-tamsil dalam Quran (Amtsaalul Qur’an). Al-Izz bin Abdussalam (wafat 660 H) tentang majaz dalam Alquran. Alamudin as-Sakhawi (wafat 643 H) menulis mengenai ilmu qiraat (cara membaca Alquran), dan Aqsaamul quraan. Setiap penulis dalam karangannya itu menulis bidang dan pembahasan tertentu yang berhubungan dengan ilmu-ilmu Quran.

Dengan method seperti ini, Al-Hufi dianggap sebagai orang pertama yang membukukan ulumul qur’an (ilmu-ilmu Alquran), meskipun pembukuannya memakai cara tertentu seperti disebutkan tadi. Ia wafat pada tahun 430 Hijriah.[33]

Kemudian, Ibnul Jauzi (wafat 597 H) mengikutinya dengan menulis sebuah kitab berjudul Fununul Afnan fi Ajaa’ibi Uluumil Qur’an. Lalu, tampil Badrudin az-Zarkasyi (wafat 794 H) menulis sebuah kitab dengan judul Al-Burhan fi Uluumil Qur’an Jalaaludin al-Baqini (wafat 824 H) memberikan tambahan atas Al-Burhan di dalam kitabnya Mawaaqi’ul Uluum min Maawaqi’in Nujum, Jalaludin as-Suyuti (wafat 911 H) juga kemudian menyusun kitab yang terkenal Al-Itqan fi Uluumil Qur’an.

Namun dari definisi ta’wil tersebut, bukan berarti dengan serta merta setiap kita dapat menggunakan ta’wil dalam memahami Al Qur’an tanpa didukung oleh syarat-syarat tertentu. Al-Syathibi sebagaimana diungkapkan Quraish Shihab mengemukakan dua syarat pokok bagi penta’wilan ayat-ayat al-Quran:

  1. Makna yang dipilih sesuai dengan hakikat kebenaran yang diakui oleh mereka yang memiliki otoritas.
  2. Arti yang dipilih dikenal oleh bahasa Arab klasik.[34]

Aliran tafsir Muhammad ‘Abduh mengembangkan lagi syarat penta’wilan, sehingga ia lebih banyak mengandalkan akal, sambil mempersempit wilayah supra-natural. Namun bila hal ini diperturutkan tanpa batas, maka akan dapat mengakibatkan pengingkraan hal-hal yang bersifat supra-natural.

Ta’wil, sebagaimana dikemukakan di atas, akan sangat membantu dalam memahami dan “membumikan” Al-Quran di tengah kehidupan modern dewasa ini dan masa-masa yang akan datang. Perlu kita garisbawahi bahwa tidaklah tepat men-ta’wil-kan suatu ayat, semata-mata berdasarkan pertimbangan akal dan mengabaikan faktor kebahasaan yang terdapat dalam teks ayat, lebih-lebih bila bertentangan dengan prinsip-prinsip kaidah kebahasaan sebagaimana dikhawatirkan oleh Quraish Shihab, salah seorang mufassir Indonesia.

Dalam khazanah ilmu-ilmu Al Qur’an, Istilah tafsir lebih dominan dan populer digunakan daripada  istilah ta’wil. Tafsir dikelan sebagai caa mengurai bahasa, konteks  dan pesan-pesan moral yang terkandung dalam teks atau nash kitab suci. Sedangkan ta’wil adalah cara untuk memahami teks dengan cara menjadikan teks atau lebih tepatnya disebut pemahaman, pemaknaan, dan interpretasi terhadap teks, sebagai obyek kajian. Menurut Amin Abdullah, apa yang disebut ta’wil sebagaimana yang telah dibakukan dalam tradisi keislaman konvensional, adalah tafsir al batini yang agak equivalen dengan al tafsir al isyra’i.[35]

Orang yang mampu menakwilkan Al Qur’an dan berhasil menggali berabgai teori hukum ilmiah serta hukum sejarah. Lalu ia menerapkannya sebagai dasar kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka ia akan menggerakkan manusia menuju kelajuan (yuftin al nas).[36]

 

  1. Perbedaan dan Persamaan Tafsir dan Takwil

Fungsi tafsir dan takwil sama-sama menjelaskan makna suatu ayat yang samar atau menguak kandungan makna teks-teks dalam Al-Qur’an, maka ada kalangan ulama’ yang menyamakan makna tafsir dan takwil. Di samping itu juga, terdapat pula ulama’ yang membedakannya, seperti Al-Maturidy dan Abu Zayd. Mereka berpendapat bahwa bahwa tafsir lebih umum dibanding takwil, sebab tafsir umumnya berfungsi menerangkan maksud yang terkandung dalam susunan kalimat. Sedangkan takwil digunakan untuk menjelaskan pengertian kitab-kitab suci, sedangkan tafsir juga menerangkan hal-hal yang lainnya. [37]

Sedangkan Nasr Hamid Abu Zayd berpendapat bahwa dalam diskursus Ilmu Tafsir Al-Qur’an, kata takwil ini biasa dibedakan dengan tafsir. Ringkasnya dapat dikatakan bahwa kalau tafsir menjelaskan aspek luar (dhahir) dari Al-Qur’an, sementara takwil merujuk kepada penjelasan-penjelasan makna-dalam dan tersembunyi. Bahwa dalam proses tafsir seorang penafsir menggunakan linguistik dalam pengertiannya yang tradisional, yaitu merujuk kepada riwayah, artinya peran penafsir dalam melakukan penafsiran hanya dalam kerangka mengenal simbol-simbol. Sedangkan dalam takwil, seorang penafsir selain menggarap dimensi lahiriah (dhahir) ayat, juga menggunakan perangkat keilmuan lain, baik ilmu-ilmu sosial maupun humaniora untuk menguak makna teks yang lebih dalam.[38]

Sedangkan Al Dzahabi berpendaat bahwa ada beberapa perbedaan mendasar tentang tafsir dan ta’wil, diantaranya:[39]

  1. Tafsir lebih umum dari pada ta’wil, kebanyakan yang digunakan dalam penafsiran adalah dari segi lafadz-lafalnya, sedangkan ta’wil dari sisi makna-maknanya.
  2. Tafsir menjelaskan lafal-lafal yang jelas (wadhih al lafd), sedangkan ta’wil makna yang dikandung dari lafal tersebut (bathin al lafd).
  3. Tafsir berkaitan dengan riwayah, sedangkan ta’wil berkaitan dengan
  4. tafsir adalah menerangkan makna yang terambil dari peletakan penunjukkan yang ada dalam teks, sedangkan ta’wil dengan jalan isyarat (majas atau metafor).

Dari pendapat-pendapat di atas, dapat kita bedakan bahwa dalam tataran praktik antara tafsir dan takwil memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Tafsir dalam praktiknya berlaku untuk semua teks secara umum sedangkan takwil hanya berlaku untuk membuka tabir kesamaran makna teks-teks dalam kitab-kitab suci dengan menggunakan perspektif ilmu-ilmu yang lain guna mendapatkan makna yang diinginkan.

 

  • HERMENEUTIKA: UPAYA METODOLOGIS MEMAHAMI TEKS

Hermeneutik. Bagi umat Islam adalah mahluk asing yang kadang dan masih dihadapi dengan kecurigaan, keraguan sekaligus ketakutan. Hal ini adalah sebuah kewajaran, apa lagi penerapannya terhadap teks Al Qur’an dipahami akan “menggoyang-goyang” bangunan penafsiran yang sudah diyakini berabad tahun lamanya. Dalam kajian keislaman, ada yang mengatakan bahwa hermeneunetik sudah lama dan masuk dalam kajian tafsir. Padanan kata yang dapat dianggap sebagai hermeneutik adalah tafsir, ta’wil, syarakh, dan bayan.[40]

Hermeneutik berasal dari kata Yunani, hermeneuein, yang bermakna mengartikan, menafsirkan, menerjemahkan, dan bertindak sebagai penafsir dalam rangka membedakan hermeneutik dengan hermetik. Sedangkan hermetik merupakan pandangan filsafat yang diasosiasikan pada tulisan-tulisan hermetik; suatu literatur ilmiah di Yunani yang berkembang pada awal-awal abad setelah kristus. Tulisan ini disandarkan pada Hermes Trismegistus. [41]

Dalam bukunya, Hermeneutics and the Human Sciences Paul Ricoeur mendefinisikan hermeneutika sebagai berikut, “hermeneutics is the theory of the operations of understanding in their relation to the interpretation of text”. Berdasarkan pengertian ini Ricoeur kemudian mengatakan, “So, the key idea will be the realisation of discourse as a text; and elaboration of the catagories of the text will be the concern of subsequent study”. [42]

Discourse sebagaimana ditulis di atas dilihat Ricoeur sebagai sesuatu yang lahir dari tuturan individu. Dalam hal ini Ricoeur menyinggung teori linguistik Ferdinand de Saussure yang diperbandingkan dengan konsep Hjemslev. Saussure, dalam Course in Linguistic General (1974) membedakan bahasa dalam dikotomi tuturan individu (parole) dengan sistem bahasa (langue).[43] Sedangkan Hjemslev mengkategorikan-nya dalam skema dan penggunaan.

Dari dualitas inilah, menurut Ricoeur, teori tentang wacana (discourse) lahir. Dalam perspektif Ricoeur, parole atau ujaran individu identik dengan wacana (discourse). Menurut Ricoeur, wacana berbeda dengan bahasa sebagai sistem (langue). Wacana lahir karena adanya pertukaran makna dalam peristiwa tutur. Karakter peristiwa sendiri merujuk pada orang yang sedang berbicara.

Ricoeur menulis, “The eventful character is now linked to the person who speaks; the event consists in the fact that someone speaks, someone expresses himself in taking up speech”.[44]  Selanjutnya dijelaskan bahwa terdapat empat unsur pembentuk wacana, yakni terdapatnya subjek yang menyatakan, isi atau proposisi yang merupakan dunia yang digambarkan, obyek yang dituju, dan terdapatnya konteks (ruang dan waktu). Dengan fakta demikian, tidak ada kebenaran mutlak dalam soal penafsiran atas wacana. Pemaknaan atau penafsiran yang bersifat temporal (bersifat sementara karena adanya konteks) selalu diantarai oleh sederet penanda dan, tentu saja, oleh teks.

Dengan demikian, tugas hermeneutika tidak mencari kesamaan antara maksud penyampai pesan dan penafsir. Tugas hermeneutika sebagaimana batasan Ricour di atas, adalah menafsirkan makna dan pesan seobjektif mungkin sesuai dengan yang diinginkan teks. Teks itu sendiri tentu saja tidak terbatas pada fakta otonom yang tertulis atau terlukis (visual), tetapi selalu berkaitan dengan konteks. Di dalam konteks terdapat berbagai aspek yang bisa mendukung keutuhan pemaknaan. Aspek yang dimaksud menyangkut juga biografi kreator (seniman) dan berbagai hal yang berkaitan dengannya. Hal yang harus diperhatikan adalah seleksi atas hal-hal di luar teks harus selalu berada dalam petunjuk teks. Ini berarti bahwa analisis harus selalu bergerak dari teks, bukan sebaliknya. Hal terpenting dari semua itu adalah bahwa proses penafsiran selalu merupakan dialog antara teks dan penafsir. Ricoeur, dengan merujuk pada Dilthey, menyebutnya sebagai lingkaran hermenetik (hermeneutical circle).[45]

Dengan kata lain, hermeneutika dalam pandangan Ricoeur bersentuhan dengan metode strukturalis, khususnya yang dikemukakan Ferdinand de Saussure yang diperbandingankan dengan Hjemslev dalam ilmu linguistik. Asumsi dasar strukturalisme adalah melihat berbagai permasalahan sebagai sebuah jaringan struktur atau sistem. Di dalam jaringan struktur, relasi menjadi bagian penting. Membaca dunia, dalam perspektif strukturalisme, berarti memahami struktur dan makna dunia melalui relasi-relasi. Kerena melihat segala persoalan sebagai struktur, strukturalisme bersifat statis (anti perubahan), ahistoris (anti sejarah), dan reproduktif (pengulangan). Pendek kata, strukturalisme melihat berbagai objek sebagai fakta otonom yang tidak memiliki hubungan keluar objek tersebut.[46]

Hermeneutik tidak muncul sebagai suatu daftar khusus dalam khazanah ilmu pengetahuan, tetapi lebih sebagai suatu sub disiplin teologi yang mencakup kajian metodologis tentang autentikasi dan penafsiran teks.[47] Makna yang dikandung dari  hermeneutik pada esensinya ingin mengungkapkan bahwa hermeneutika berusaha untuk beralih dari sesuatu yang gelap kepada sesuatu yan lebih terang dalam makna teks. Dan inilah yang sebagaimana dimaksudkan oleh Faiz bahwa hermeneutuka sebagai suatu metode atau cara untuk menafsirkan simbol yang berupa teks atau sesuatu yang diperlakukan sebagai teks untuk dicari arti dan maknanya. Metode ini mensaratkan adanya kemampuan untuk menafsirkan masa lamapau yang tidak dialami, kemudian dibawa kemasa sekarang.[48]

Karena keterbatasan inilah kemudian untuk memahami suratan kata-kata seseorang harus melalui pengkajian secara mendalam, melihat sejarah kelahiran dan perkembangannya, harus diakui bahwa peran hermeneutika yang paling besar adalah dalam bidang ilmu sejarah dan kritik teks.

Di lihat dari sudut pandang keislaman, ada beberapa persoalan terkait dengan hermenutika, yaitu: pertama, Istilah ini berasal dari tradisi pemikiran Barat, dan banyak umat Islam alergi dengan itu. Kedua, di dalam Islam sudah terdapat tradisi tafsir yang panjang yang sedemikian panjang sehingga menjadi pusaka pengetahuan yang diyakini tidak kalah dengan apa yang dikembangkan dalam tradisi lain. Ketiga, Al Qur’an sudah memberikan pengetian dan penjelasan yang jelas pada masing-masing ayat, sehingga pertanyaan bagaimana orang menangkap pesan yang terjandung dalam ayat, atau kalimat, tidak diperlukan. Dan keempat, hermeneunetik sudah berkembang sedemikian pesat, sehingga tidak hanya masalah aturan0aturan penafsiran, tetapi pembicaraan mendalam dan ungkapan kemanusiaan lainnya.[49]

Di sisi lain, ketakutan terhadap hermeneutik yang disebabkan kekhawatiran yang berlebihan bahwa aplikasi hermeneutik atas Al Qur’an akan menyebabkan hilangnya kesakralan kitab ini, sebenarnya dapat dijawab dengan mengatakan bahwa hermeneunetik tidak ada urusan dengan apakah Al Qur’an itu firman aau bukan. Hermeneutika hanya ingin mempertanyakan apakah pemahaman kita terhadap Al Qur’an sudah benar atau tidak. Jadi, kesakralan kita suci tidak terusik atau di usik dengan hermeneutika. Yang diusik adalah apakah pemahama kita mengenainya benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

Secara epistemis, terbukti bahwa kelahiran tafsir hermenutika tidak bisa dilepaskan dari sejarah Yahudi dan Kristen, ketika mereka dihadapkan pada pemalsuan kitab suci, dan monopoli penafsiran kitab suci oleh gereja. Dari sinilah mereka perlu melakukan dekonstruksi wahyu. Dengan teori linguistik, mereka susun tahap wahyu untuk menjustifikasi keabsahan tafsiran mereka, yang sama-sama bersumber dari wahyu, meski bukan wahyu verbal. Meski begitu, hermeneutika tetap tidak bisa menyelamatkan kitab suci mereka dari praktek pemalsuan, termasuk tidak lepas dari problem besar, hermeneutic circle.[50]

Realitas ini tidak dihadapi ummat Islam. Ummat Islam tidak pernah menghadapi problem seperti ummat Yahudi maupun Kristiani, baik menyangkut soal pemalsuan kitab suci maupun monopoli penafsiran. Di dalam Islam ada ilmu riwayat, yang tidak pernah disentuh oleh hermeneutika. Dengan ilmu ini, autentisitas al-Qur’an dan Hadits bisa dibuktikan.[51] Dengan ilmu ini, riwayat Ahad dan Mutawatir bisa diuji; dan dengannya, mana mushaf yang bisa disebut al-Qur’an dan tidak bisa dibuktikan. Dengannya, historitas tanzil, atau asbab an-nuzul -dan juga asbabul wurud- bisa dianalisis. Begitu juga, periodisasi tanzil, atau Makki dan Madani, bisa dirumuskan dengan bantuan ilmu tersebut. Dengannya juga, bisa disimpulkan, bahwa pembukuan al-Qur’an itu karena perintah Allah, bukan karena faktor sosial atau politik. Pengetahuan tersebut kemudian disistematikan oleh para ulama’ dalam kajian ‘Ulum al-Qur’an.[52]

Padahal, al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dengan menggunakan bahasa Arab untuk menjelaskan kepada ummat manusia, tentang apa saja ihwal kehidupan mereka. Kitab ini telah diturunkan secara mutawatir, dan tersimpan di antara dua ujung mushaf. Inilah anggapan -tepatnya realitas- yang melatarbelakangi lahirnya tafsir al-Qur’an sebagai kajian yang berusaha menjelaskan makna-makna yang digali dari lafadz-lafadz kitab suci tersebut.

 

  1. CARA KERJA HERMENEUTIK SEBAGAI METODE PENAFSIRAN

Dalam definisi-definisi hermeneutik hampir semuanya mempermasalahkan dan mengkaji ulang prinsip hermeneutik, yaitu masalah penafsiran seorang penafsir dalam  mendekati subyek. Bila terdapat berbagai macam rumusan pengertian mengenainya, maka hal itu lebih merupakan sebuah proses penyusunan suatu tatanan dalam merespon problem penafsiran yang dimunculkan oleh para penafsir. Jelasnya penafsiran merupakan problem hermeneutik karena tindakan penafsiran terhadap fenomena dan gejala alam atau terhadap segala ekspresi kehidupan manusia, berusaha mengungkap arti di balik gejala alam atau makna di belakang ungkapan komunikasi antar manusia yang tadinya tidak diketahui menjadi diketahui dan dimengerti adalah batasan umum yang dianggap benar, baik oleh hermeneutik klasik maupun modern.

Dalam The New Encyclopedia Britannica, dikatakan bahwa hermeneutika adalah studi tentang prinsip-prinsip umum dalam interpretasi Bible (hermeneutics is the study of the general principal of biblical interpretation). Tujuan dari hermeneutika adalah untuk menemukan kebenaran dan nilai-nilai dalam Bible. Dalam sejarah sebagaimana disitir M. Siddiq, ada empat model utama interpretasi Bible, yaitu: [53]

  1. literal interpretation
  2. Moral interpretation
  3. Allegorical (kiasan) interpretation
  4. Analogical interpretation

Dari model-model ini, yang menjadi arus utama sejak awal sejarah Kristen adalah model literal dan model alegoris. Intinya, ada banyak puspa ragam hermeneutika. ada tiga tipe hermeneutika, yaitu:

  1. Hermeneutika sebagai cara untuk memahami. Contoh tokohnya adalah Schleiermacher, Dilthey, dan Emilio Betti.
  2. Hermeneutika sebagai cara untuk memahami suatu pemahaman. Tokohnya semisal Heidegger (w. 1976) dan Gadamer.
  3. Hermeneutika sebagai cara untuk mengkritisi pemahaman. Tokohnya semisal Jacques Derrida, Habermas, dan Foucault.[54]

Mudjia Rahardjo dalam tulisannya menerangkan bahwa mempelajari herneneutik dan menggali makna yang terkandung dalam Al Qur’an, perlu mempertimbangkan horizon-horizon yang melingkupi teks tersebut, yaitu teks, pengarang (pembawa teks) dan pembaca teks. Dengan kata lain, sebagai sebuah metode penafsiran, hermeneutika sangat memperhatika 3 hal sebagai komponen pokok dalam upaya penafsiran, yakni teks, konteks kemudian melakukan kontektualisasi. [55]

Dengan demikian, untuk memperoleh pemahaman yang tepat terhadap suatu teks, keberadaan konteks diseputar teks tersebut tidak bisa dinafikan. Sebab, kontekslah yang menentukan makna teks, bagaimana teks tersebut harus di baca dan seberapa jauh teks tersebut harus dipahami. Teks yang sama dalam waktu yang sama dapat memiliki makna yang berbeda di mata “penafsir” yang berbeda. Bahkan seprang penafsir yang sama sekalipun dapat memberikan pemaknaan teks yang berbeda ketika ia berada dalam ruang waktu yang berbeda. Dan disinilah fokus hermeneutika sebagai metode penafsiran.

Dalam usaha menangkap dan mendapatkan pesan dari teks Allah berwujud dalam Al-Qur’an tentu saja mengandung problem karena keterbatasan bahasa, disamping karena jarak ang membentang antara pemilik teks dan zaman sekarang. Karena, setiap usaha menerjemahkan, menafsirkan, atau mencari pemahaman terhadap teks klasik yang berjarak waktu, budaya, tempat sangat jauh dengan pembacanya, selalu digelayuti problem hermeneutika (penafsiran). Dengan adanya problem penafsiran teks tersebut, maka ada sebuah teori filsafat yang digunakan menganalisis problem penafsiran, sehingga teks bisa dipahami secara benar dan komprehensif.

Hasan Hanafi juga mengajukan premis-premis metodis yang menjadi landasan filosofis bagi proses pembacaan atas teks suci. Ia menyatakan bahwa sebagaimana teks-teks lain, Qur’an juga harus menerima perlakuan yang sama karena ia menjadi obyek interpretasi yang sama dengan yang diperkenankan pada secular text.[56]

Ricouer sebagaimana disitir oleh Mudjia Rahardjo mengemukakan dengan panjang lebar tentang proses otonomi teks dengan beberapa sudut pandang tentang penafsir melalui 3 tahapan, yaitu:

Tahap pertama. Pre-undestanding, yiatu penafsir menghadapi teks dengan hipotesis tertentu, sebab menurut hermeunt tidak mungkin pembaca melakukan pembacaan yang sungguh murni, obyektif dan netral

Tahap kedua. Eksplanation, yaitu pengaitan-pengaitan secara vertikal antara teks dengan latar belakangnya juga secara horizontal antar teks dengan teks itu sendiri. Disinilah terjadi kontekstualisasi.

Tahap ketiga. Understanding, yaitu mengaitkan semua ini dengan konteks baru pembaca sendiri, dengan wawasan pribadinya.[57]

 

Kedati Ricoeur telah menawarkan gerak operasional langkah memahami teks lewat lingkaran hermeunetiknya sebagaimana tahapan di atas, hasil ahir dari penafsiran dipengaruhi oleh variabel berikut:

  1. Corak literatur yang dibaca dan konteks sosialnya;
  2. setting sosial dal peranan sosial terutana tentang agenda dan fokus masalah;
  3. latar elakang pendidikan dan disiplin ilmu yang dikuasai terutana saat melakukan proses interpretasi;
  4. pengalaman dan karakteristik personal, dan
  5. perubahan kondisi-kondisi politik, ekonomi, sosio kultural.

 

  1. ANALISIS

Sebagaimana telah penulis jelaskan di atas bahwa agar fungsi strategis al-Qur’an sebagai sumber pengetahuan dan petunjuk teraplikasikan sesuai dengan tuntutan zaman, maka al-Qur’an harus dipelajari dan diupayakan analisisnya secara komprehensif, syamil dan kamil. Untuk kebutuhan analisis dimaksud diperlukan adanya kerangka dasar yang relevan. Kerangka dasar tersebut terbentuk menjadi metodologi. Jadi, keberadaan sebuah metodologi dalam analisis ayat-ayat Al-Qur’an mutlak diperlukan.

Seiring dengan dinamika intelektual manusia beserta tantangan-tantangan yang dihadapi semakin kompleks, maka perkembangan metodologi analisis al-Qur’an merupakan suatu keniscayaan. Sebuah metodologi boleh jadi akan dirasakan usang oleh si pemakainya, sehingga akan diusahakan mendapatkan yang baru. Proses pencarian ini akan akan bermuara pada perumusan metodologi baru dan akhirnya pembaruan pun tidak mungkin dihindari. Dalam hal ini hermeneutika merupakan metodologi baru yang sedang aktual dibicarakan oleh para ahli.

Kehadiran hermeneutika dalam kejian tafsir al-Qur’an pada hakikatnya adalah sebuah tawaran baru yang berasal dari para ilmuan metodologi kontemporer dari berbagai displin ilmiah. Sebagai sebuah tawaran baru, tidak serta merta hermeneutika ini harus diadopsi atau ditolak mentah-mentah. Pemahaman yang serius, upaya trial and error, dan evaluasi yang berkesinambungan kiranya perlu dilakukan sebelum kemudian diputuskan apakah hermeneutika akan menggantikan Ulumul Qur’an ataukah ditolak seratus persen, atau sekedar menambah variable metodologi dalam Ulumul Qur’an yang selama ini telah established.

Para pemerhati baik para ahli yang pro-hermeneutika maupun yang anti-hermeneutika memiliki hak untuk memperjuangkan kebenaran yang mereka yakini, meskipun tentunya ketika perjuangan tersebut memasuki ruang publik, ada aturan-aturan tertentu yang harus dipatuhi, agar tidak terjadi hegemoni, diskriminasi maupun prilaku-prilaku tidak adil lainnya yang dilakukan oleh salah satu pihak. Karena diskusi hermeneutika pada hakikatnya merupakan wacana ilmiah-filosofis, penerimaan dan penolakan terhadap hermeneutika seharusnya didasarkan kepada argumen-argumen yang ilmiah dan bukannya kepada apologi-apologi serta asumsi-asumsi yang tidak perlu, seperti kecurigaan dan ketakukan tanpa dasar terhadap yang lain, maupun sentimentalisme emosional untuk memihak atau menjatuhkan pandangan tertentu.

Semestinya, umat Islam tidak menunjukkan sikap ekstrim dalam menyikapi setiap gagasan baru, baik bersikap latah untuk menerima atau menolaknya. Yang diperlukan adalah sikap kritis. Sikap inilah yang telah ditunjukkan oleh para ulama Islam terdahulu, sehingga mereka mampu menjawab setiap tantangan zaman, tanpa kehilangan jatidiri pemikiran Islam itu sendiri.

Apalagi, di kalangan umat Islam, mulai muncul gejala umum yang mengkhawatirkan, yakni mudahnya mengambil dan meniru metodologi pemahaman al-Quran dan al-Sunnah yang berasal dari pemikiran dan peradaban asing. Gerakan ‘impor pemikiran’ semakin gencar dilakukan, terutama oleh kalangan yang menggeluti Islamic Studies. Sayangnya, tidak banyak yang memiliki sikap ‘teliti sebelum membeli’ gagasan-gagasan impor yang sebenarnya bertolak-belakang dengan dan berpotensi menggerogoti sendi-sendi akidah seorang Muslim.

Salah satu produk asing tersebut adalah “hermeneutika”, yang menurut pendukungnya bertujuan antara lain mencari dan merumuskan sebuah ‘hermeneutika al-Qur’an’ yang relevan untuk konteks umat Islam di era globalisasi umumnya dan di Indonesia khususnya.

Terlanjur gandrung pada segala yang baru dan Barat, sejumlah cendekiawan yang nota bene Muslim itu menganggap hermeneutika bebas-nilai alias netral. Bagi mereka, hermeneutika dapat memperkaya dan dijadikan alternatif pengganti metode tafsir tradisional yang dituduh ‘a historis’ (mengabaikan konteks sejarah) dan ‘un critical’ (tidak kritis). Kalangan ini tidak menyadari bahwa hermeneutika sesungguhnya sarat dengan asumsi-asumsi dan implikasi teologis, filosofis, epistemologis dan metodologis yang timbul dalam konteks keberagamaan dan pengalaman sejarah Yahudi dan Kristen.

Dari penjelasan sebagaimana teruraikan di atas, penulis berasumsi bahwa hermeneutika jelas tidak bebas-nilai. Ia mengandung sejumlah asumsi dan konsekuensi. Pertama, hermeneutika menganggap semua teks adalah sama, semuanya merupakan karya manusia atau campur tangan manusia dalam pembuatannya. Asumsi ini lahir dari kekecewaan mereka terhadap Bible. Teks yang semula dianggap suci itu belakangan diragukan keasliannya. Campur-tangan manusia dalam Perjanjian Lama (Torah) dan Perjanjian Baru (Gospels) ternyata didapati jauh lebih banyak ketimbang apa yang sebenarnya diwahyukan Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Isa A.S. Bila diterapkan pada al-Qur’an, hermeneutika otomatis akan menolak status al-Qur‘an sebagai Kalamullah, mempertanyakan otentisitasnya, dan menggugat ke-mutawatir-an mushaf Usmani yang telah kokoh dari abad ke abad lamanya.

Kedua, hermeneutika menganggap setiap teks sebagai ‘produk sejarah’, (hali ini diwakili oleh salah satunya oleh Nasr Hamid Abu Zayd) sebuah asumsi yang sangat tepat dalam kasus Bible, mengingat sejarahnya yang amat problematik. Hal ini tidak berlaku untuk al-Qur’an, yang kebenarannya melintasi batas-batas ruang dan waktu (trans-historical) dan pesan-pesannya ditujukan kepada seluruh umat manusia.

Ketiga, praktisi hermeneutika dituntut untuk bersikap skeptis, selalu meragukan kebenaran dari manapun datangnya, dan terus terperangkap dalam apa yang disebut sebagai ‘lingkaran hermeneutis’, dimana makna senantiasa berubah. Sikap semacam ini hanya sesuai untuk Bibel, yang telah mengalami gonta-ganti bahasa (dari Hebrew dan Syriac ke Greek, lalu Latin) dan memuat banyak perubahan serta kesalahan redaksi. Tetapi tidak untuk al-Qur’an yang jelas kesahihan proses transmisinya dari zaman ke zaman.

Keempat, hermeneutika menghendaki pelakunya untuk menganut relativisme epistemologis. Tidak ada tafsir yang mutlak benar, semuanya relatif. Yang benar menurut seseorang, boleh jadi salah menurut orang lain. Kebenaran terikat dan bergantung pada konteks (zaman dan tempat) tertentu. Selain mengaburkan dan menolak kebenaran, faham ini juga akan melahirkan mufassir-mufassir palsu dan pemikir-pemikir yang tidak terkendali (liar).

Perkembangan tafsir pada saat ini masih lebih bersifat “teoritis” dan teosentris, belum banyak bicara tentang problem-problem umat Islam, apalagi soal-soal kemanusiaan dan ketertindasan. Inilah tantangan tafsir dimasa depan, sehingga al-Qur`an benar-benar mampu menjadi rahmah (membawa perubahan dan kebaikan), bukan sekedar hudan (petunjuk-petunjuk teoris setelah dipelajari), apalagi syifâ’.

  1. PENUTUP

Sebagai kesimpulan, Tafsir, ta’wil maupun hermeneutika berupaya untuk memahami teks Al Qur’an yang sampai saat ini dan seterusnya masih di anggap skaral dan otentitasnya masih belum ada yan mampu menggoyahkan. Yang menjadi kecurigaan, keraguan bahkan ketakutan, adalah dengan munculnya suatu metode baru yang mencoba ditawarkan oleh beberapa ilmuwan Islam sendiri denga berbagai variannya diantaranya Mohammad Arkoun, Hasan Hanafi, Muhammad Syahrur, Nasr Hamid Abu Zayd, dan Farid Esack adalah metode hermeneutik sebagai slah satu cara untuk memahami teks Al Qur’an. Yang menjadi masalahnya adalah penerapan hermeneutika terhadap teks Al Qur’an dipahami akan menngganti bangunan penafsiran yang selama ini mapan, yakni tafsir dan ta’wil. Pada tahap berikutnya timbul kebingungan antara menerima dan menolah metode baru itu.

Bila hermeneutik dipresepsi akan memperkokoh konstruk pemikiran tentang metode penafsiran selama ini, maka ia adalah anugerah dan pintu untuknya sangat terbuka. Namun jika tidak, maka malapetaka yang akan didapat. Di sisi lain, untuk mencapai penafsiran yang pariurna, ilmu tafsir mau tidak mau akan memcoba “berbagi” dengan hermenutika untuk memasuk bidang kajiannya.

Ketika hermeneutika masuk dalam kajian ilmu tafsir inilah, terjadi pertanyaan mendasar yang pada ahirnya akan menimbulkan pro dan kontra dikalangan kaum Muslim yang perlu dituntaskan, diantaranya sebatas apa hermeneutika dapat digunakan? Pada bidang seperti apa dan bagaimana cara menerapkannya? Jika pertanyaan ini dapat terjawab, maka hermeneutik dapat disandingkan dengan kedua metode penafsiran yang sudah mapan lain yaitu tafsir dan ta’wil.

Karena itu, sebagaimana pandangan Quraish Shihab, bahwa melihat permasalahan tentang metode penafsiran dan perkembangan teknologi, dimana dibutuhkan pemahaman bahasa (teks) dengan segala cabang-cabangnya serta berbagai disiplin ilmu yang lain, maka sudah pada tempatnya jika pemahaman dan penafsiran Al Qur’an tidak hanya dimonopoli oleh sekelompok orang atau seorang ahli dalam satu bidang tertentu, tetapi berupaya bersama-sama dari berbagai disiplin ilmu untuk memaknai ulang teks Al qur’an sesuai dengan zaman wa al makan sekarang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

 

 

Al Dazhabi, Muhammad Husain. 2000. Al Tafsir wa Al Mufassiruun Juz I. Mesir: Maktabah Wahbah. Cet. Ke-7.

Al Qathan, Manna’ Khalil. 2001. Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an diterjemahkan Mudzakir AS., Jakarta: Pustaka Litera Antar Nusa. Cet. Ke-6.

Al Shabuni, Muhammad Ali. 1995. Al Tibyan Fi ‘ulum Al Qur’an. Beirut: ‘Alam Al Kitab

Al Siddiqiey, M. Hasbi. 1972. Ilmu-ILmu Al Qur’an: Media-Media Pokok dalam Menafsirkan Al Qur’an. Jakarta: Bulan Bintang.

Al Suyuti, Jalaluddin .1399 H. Al Itqaan fi ‘Ulum Al Qur’an Juz II.  Beirut: Dar Al Fiki.

Al Syirbashi, Ahmad. 1994. Sejarah Tafsir Al Qur’an, Terj. Tim Pustaka Firdaus. T.Tp.  Pustaka Firdaus

Al Zarakasyi, Imam Badr Ad Din Muhammad bin Abdullah 1988. Al Burhan fi ‘Ulum Al Qur’an. Beirut: Dar Al Fikr

Al-Dzahabi, Muhammad Husain. t.th . Ilmu At-Tafsir. Kairo: Dar Al-Ma’arif

Al-Jawi, M. Shiddiq“Hermeneutika Al-Qur’an: Keniscayaan Atau Kenistaan?”,  dalam http://www. khilafah1924.org,

Al-Qattan, Manna Khalil .2002. Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an. Mesir: Maktabah Wahbah. Cet. Ke-12.

Al-Zarqany. Muhammad Abdul Azhim. 1995. Manahilul ‘Irfan fî ‘Ulum Al-Quran. Juz  II. Beirut: Dar Al-Kitab Al-’Araby

Baidhan, Nashruddin. 2005. Wawasan Baru Ilmu Tafsir. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Cet. I.

Daud, Wan Mohd Nor Wan“Tafsir Bukanlah Hermeneutika,” http:// http://www.kalam-upi.info/forum/index.php?

Esack, Farid. 2006. Menghidupkan Al Qur’an Dalam Wacana dan Waktu, Penj. Norman Arbi’a Juli Setiawan .Depok, Inisiasi Press

Faiz, Fachruddin. 2002. Hermeneutika Qur’ani: Antara Teks, Konteks dan Kontekstualisasi. Yogyakarta: Qalam

Hanafi, Hasan. 1989. Al-Yamin wa Al Yasar Fi Al-Fikr Al-Diniy. Mesir: Madbuliy

Machasin, 2003. Sumbangan Hermeneutik terhadap Ilmu Tafsir, dalam Gerbang : Jurnal Studi Agama dan Demokrasi, No. 14. Vol V. Surabaya : eLSAD

Munawwir, A.W. t.th. Kamus Al Munawwir Arab – Indonesia. Yogyakarta: Pesantren Al Munawwir

Nawawi, Rifa’at Syauqi. 2002. Rasionalitas Tafsir Muhammad Abduh: Kajian Masalah Akidah dan Ibadah. Jakarta: PARAMADINA

Rahardjo, Mudjia Mengenal (kembali) Hermeneutika: Sebuah Metode Memahami Teks dalam El Jadid: Jurnal Ilmu Pengetahuan Islam Program Pascasarjana UIIS Malang , Vol. 1 No.01 Mei-Oktober 2003.

Ricoeur, Paul. 1981.  Hermeneutics & the Human Sciences: Essays on Language, Action and Interpretation. USA: Cambridge Univercity Press

Saidi, Asep Iwan. 2008. Hermeneutika, Sebuah Cara Untuk Memahami Teks dalam Jurnal Sosioteknologi Edisi 13 tahun 07

Shihab, M. Quraish . 1999. Membumikan Al Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung, Mizan. Cet. XX

Suharto, Ugi. “Apakah al-Qur’an Memerlukan Hermeneutika?,” dalam http:// hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=696&Itemid=60

Suryadilaga, M. Alfatih et. al., 2005. Metodologi Ilmu Tafsir . Yogyakarta: Teras Suryadilaga

Syahrur, Muhammad. 2004. Prinsip dan Dasar Hermeneutika Al Qur’an KOntemporer, Penj. Syahiron Syamsuddin dan Burhanuddin Dzikri. Yogyakarta: eLSAQ  Press

Syamsuddin, Syahiron dkk. 2003. Hermeneutika Al Qur’an Mazhab Yogya. Yogyakarta: Islamika.

Tim Penyusun, t.th. Kamaus Besar Bahasa Indonesia, Cet. Ke-1. Jakarta: Balai Pustaka

Zayd, Nasr Hamid Abu. 1994. Mafhum al-Nash, Dirasah fi Ulum al-Qur’an. Beirut: Al-Markaz al-Saqafi al-‘Araby.

 

[1]  Hasan Hanafi, Al-Yamin wa Al Yasar Fi Al-Fikr Al-Diniy, (Mesir: Madbuliy, 1989). Hal. 77

[2]  Muhammad Ali Al Shabuni, At Tibyan Fi ‘ulum Al Qur’an, (Beirut: ‘Alam Al Kitab, 1995). Hal. 63

[3]  Manna Khalil al-Qattan, Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an, (Mesir: Maktabah Wahbah, 2002). Cet. Ke-12. Hlm. 312. Lihat juga dalam Manna’ Al Qathan. Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an diterjemahkan Mudzakir AS., (Jakarta: Pustaka Litera Antar Nusa, 2001), Cet. Ke-6. Hlm.  455.

[4]  M. Quraish Shihab, Membumikan Al Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung, MIzan: 1999). Cet. XX. Hlm. 75

[5]  Muhammad Husain Al Dazhabi, Al Tafsir wa Al Mufassiruun Juz I, (Mesir: Maktabah Wahbah, 2000), Cet. Ke-7. Hlm. 30.

[6] M. Quraish Shihab, Membumikan Al Qur’an … OP. Cit. Hlm. 76

[7]  Al Shabuni, Al Tibyan … Op. Cit., Hlm. 65

[8] Jalaluddin Al Suyuti, Al Itqaan fi ‘Ulum Al Qur’an Juz II, (Beirut: Dar Al Fikr: 1399 H), Hal. 173

[9] Manna’ Al Qathan, Mabahits fi ‘Ulum Al Qur’an… Hal. 312

[10]  Muhammad Husain adz-Dzahabi. Op. Cit. Hal. 12.

[11]  A.W. Munawwir, Kamus Al Munawwir Arab – Indonesia, (Yogyakarta: Pesantren Al Munawwir, t.th) Hlm. 1134

[12]  Tim Penyusun, Kmaus Besar Bahasa Indonesia, Cet. Ke-1, (Jakarta: Balai Pustaka, t.th). Hlm. 822.

[13] Imam Badr Ad Din Muhammad bin Abdullah Al Zarakasyi, Al Burhan fi ‘Ulum Al Qur’an, (Beirut: Dar Al Fikr , 1988). Hlm. 163-164

[14] Muhammad Husain Adz-Dzahabi.‘Ilmu At-Tafsir. (Kairo: Dar Al-Ma’arif, t.th). hal. 6

[15] Muhammad Abdul Azhim Az-Zarqany. Manahilul ‘Irfan fî ‘Ulum Al-Quran. Juz  II. (Beirut: Dâr Al-Kitâb Al-’Araby, 1995). Hal. 6

[16]  Manna’ Al Qathan, Mabahits… Op.Cit. Hlm. 317.

[17]  Ahmad Al Syirbashi, Sejarah Tafsir Al Qur’an, Terj. Tim Pustaka  Firdaus. (T.Tp.  Pustaka Firdaus, 1994). Hlm. 05

[18] Seperangkat imu itulah yang kemudian disebut Ilmu Tafsir. Ilmu ini terdiri dari berbagai cabang lmu yang berhubungan dengan penafsiran Al Qur’an, mulai dari sejarah turunnya Al Qur’an, sebab-sebab turunnya, qira’at, kaidah-kaidah tafsir, syarat-syarat mufassir, bentuk penafsiran, metodologi tafsir, corak penafsiran dan sebagainya. Lihat dalam Nashruddin Baidhan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), Cet. I. Hlm. 67

[19]  M. Hasbi AS Siddiqiey, Ilmu-ILmu Al Qur’an: Media-Media Pokok dalam Menafsirkan Al Qur’an, (Jakarta: Bulan Bintangm 1972). Hal. 208.

[20] Tafsir bi Al Ma’tsur menurut M. Qurais Shihab merupakan model penafsirann yang dilakukan dan dikembangkan dari gabungan tiga sumber masa, yaitu masa Rasulullah sendiri, masa penafsiran para sahabat-sahabat, dan masa penafsiran tabi’in yang berakhir sekitar tahun 150 H. Lihat dalam M. Quraish Shihab, Membumikan Al Qur’an … OP. Cit. Hlm. 71.

[21]  Ibid., Hlm. 73

[22] M. Quraish Shihab, Op. Cit. Hlm. 84. Lebih lanjut, Quraish Shihab menyatakan bahwa mereka mengandalkah bahasa, serta mengandalkan ketelitiannya adalah hal yang wajar. Karena di samping penguasaan mereka dan rasa bahasa mereka masih baik, juga mereka ingin membuktikan kemukjizatan Al Qur’an dari sisi kebahasaannya. Namun, membuktikan kemukjizatan itu untuk masa kini, agaknya sangat sulit, karena orang-orang dimana turunnya Wahtu sendiri sudah kehilangan kemampuan dan rasa bahasa itu.

[23] Rifa’at Syauqi Nawawi, Rasionalitas Tafsir Muhammad Abduh: Kajian Masalah Akidah dan Ibadah, ((Jakarta: PARAMADINA, 2002) Hlm. 87-88

[24]  Farid Esack, Menghidupkan Al Qyr’an Dalam Wacana dan Waktu, Penj. Norman Arbi’a Juli Setiawan ( Depok, Inisiasi Press, 2006) Hlm. 177

[25] Memang pada awalnya, masa Al salaf Al Awwal, Ulama’ enggan menggunakan ta’wil, atau memberi arti metaforis bagi teks-teks keagamaan. Imam Malik ( w. 795 M), misalnya, enggan membenarkan seseorang orang berkata “langit menurunkan hujan”. Harus diyakini bahwa sesungguhnya yang menurunkan hujan adalah Allah. Keengganan menggunakan ta’wil ini menurut sebagian ulama salaf menduga bahwa batu adalah mahluk hidup yang berakal, berdasarkan firman Allah dalam Q.S. Al Baqarah: 74, juga ada yang menduga bahwa Allah mengutus Nabi-Nabi pada lebah berdasarkan Q.S. 16: 68. lihat dalam Qurais Shihab, O. Cit. Hlm. 97.

[26] Manna’ Al Qathan, Mabahits … Op. Cit. Hlm. 317

[27]  Al Shabuni, Al Itqaan … Op. Cit. Hlm. 66. lihat juga dalam Al Dzahabi, Al Tafsir Wa al Mufassiruun… Op. Cit. Hlm. 14

[28]  Lihat dalam Al Dzahabi, Tafsir wa Al Mufassirun, Op. Cit. Hlm. 15. lihat juga dalam Lihat Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Ilmu-ilmu al-Qur’an, (Semarang: Pustaka Rizki Utama, 2002). Hlm. 210. Ash-Shiddieqy lebih lanjut mengutip apa yang dikatakan Mujahid bahwasannya para ulama mengetahui ta’wil al-Qur’an, yakni tafsirnya. Ibnu Jarir pun mengunakan kata ta’wil dalam arti tafsir.

[29]  Kaum atau golongan mutaakhirun adalah mereka yang dari golongan ahli fiqih, ahli kalam, kalam dan tasawwuf.

[30] Adz-Dzahabi, Loc. Cit., Hal. 15. Menurut Manna’ Al Qattan definisi ta’wil yang diberikan oleh ulama kontemporer (mutaakhirin) cenderung berbeda dengan lafadz ta’wil dalam al-Qur’an menurut versi salaf. Lihat Qattan, Mabahits… Op. Cit.  Hal. 318-319.

[31] Manna Khalil Al Qatthan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, (Jakarta: PT. Litera Antar Nusa, 2002). Cet. Ke-6. Hlm. 3

[32] Ibid., Hlm. 4

[33]Ibid., Hlm. 7

[34] M. Quraish Shihab. Op. Cit., Hlm. 98-99

[35]  Amin Abdullah dalam sebuah pengantarnya dalam Syahiron Syamsuddin, dkk. Hermeneutika Al Qur’an: Mazhab Yogya, (Yogyakarta: Islamika, 2003) Hlm. xxi

[36] Muhammad Syahrur, Prinsip dan Dasar Hermeneutika Al Qur’an KOntemporer, Penj. Syahiron Syamsuddin dan Burhanuddin Dzikri, (YogyakartaL eLSAQ  Press, 2004). Hlm. 251.

[37]  M. Alfatih Suryadilaga, et. al., Metodologi Ilmu Tafsir  (Yogyakarta: Teras Suryadilaga, 2005), 29.

[38] Nasr Abu Zayd, Mafhum al-Nash, Dirasah fi Ulum al-Qur’an (Beirut: Al-Markaz al-Saqafi al-‘Araby, 1994), 252-267.

[39] Al Dzahabi, Tafsir Wal Mufassirun. Op. Cit. Hlm. 16-17

[40]Muzairi, “Hermeneutik dalam Pemikiran Islam,” dalam Sahiron Syamsuddin (ed) et.al., Hermeneutika Al-Qur’an Mazhab Yogya , Cet. I; (Yogyakarta: Penerbit ISLAMIKA, 2003) Hlm. 54

[41] Muzairi, Ibid. Hlm. 53.

[42] Paul Ricoeur, Hermeneutics & The Human Sciences: Essays on Language, Action and Interpretation (USA: Cambridge Univercity Press, 1981)Hlm. 43

[43]  Asep Iwan Saidi, Hermeneutika, Sebuah Cara Untuk Memahami Teks dalam Jurnal Sosioteknologi Edisi 13 tahun 07, Maret 2008

[44]  Paul Ricour, Op. Cit. Hlm. 133

[45] Paul Ricour, Ibid., Hlm. 165

[46]Asep Iwan Saidi, Hermeneutika, Sebuah Cara Untuk Memahami Teks dalam Jurnal Sosioteknologi Edisi 13 tahun 07, Maret 2008

[47]  Mudjia Rahardjo, Mengenal (kembali) Hermeneutika: Sebuah Metode Memahami Teks dalam El Jadid: Jurnal Ilmu Pengetahuan Islam Program Pascasarjana UIIS Malang , Vol. 1 No.01 Mei-Oktober 2003. Hlm. 18

[48]  Fachruddin Faiz , Hermeneutika Qur’ani: Antara Teks, Konteks dan Kontekstualisasi. ( Yogyakarta: Qalam, 2002). Hlm. 09

[49]  Machasin, Sumbangan Hermeneutik terhadap Ilmu Tafsir, dalam Gerbang : Jurnal Studi Agama dan Demokrasi, No. 14. Vol V. (Surabaya : eLSAD, 2003) Hlm. 122

[50] Lebih jauh Ugi menjelaskan bahwa tujuan utama hermeneutika adalah untuk mencari “nilai kebenaran Bible”, lihat Ugi Suharto, “Apakah al-Qur’an Memerlukan Hermeneutika?,” dalam http:// hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=696&Itemid=60

[51] Ini pula yang dalam pandangan Wan Mohd Nor Wan Daud menunjukkan perbedaan antara ‘Ulum al-Tafsir dengan hermeneutik atau ilmu penafsiran kitab-kitab Yunani, Kristen atau tradisi agama lain. Lebih jauh WanDaud menjelaskan dasar yang sangat fundamental dari perbedaan-perbedaan itu terletak pada konsepsi tentang sifat dan otoritas teks serta keotentikan dan kepermanenan bahasa dan pengertian kitab suci itu. Lihat Wan Mohd Nor Wan Daud, “Tafsir Bukanlah Hermeneutika,” http:// http://www.kalam-upi.info/forum/index.php?

[52] Suharto, Op. Cit.

[53] M. Shiddiq Al-Jawi, “Hermeneutika Al-Qur’an: Keniscayaan Atau Kenistaan?”,  dalam http://www. khilafah1924.org,

[54] Ibid.

[55]  Mudjia Rahardjo. Op. Cit. Hlm. 19

[56] A. Zainul Hamdi, “Hermeneutika Islam,” Jurnal Gerbang, No. 14 Vol. V (2003) Hlm. 48.

[57]  Mudjia Rahardjo, Ibid. Hlm. 23

Iklan

Responses

  1. gagal faham ni, anata ta’wil dan hermenuetika


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: