Oleh: Admin | 1 Mei 2017

Pengembangan Kurikulum Berbasis Integrasi Sains dan Agama


Pengembangan Kurikulum Berbasis Integrasi

Sains dan Agama

 

Oleh: Ali Rif’an

 

  1. PENDAHULUAN

Pemikiran tentang integrasi atau Islamisasi ilmu pengetahuan dewasa ini yang dilakukan oleh kalangan intelektual Muslim, tidak lepas dari kesadaran beragama. Secara totalitas ditengah ramainya dunia global yang sarat dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan sebuah konsep bahwa ummat Islam akan maju dapat menyusul menyamai orang-orang Barat apabila mampu menstransformasikan dan menyerap secara aktual terhadap ilmu pengetahuan dalam rangka memahami wahyu, atau mampu memahami wahyu dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.[1] Hal ini dapat dilakukan dengan salah satunya adalah dalam muatan dan pengembangan kurikulumnya.

Pengembangan kurikulum merupakan istilah yang komprehensif, didalamnya mencakup perencanaan, penerapan dan evaluasi. Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum, dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di suatu lembaga pendidikan sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan kurikulum yang digunakan di lembaga pendidikan lainnya, sehingga akan ditemukan banyak sekali prinsip-prinsip yang digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum.

Konsep Integrasi kurikulum merupakan sebuah tawaran epistologis sekaligus metodologis untuk membawa peserta didik kepada keseimbangan dan kesadaran akan eksistensi dirinya sebagai ‘abdullah dan khalifatullah di satu sisi dan perkembangan IPTEK di sisi lain.

Atas dasar hal di atas, maka dalam penulisan makalah ini akan lebih ditekankan pada bagaimana konsep dasar pengembangan kurikulum PAI yang berbasis pada integrasi sains dan Islam sebagai sebuah tawaran dalam pengembangan kurikulum.

 

  1. PEMBAHASAN
    1. Pengembangan Kurikulum : Makna dan Prinsip-Prinsipnya

Kata “kurikulum” berasal dari bahasa Latin, a little racecaurse (suatu jarak yang ditempuh), yang kemudian dialihkan ke dalam pengertian pendidikan menjadi circle of instruction yaitu suatu lingkaran pengajaran, di mana guru dan murid terlibat di dalamnya.[2] Sedangkan Al-Khauly dalam Muhaimin menjelaskan bahwa kurikulum (al-Manhaj) sebagai seperangkat rencana dan media untuk mengantarkan lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang diinginkan.[3] Kurikulum Menurut Omar Hamalik adalah program pendidikan yang disediakan oleh lembaga pendidikan (sekolah) bagi siswa.[4] Kurikulum juga dimaknai dengan semua pengetahuan, kegiatan-kegiatan, atau pengalaman belajar yang deprogram secara sistematis metodis yang diterima anak untuk mencapai tujuan. [5] Sedangkan kurikulum yang tertuang dalam UU Sisdiknas pasal 1 butir 19 adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.[6] Karena itu, kurikulum bukan sebagai tujuan akhir, kurikulum hanyalah alat atau instrumen untuk mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran yang ditetapkan.

Kurikulum merupakan konsep studi yang luas. Banyak teori tentang kurikulum. Secara sederhana teori kurikulum dapat diklasifikasikan atas teori-teori  yang lebih menekankan pada isi kurikulum, pada situasi pendidikan serta pada organisasi kurikulum.[7] Audrey & S. Howard Nicholls mengemukakan bahwa pengembangan kurikulum adalah “the planning of learning opportunities intended to bring about certain desered in pupils, and assesment of the extent to wich these changes have taken pleace”.[8] Dari definisi tersebut, dapat dipahami bahwa pengembangan kurikulum adalah perencanaan kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membawa peserta didik ke arah perubahan ynag diinginkan dan menilau sebatas mana perubahan itu telah terjadi pada diri siswa. Karena itulah, pengembangan kurikulum adalah proses siklus, yang tidak pernah berahir yang terdiri dari 4 unsur mendasar, yaitu: 1). Tujuan pembelajaran atau kurikulum secara meneluruh; 2). Metode dan material untuk mencapai tujuan, 3). Penilaian (assesment) terhadap aktifitas yang dilakukan, serta 4). Balikan (feedback) sebagai titik tolak bagi studi selanjutnya.[9]

Pandangan lain bahwa pengembangan kurikulum merupakan proses perencanaan kurikulum agar menghasilkan rencana kurikulum yang luas dan spesifik. Proses ini berhubungan dengan seleksi dan pengorganisasian berbagai komponen situasi belajar mengajar yang meliputi penetapan jadwal pengorganisasian kurikulum dan spesifikasi tujuan, kegiatan, sumber dan alat pengkuran pengembangan kurikulum.[10] Atas dasar hal di atas, pengembangan kurikulum dapat diartikan sebagai: (1). kegiatan menghasilkan kurikulum; atau (2) proses mengaitkan suatu komponen dengan yang lainnya untuk menghasilkan kurikulum yang lebih baik dan/atau (3) kegiatan penyusunan (desain), pelaksanaan, penilaian dan penyempurnaan kurikulum.

Dalam mengembangkan kurikulum ini, ada beberapa prinsip yang harus dijadikan sebagai acuannya. Sukmadinata membaginya menjadi 2 bagian, yakni, prinsip umum dan prinsip khusus. [11] Secara umum meliputi: 1). prinsip relevansi; 2). Prinsip fleksibilitas; 3). Prinsip kontinuitas, 4). Prinsip praktis; 5). Prinsip efektivitas; 6). Prinsip efisiensi dan 7). Prinsip integratif. Prinsip integratif ini meliputi multidisipliner, intra-disipliner atau interdisipliner. Sedangkan prinsip khusus  adalah prinsip yang terkait dengan sejumlah komponen dari kurikulum itu sendiri, yakni 1). tujuan, 2). isi atau bahan pengajaran, 3). metode pembelajaran, 4). media dan alat pembelajaran serta 5). kegiatan evaluasi pembelajaran.

 

  1. Model Relasi Sains dan Agama

Konsep  ilmu-ilmu  ke-Islam-an,  oleh  beberapa  pemikir Muslim  juga  biasa disebut dengan  “sains  Islam”.  Ketika mencoba menjawab pertanyaan:  mengapa sains Islam, Nasim Butt mengatakan bahwa  jika sains memang sarat nilai dengan komponen penting yang bersifat subjektif (juga objektif), maka tentunya ia bisa dikembangkan melalui selera dan penekanan kultural yang khas. Artinya, di dalam sebuah masyarakat Islam, nilai yang membentuk upaya sains dan teknologi haruslah nilai Islami, yang dalam istilah singkatnya disebut sebagai konsep sains Islam.[12]

Untuk  memberikan  pemahaman  yang  memadai  tentang  konsep  integrasi keilmuan,  yang  pertama-tama  perlu  dilakukan  adalah  memahami  konteks  munculnya ide  integrasi  keilmuan  tersebut. Bahwa  selama  ini  di  kalangan umat  Islam  terjadi  suatu pandangan  dan  sikap  yang  membedakan  antara  ilmu-ilmu  ke-Islam-an  di  satu  sisi, dengan  ilmu-ilmu  umum  di  sisi  lain.  Ada perlakukan diskriminatif terhadap  dua  jenis ilmu  tersebut.  Umat  Islam  seolah  terbelah  antara  mereka  yang  berpandangan  positif terhadap  ilmu-ilmu  ke-Islam-an  sambil  memandang  negatif  yang  lainnya,  dan  mereka yang  berpandangan  positif  terhadap  disiplin  ilmu-ilmu  umum  sembari  memandang negatif  terhadap  ilmu-ilmu  ke-Islam-an.

Dari  konteks  yang  melatari  munculnya  ide  integrasi  keilmuan  tersebut,  maka integrasi  keilmuan  pertama-tama  dapat  dipahami  sebagai  upaya  membangun  suatu pandangan dan sikap yang positif  terhadap kedua  jenis  ilmu yang sekarang berkemba di  dunia  Islam.  M.  Amir Ali sebagaimana dikutip Nasim Butt kemudian memberikan pengertian integrasi keilmuan Integration of sciences means the recognition that all true knowledge is from Allah all sciences should be treated with equal respect whether it is scientific or revealed.[13]

Kata  kunci  konsepsi  integrasi  keilmuan  berangkat  dari  premis  bahwa  semua pengetahuan  yang  benar  berasal  dari Allah (all  true  knowledge  is  from Allah). Dalam pengertian yang lain, M.  Amir  Ali  juga  menggunakan  istilah  all  correct  theories  are from Allah and  false  theories are  from men  themselves or  inspired by Satan.[14] Dengan pengertian  yang  hampir  sama  Usman  Hassan  menggunakan  istilah “knowledge  is  the light that comes from Allah “.[15]

Konsep  integrasi  keilmuan  juga  berangkat  dari  doktrin  keesaan Allah (tauhid), sebagaimana  dikemukakan  oleh  Seyyed  Hossein  Nasr,  the  arts  and  sciences  in  Islam are based on  the  idea of unity, which  is  the heart of  the Muslim revelation.[16] Doktrin keesaan  Tuhan,  atau  iman  dalam  pandangan  Isma’il  Razi  al  Faruqi,  bukanlah  semata-mata  suatu  kategori  etika.  Ia  adalah  suatu  kategori  kognitif  yang  berhubungan  dengan pengetahuan,  dengan  kebenaran  proposisi-proposisinya.

Kontribusi Barbour untuk menjelaskan bagaimana model hubungan ilmu dan agama adalah empat tipologinya yang mengkategorikan relasi sains dan agama sebagai berikut: [17]

  1. Model Konflik.

Pertentangan antara kaum agamawan dan ilmuwan di Eropa ini disebabkan oleh sikap radikal kaum agamawan Kristen yang hanya mengakui kebenaran dan kesucian Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sehingga siapa saja yang mengingkarinya dianggap kafir dan berhak mendapatkan hukuman. Di lain pihak, para ilmuwan mengadakan penyelidikan-penyelidikan ilmiah yang hasilnya bertentangan dengan kepercayaan yang dianut oleh pihak gereja (kaum agamawan). Akibatnya, tidak sedikit ilmuwan yang menjadi korban dari hasil penemuan oleh penindasan dan kekejaman dari pihak gereja.[18]

Identifikasinya adalah bahwa yang riil yaitu dapat diukur dan dirumuskan dengan hubungan matematis. Mereka juga berasumsi bahwa metode ilmiah merupakan satu-satunya sumber pengetahuan yang dapat dipercaya dan dipaham. Pada akhirnya, penganut paham ini cenderung memaksakan otoritas sains ke bidang-bidang di luar sains. Sedangkan agama, bagi kalangan saintis barat dianggap subyektif, tertutup dan sangat sulit berubah. Keyakinan terhadap agama juga tidak dapat diterima karena bukanlah data publik yang dapat diuji dengan percobaan dan kriteria sebagaimana halnya sains. Agama tidak lebih dari cerita-cerita mitologi dan legenda sehingga ada kaitannya sama sekali dengan sains.[19]

Dalam modus ini, sains dan agama bertentangan, di mana masing-masing pihak menganggap yang lainnya salah dan tidak benar. Model ini berpendirian bahwa agama dan sains adalah dua hal yang tidak sekedar berbeda tapi sepenuhnya bertentangan. Karena itu, seseorang dalam waktu bersamaan tidak mungkin dapat mendukung teori sains dan memegang keyakinan agama, karena agama tidak bisa membuktikan kepercayaan dan pandangannya secara jelas, sedang sains mampu. Sebagaimana halnya agama mempercayai Tuhan tidak perlu menunjukkan bukti kongkrit keberadaannya, sebaliknya sains manuntut pembuktian semua hipotesis dan teori dengan kenyataan. Keduanya dianut oleh kelompok Biblical Literalism, dan kelompok scientific materialism.[20]

Agama                                                         Sains

Ontologi Epistemologi Aksiologi
Ontologi Epistemologi Aksiologi

 

 

X

 

Bagan 1: Model Relasi Konflik

 

Sehubungan dengan konflik, Barbour dan Haught mendiskusikan pandangan yang disebut “harmoni”. Islam, menafsirkan Al-Quran untuk mengungkapkan pengetahuan ilmiah pertama kali dilakukan untuk menumbuhkan kembali minat umat Islam kepada ilmu pengetahuan modern. [21]

  1. Model Independen.

Pandangan yang lebih netral daripada konflik adalah independensi, dimana sains dan agama seperti “dua orang asing”. Keberadaan mereka terpisah secara mandiri, mengajukan pertanyaan yang berbeda, mengacu ke domain yang berbeda, dan berbicara dalam bahasa yang berbeda.

Barbour memasukkan hubungan “independensi” yang saling melengkapi, dimana sains dan agama yang terlihat hidup berdampingan secara terpisah memiliki aspek kontradiktif keseluruhan yang lebih besar. Argumentasi model ini diantaranya dikemukakan oleh Lang dan Gilhey, bahwa sains berusaha menjelaskan data obyektif, umum, dan berulang-ulang, sementara agama berbicara tentang masalah eksistensi tatanan dan keindahan dunia dan pengalaman seseorang seperti pengampunan, makna, kepercayaan, keselamatan dan lain sebagainya. Tujuan model ini adalah untuk menghindari konflik antara keduanya dan sebagai konsekuensi munculnya ilmu pengetahuan baru (new knowledge) seperti penjelasan biologis atas organisme organ.[22]

Agama                                                      Sains

 

 

 

 

Epistemologi                                           Epistemologi

 

Bagan 2: Model Relasi Independen

  1. Model Dialog (Contact).

Hubungan ini membangun jembatan antara sains dan agama seperti “persahabatan”. Di sini ada persamaan dan kesejajaran dalam metodologi keduanya. Dialog juga muncul karena sains memiliki batas dan tergantung pada penyelidikan alam di luar dirinya. Untuk satu hal, akar sejarah dan asumsi dasar datang dari luar sains itu sendiri. Pengaruh ide-ide keagamaan terjadi di awal Islam, dimana kepercayaan dalam kesatuan pengetahuan dan memelajari alam merupakan “kewajiban agama” untuk mendekatkan kepada Pencipta menyebabkan kegiatan ilmiah berkembang dengan pesat.[23]

Model ini bermaksud mencari persamaan atau perbandingan secara metodis dan konseptual antara agama dan sains, sehingga ditemukan persamaan dan perbedaan antara keduanya. Upaya ini dilakukan dengan cara mencari konsep dalam agama yang analog, serupa atau sebanding dengan konsep dalam sains atau sebaliknya. Suatu model yang berbeda dengan model kedua yang menekankan perbedaan ansich.  Menurut Barbour, kesamaan antara keduanya bisa terjadi dalam dua hal, kesamaan metodologis dan kesamaan konsep. Kesamaan metodologis terjadi, misalnya, dalam hal sains tidak sepenuhnya obyektif sebagaimana agama tidak sepenuhnya subyektif. Secara metodologis, tidak ada perbedaan yang absolut antara agama dan sains, karena data ilmiah sebagai dasar sain yang dianggap sebagai wujud obyektifitas, sebenarnya juga melibatkan unsure-unsur subyektifitas. Lebih dari itu, subyektifitas sains terjadi pada asumsi teoritis yang digunakan dalam proses seleksi, penafsiran data dan pelaporan. Barbour bahkan menambahkan bahwa persamaan metodologis ini terletak pada prinsip hubungan antara teori dan pengalaman. Tujuan model ini adalah agar agama dan sains dapat saling memperluas wawasan dan pengetahuan tentang alam.

Agama                                             Sains

Ontologi

Epistemologi

Aksiologi

 

 

 

 

Persamaan

Perbedaan

 

Bagan 3: Model Relasi Dialog

 

  1. Model Integrasi (Confirmation)

Relasi terakhir Barbour adalah yang paling dekat dari semuanya dan menyerupai dekatnya kemitraan atau bahkan pernikahan. Dalam pandangan ini sistem teologis atau keyakinan agama dapat disintesis dengan pemahaman ilmiah modern menjadi kesatuan visi realitas. Dia mengidentifikasi tiga pendekatan: teologi alamiah, teologi alam, dan sintesis sistematis.[24]

Alternatif hubungan antara agama dan sains yang dipandang paling ideal adalah model integrasi. Model ini berusaha mencari titik temu pada masalah-masalah yang dianggap bertentangan antara keduanya. Contoh model ini adalah pada bidang Natural Theology yang menyatakan bahwa bukti adanya desain pada alam semesta membuktikan adanya Tuhan, sementara Drees menyodorkan sample tentang konsep teologi evolusi ala Piere Teilhard da Chardin dan filsafat proses Alfred N. Whitehead yang dianggap telah menghasilkan konsep metafisika yang inklusif. Pada model ini posisi sains adalah memberikan konfirmasi (memperkuat atau mendukung) keyakinan tentang Tuhan sebagai pencipta alam semesta, Kendati Haught mengingatkan agar agamawan tidak membiarkan agama terlibat (intrude) dalam kerja-kerja aktual sains (the actual work of science). Lebih dari itu, posisi agama menurut Haught lebih sebagai akar epistemologis bagi penemuan ilmiah. Dengan demikian agama memberikan dasar bagi keyakinan saintis akan adanya rasionalitas dalam sains.[25]

 

 

Ontologi                                                                                                   Ontologi

Epistemologi                                                                                                Epistemologi

Aksiologi                                                                                                  Aksiologi

 

Bagan 4: Model Relasi Integrasi

 

Dampak negatif dari kecendurungan mengabaikan nilai-nilai (moral Agama) bisa kita lihat secara emperik pada perilaku korup dan lain sebagaianya yang dilakukan oleh manusi dimuka bumi ini dengan munggunakan kekuatan sains dan tekhnologi.[26] Namun tampaknya dalam realitas kehidupan terjadi ketimpangan, dimana misi pertama lebih diutamakan Ilmu tanpa Agama sehingga mengakibatkan timbulnya krisis moral,kapitalis, materialistis hingga menjatuhkan harkat derajat atau kualitas “khairi ummah” yang kemudian menjadi penyebab krisis alam dan sumber daya.

Sebenarnya pembinaan intelektual dan moral dapat dikembalikan pada hakikat ilmu pengetahuan yaitu; (1) ontologi ilmu pengetahuan yang menekankan pada kemampuan spiritual, (2) epistemologi ilmu pengetahuan yang menjamin pembinaan kemampuan intelektual, dan (3) etika ilmu pengetahuan yang lebih menjamin pada pembinaan kemampuan moral.[27]

Wacana perpaduan antara sains dan Agama di Indonesia sudah lama digaungkan sebagaimana yang tertuang dalam UUSPN Nomor 20 Tahun 2003 pasal 30 yang mewajibkan penyelenggaraan pendidikan Agama pada semua strata pendidikan sebagai bentuk kesadaran bersama untuk mencapai kualitas hidup yang utuh.[28]

Pengertian integrasi sains dan teknologi dengan Islam dalam konteks sains modern bisa dikatakan sebagai profesionalisme atau kompetensi dalam satu keilmuan yang bersifat duniawi di bidang tertentu dibarengi atau dibangun dengan pondasi kesadaran ketuhanan. Kesadaran ketuhanan tersebut akan muncul dengan adanya pengetahuan dasar tentang ilmu-ilmu Islam. Oleh sebab itu, ilmu-ilmu Islam dan kepribadian merupakan dua aspek yang saling menopang satu sama lain dan secara bersama-sama menjadi sebuah fondasi bagi pengembangan sains dan teknologi. Bisa disimpulkan, integrasi  ilmu berarti adanya penguasaan sains dan teknologi dipadukan dengan ilmu-ilmu Islam dan kepribadian Islam.[29]

Integrasi sinergis antara Agama dan ilmu pengetahuan secara konsisten akan menghasilkan sumber daya yang handal dalam mengaplikasikan ilmu yang dimilki dengan diperkuat oleh spiritualitas yang kokoh dalam menghadapi kehidupan. Islam tidak lagi dianggap sebagai Agama yang kolot, melaikan sebuah kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri di berbagai bidang kehidupan, dan sebagai fasilitas untuk perkembangan ilmu dan  teknologi.[30] Agama, dalam hal ini Islam sebagai paradigma, saat ini masih sebagai justifikasi atau pembenaran terhadap konsep-konsep sains dan belum menjadi paradigma keilmuan yang menyeluruh (holistik). Orientasi  dan sistem pedidikan di sekolah antara ilmu Agama dan ilmu umum haruslah diintegrasikan secara terpadu dalam sebuah proses pelarutan, maksudnya antara Agama dan sains dapat disinergikan secara fleksibel, dan link and match.[31] Konsep integralisme monistik dalam perspektif Islam adalah sebuah paradigma unifikasi bagi ilmu-ilmu kealaman dan keagamaan, tidak hanya menyatukan ilmu-ilmu tersebut tetapi juga menjadi paradigma ilmu-ilmu kemasyarakatan dan kemanusiaan. Islam tidak hanya menjadi sudut pandang atau pelengkap tetapi menjadi pengawal dari setiap perbuatan/kerja sains.[32]

 

  1. Metode Formulasi Integrasi Sains Dan Islam

Untuk terwujudnya model Integrasi sains dan Islam, perlu diadakan tahapan-tahapan sebagai berikut:

  1. Menjadikan Kitab Suci Sebagai Basis atau Sumber Utama Ilmu

Memposisikan kitab suci (Al-Qur’an, Injil, Weda, Taurat dan Zabur) sebagai basis atau sumber utama Ilmu masing-masing yang bersangkutan, maka kedepan dapat diharapkan akan lahir pribadi-pribadi dalam masyarakat yang memiliki kekokohan dalam pemahaman, penghayatan dan pengamalan Agamanya sekaligus juga professional dalam bidang ilmu modern yang ditekuninya.[33]

Alquran dan hadis dalam pengembangan ilmu diposisikan sebagai sumber ayat-ayat qauliyyah sedangkan hasil observasi, eksperimen dan penalaran-penalaran yang logis diletakkan sebagai sumber ayat-ayat kauniyyah. Dengan memposisikan Alquran dan hadis  sebagai sumber ilmu, maka dapat ditelusuri semua cabang ilmu mempunyai dasar yang bersifat konsep di dalamnya. Berbagai ilmu yang dikembangkan dengan memposisikan ayat yang qauliyyah dan ayat yang kauniyyah sebagai sumber utama maka dikotomi ilmu (memisah-misahkan ilmu umum dan Agama) yang begitu marak dipersoalkan selama ini dapat terselesaikan.

Sebagaimana wataknya yang universal itu, Alquran dan hadis dapat dijadikan sebagai sumber sagala ilmu pengetahuan dan tidak sebatas ilmu pendidkan yang sejenis dengan ilmu tarbiyyah, ilmu hukum dengan ilmu syari’ah, ilmu filsafat dengan ilmu ushuluddin, ilmu bahasa dan sastra dengan ilmu adab, dan komunikasi dengan ilmu dakwah. Namun ilmu fisika, ilmu biologi, ilmu kimia, ilmu psikologi, ilmu pertanian dan semua ilmu lainnya dapat dicarikan informasinya di dalam Alquran, sekalipun tidak langsung bersifat teknis melainkan bersifat umum yang dapat ditelusuri dengan ayat-ayat-Nya yang bersifat kauniyyah.[34]

  1. Memperluas Batas Materi Kajian Islam & Menghindari Dikotomi Ilmu

Sudah menjadi sesuatu yang tidak bisa kita pungkiri bahwa semua lembaga pendidikan Islam, baik di tingkat dasar sampai ke perguruan tinggi, juga yang terjadi di podok pesantren, ketika orang menyebut pelajaran Agama, maka yang muncul dan terbayang dibenaknya adalah pelajaran tauhid, pelajaran fiqih, pelajaran akhlak, dan tasawuf, pelajaran Alquran dan hadis, pelajaran tarikh dan bahasa arab. Demikian pula jika kita meninjau ke perguruan tinggi Agama Islam, maka yang datang dalam pikiran kita adalah adanya Fakultas Syari’ah, Fakultas Tarbiyyah, Fakultas Ushuluddin, Fakultas Dakwah dan Fakultas Adab. Penyebutan hal yang demikian sesunggunhnya bukanlah dikatakan keliru.[35] Namun, persoalnnya adalah bahwa selama ini telah dipahami bahwa ajaran Islam itu bersifat Universal. Oleh karenanya jika sebatas yang disebut diatas sebagai lingkup ajaran Islam, maka akan timbul pertanyaan dimana sesunggunhnya letak ke Universalan ajaran Islam itu?

Rumusan tentang lingkup ajaran Islam seperti itu ternyata berlaku sejak lama dan terjadi disemua belahan dunia ini. Sebagai  misal kita lihat Universitatas Islam Al-Azhar di Kairo telah berdiri sejak 1000 tahun lalu, pembidangan ilmu masih seperti itu juga terjadi, cara memandang ilmu secara dikotomi seperti diatas juga terjadi. Disana ada fakultas-fakultas ilmu Agama, seperti Fakultas Syari’ah, Fakultas Tarbiyyah, Fakultas Ushuluddin Fakultas Dakwah dan lain, persis seperti yang terjadi di Indonesia. Disana juga ada Fakultas Tekhnik, Fakultas Kedokteran, Fakultas Ekonomi dan lain-lain masih tetap terpisah dari Fakultas Agama sebagaimana disebutkan diatas. Bahkan informasi yang terakhir didapat khusus bagi mahasisiwa yang mengambil fakultas Agama dibebaskan dari biaya pendidikan dengan maksud biar tetap ada mahasiswa yang memasuki fakultas-fakultas tersebut.[36]

Lebih parah lagi dikotomi ilmu dalam studi Islam terkait erat dengan pembagian kelompok ilmu Islam dalam pengertian ilmu Agama sebagaimana dikemukakan dimuka. Dalam hal ini sangat berimbas pada kemunculan dikotomi kelembagaan dalam pendidikan Islam. Dampak negatif yang paling mendasar adalah bahwa muncul pula istilah sekolah-sekolah Agama dan sekolah-sekolah umum. Sekolah Agama berbasis pada ilmu-ilmu “Agama” sedangkan sekolah umum berbasis kepada ilmu-ilmu “Umum”.[37]

Dari kenyataan ini, dapat dipahami bahwa dikotominya ilmu yang selama ini selalu dipersoalkan mungkin merupakan kemauan umat Islam itu sendiri atau memang perguruan tinggi Agama Islam yang ada di dunia ini  masih belum bisa mengintegrasikan ilmu Agama dengan ilmu umum. Masalah ini memang tidak mudah untuk jawab melainkan butuh perumusan-perumusan yang matang dan gagasan-gagasan yang lebih tajam.

Dari keterpurukan umat Islam ahir-ahir ini,  belakangan ini sudah muncul gagasan-gagasan untuk meninggalkan keterpurukan tersebut. Hal ini dapat dilihat dari upaya-upaya untuk mencoba mempersempit bahkan untuk tidak mendikotomikan keilmuwan. Munculnya beberapa Universitas Islam Negeri di Indonesia seperti UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan UIN Syarif Qosim Pekanbaru Riau, salah satu misinya adalah untuk mengembangkan ilmu ilmu yang bersifat integratif antara ilmu Agama dan ilmu umum.[38]

  1. Menumbuhkan Pribadi Yang Berkarakter Ulul Albab

Istilah Ulul Albab adalah merupakan istilah dalam bahasa Alquran, maka untuk memahaminya kita membutuhkan kajian-kajian yang mendalam terhadap nash-nash yang berbicara tentang Ulul Albab tersebut, baik dari segi makna lughawi maupun kandungan kesan dan pesan makna yang terdapat didalamnnya.

Secara lughawi kata Albab  adalah bentuk jamak dari lubb yang berarti “saripati sesuatu” misalnya, kacang tanah memiliki kulit yang menutupi isinya dan isi kulit (kacang tanah) tersebut dinamakan lubb (saripati). Dengan demikian Ulul Albab adalah orang orang yang memiliki akal yang murni, yang tidak diselimuti oleh kulit, yakni kabut (kemaksiatan) yang dapat melahirkan kerancuan dalam berpikir.[39] Dalam kaitan dengan hal yang dikemukkan di muka tersebut dalam Q.S. Ali Imran ayat 189-191 Allah menjelaskana tentang tanda-tanda kemurnian berpikir orang yang dikategorikan Ulul Albab tersebut.

tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (ulul albab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka”.

Kata Ulul Albab disebut sebanyak enam belas kali dalam Al-Qur’an. Ulul Albab yang melukisakan sebagai orang yang diberi hikmah (QS. Al-Baqarah [2]: 269); yang mampu menagkap pelajaran dari sejarah umat terdahulu (QS. Yusuf [12]: 111); kritis dalam mendengar pembicaraan dan ungkapan pemikiran dan pendapat orang (QS. Al-Zumar [39]: 18); tidak mengenal lelah dalam menuntut Ilmu (QS. Ali Imran [3]:7) dengan merenungkan ciptaan Allah di langit dan yang dibumi serta meperhatikan semua ciptaannaya yang dijadikan dari air sebagai sumber kehidupan tumbuh-tumbuhan dan lain sebagainya (QS. Ali Imran [3]: 190 dan QS. Al-Zumar [39]: 21) dan mengambil pelajaran dari kitab yang diwahyukan Allah SWT (QS. Shad [38]: 29,43; QS. al-Mu’min [40]: 54, dan QS. Ali Imran [3]: 7); sanggup mempertahankan keyakinan dalam diri dan tidak terpesona dengan banyaknya kemaksiatan yang pernah dilakukan (QS. Al-Maidah [5]: 100); berupaya menyampaikan peringatan Allah kepada dan mengajari mereka prinsip mengesakan Allah (QS. Ibrahim [14]: 52); melaksanakan janji kepada Allah, bersabar, member infaq, dan menolak kejelekan dengan kebaikan (QS. Al-Ra’d [13]: 19-22); bangun tengah malam dan melaksanakan dengan ruku dan sujud kehadapan Allah  (QS. Al-Zumar [39]: 9) serta banyak berzikir (QS. Ali Imran [3]: 190); dan terakhir tidak ada yang ditakuti di dunia ini melainkan hanya Allah SWT semata (QS. Al-Baqarah [2]: 197; QS. Al-Maidah [5]: 100; QS. Al-Ra’d [13]: 21; QS. Al-Thalaq [65]; 10).[40]

Dari beberapa ayat yang disebutkan dimuka, ada dua hal yang paling mendasar yang dapat dikategorikan sebaga Ulul Albab, yaitu zikir dan fikir. Zikir itu mencakup pikir atau pikir itu terkandung dalam pengertian zikir sebeb dalam zikir terkandung unsur pikir. Sebaliknya juga, di dalam pikir terkandung pula zikir. Kata fakkara sering dimaknai dengan “to reflect” atau “refleksi”, dalam bahasa Indonesia ungkapan ini mengandung unsur makna “merenung”. Dapat dipahami bahwa orang yang merenungkan atau memikirkan semua ciptaan Allah adalah termasuk juga zikir.

Untuk lebih rinci tentang karakteristik Ulul Albab sebagaimana yang enam belas kali di ungkapkan dalam Alquran, dapat diformulasikan sebagai berikut:

“Ulul Albab adalah orang yang : (1) memiliki akal pikiran yang murni dan jernih serta mata hati yang tajam dalam menagkap fenomena yang dihadapi, memamfaatkan kalbu untuk zikir kepada Allah dan memamfaatkan akal (pikiran) untuk mengungkap rahasia alam semesta, giat melakukan kajian dan penelitian untuk kemaslahatan hidup, suka merenungkan dan mengkaji ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan dan kebenaran)-Nya dan berusaha menangkap pelajaran darinya, serta berusaha mencari petunjuk dan pelajaran dari fenomena historik atau kisah-kisah terdahulu; (2) selalu sadar diri akan kehadiran Tuhan dalam segala situasi dan kondisi; (3) lebih mementingkan kualitas hidup (jasmani dan rohani); (4) mampu menyelesaikan masalah dengan adil; (5) siap dan mampu menciptakan kehidupan yang harmonis dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat; (6) mampu memilih dan menerapkan jalan yang benar dan baik yang diridhoi oleh-Nya serta mampu membedakan mana yang lebih bermanfaat dan menguntungkan dan mana pula yang kurang bermanfaat dan menguntungkan bagi kehidupannya di dunia dan di akhirat; (7) menghargai khazanah intelektual dari para pemikir, cendikiawan atau ilmuan sebelumnya; (8) bersikap terbuka dan kritis terhadap pendapat, ide atau teori dari manapun datangnya, untuk selanjutnya berusaha dengan sungguh-sungguh dalam mengikuti pendapat, idea tau teori yang terbaik; (9) mampu dan bersedia mengajar, mendidik orang lain berdasar ajaran dan nilai-nilai Ilahi dengan cara baik dan benar; (10) sabar dan tahan uji walaupun ditimpa musibah dan diganggu oleh syetan (jin dan manusia); (11) sadar dan peduli terhadap pelestarian lingkungan hidup; dan (12) tidak mau membuat onar, keresahan dan kerusakan, serta berbuat maker di masyarakat”.[41]

 

Untuk menumbuhkan dari beberapa karakteristik Ulul Albab sebagaimana yang dikemukakan di muka, ada beberapa hal yang bisa kita dilakukan untuk mewujudkannya yakni:

  • umat Islam harus mampu memanfaatkan sarana tekhnologi yang kian terjangkau hingga ke pedesaan sebagai alat perjuangan (jihad)-nya. Dengan demikian umat Islam tidak hanya dapat mengucapkan masya Allah ketika terkagum dengan temuan IPTEK, atau mengucapkan astaghfirullah ketika temuan IPTEK membuat malapetaka.
  • Umat Islam harus secara terus menerus meningkatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas IPTEK dan IMTAK secara bersamaan, atau peningkatan diri kearah kekokohan spiritual, moral dan intelektual.
  • Proses modernisasi adalah sesuatu yang meniscayakan bagi perombakan sistem pendidikan Islam, mulai dari paradigma, konsep, kerangka kerja, dan evaluasi.[42]
    1. Menelusuri Ayat-ayat Dalam Alquran yang Berbicara Tentang Sains

Menelusuri ayat-ayat Alquran yang berbicara tentang sains adalah merupakan bentuk langkah yang sangat vital untuk terintegrasinya sains dan Islam. Seterusnya bahwa kebenaran Alquran itu merupakan relevan dengan ilmu pengetahuan (sains) yang saat ini sangat pesat berkembang.  Diatara ayat-ayat sains adalah:

  • Anatomi Tubuh dan Bedah

Secara khusus memang tidak ada di dalam Alquran yang membicarakan tentang anatomi tubuh dan bedah. Namun oleh para kalangan ulama tafsir melakukan intrpretasi dan ta’wil terhadap ayat yang terdapat dalam surah Alam Nasyrah ayat 1-3 yang mengisyaratkan untuk melaksanakan praktek pembedahan terhadap anggota tubuh untuk menghilangkan penyakit yang dal didalamnya.[43] Ayat tersebut adalah “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu”

Ayat diatas diperkuat juga dengan kisah yang diriwayatkan dalam kitab-kitab hadis dan tarikh bahwa orang tua asuh Nabi SAW. Mengisahkan suatu ketika Nabi dan saudara laki-laki angkatnya berada di belakang kemah bersama dengan kambing-kambing orang tua asuh Nabi. Saat itu saudara laki-laki angkatnya berlari-lari dan meberitahukan kepada orang tua angkat Nabi bahwa ada dua orang yang berpakain putih memegangi Nabi Muhammad SAW, lalu membaringkannya kemudian mebelah perutnya dan mengaduk-ngaduk isinya. Orang tua asuh Nabi bergegas untuk menemuinya dan mendapatinya dia dalam keadaan wajah yang pasi (kelihatan pucat). Kemudian orang tua asuh Nabi menanyainya tentang hal apa yang telah terjadi. Lalu Nabi berkata “ada dua orang yang berjubah putih datang dan membaringkan aku serta mebedah perutku, memcari-cari sesuatu di dalamnya yang tidak aku ketahui”.[44]

Sebagaimana ayat yang dikutip di atas sangat relevan dengan peristiwa pembelahan perut Nabi. Mungkin inilah yang telah mendorong pengobatan dengan tekhnik bedah serta merangsang kajian tentang anatomi tubuh manusia pada masa-masa awal peradaban Islam. Kemungkinan besar, kisah ini pun telah mendorong para dokter untuk mencoba mempraktekkan pengobatan jenis tersebut. Satu hal yang unik,  baju yang dikenakan/ dilambangkan sebagai dokter saat ini adalah dengan seragam putih, hal ini sangat relevan dengan pakaian putih dua malaikat waktu membedah perut Nabi Muhammad SAW.[45] Hal ini juga tidaklah mengherankan jika kita mendapati sejumlah catatan sejarah bahwa  dokter terkenal seperti Ibnu Sina dan intelektual muslim lainnya yang melakukan dan mengembangkan tekhnik bedah tersebut.

  • Tentang Hak Asasi Manusia

Semua warga Negara yanga ada Bumi ini memiliki dan  menikmati hak-hak asasi terhadap dirinya diantaranya adalah sebagai berikut:  Hak untuk menetukan Agama (QS Al-Baqarah [2]: 256, QS Yunus [10]: 99), Hak untuk memiliki harta kekayaan (QS Al-Baqarah [2]: 188), hak untuk berbeda pendapat (QS Al-Nisa’ [4]: 59), hak Privasi (QS Al-Nur [24]: 27), hak berserikat (QS Ali Imran [3]:104), hak untuk memperoleh penghidupan (QS Al-Dzariyat [51]: 19), menghormati tanggung jawab personal (QS Al-An’am [6]: 164, QS Fathir [35]: 18).[46] Dan lain sebagainya masih banyak di dalam Al-Quran yang membicarakan tentang tata cara kehidupan, sesuai dengan namanya petunjuk (huda) bagi orang-orang yang bertaqwa.

  1. Mengembangkan Kurikulum Pendidikan di Lembaga Pendidikan

Dari hasil kajian berbagai disiplin ilmu dan pendekatan, tampaknya ada kesamaan pandangan bahwa segala macam krisis itu berpangkal dari krisis akhlak dan moral, krisis spiritual. Anehnya, krisis ini menurut sebahagian pihak disebabkan karena keterpurukan dan kegagalan pendidikan Agama.[47] Untuk terwujudnya insan yang mempunyai karakter Ulul Albab, akan dapat di capai secara utuh jika tersinerginya ilmu Sains dan Islam (Agama) dalam proses pembelajaran. Melalui pembelajaran terpadu dan integratif tersebut, suatu masalah yang menggejala tidak bisa disalahkan kepada pihak tertentu. Marilah kita jawab secara profesional tentang fenomena-fenomena sebagaimana yang dikemukakan di muka, tanpa mengkambing hitamkan Agama. Tugas dan tanggung jawab atas pendidikan Agama terhadap anak didik adalah tidak hanya diemban oleh guru Agama saja, tetapi merupakan tanggung jawab lembaga secara komprehensif.[48] Tumbuhnya  kesadaran semua pihak dalam memperbaiki akhlak moral peserta didik yang bigitu mengimbas terhadap akhlak dan  moral bangsa di mata dunia adalah satu-satunya yang kita rindukan.

 

  1. Model Formulasi Integrasi Sains dan Islam
  1. Formulasi UIN Maliki Malang; Sebuah Contoh

Problem yang pertama muncul dalam integrasi ilmu adalah adanya pemilahan ilmu. Orang barat tidak menerima kebenaran ilmu Agama, atau tidak mengakui ilmu Agama sebagai suatu disiplin ilmu, karena ilmu Agama berhubungan dengan objek-objek non fisik, padahal menurut orang barat, sesuatu bisa dinamakan sebagai ilmu (science) jika objek-objeknya empiris. Sedangakan dalam dunia Islam (sebagian ulama’) menganggap ilmu-ilmu yang berasal dari Barat sebagai ilmu kafir, maka mempelajarinya dianggap bida’ah dan bahkan dilarang. [49]

Melihat fenomena ini Imam Suprayogo mengatakan pandangan semacam ini perlu ada kajian yang mendalam, apakah betul dikotomi itu bentuknya seperti ini. Bagaimana kalau formatnya diganti. Ilmu Agama dipossisikan sebagai sumber ilmu. Dengan demikian cluster ilmu tetap tiga yakni, ilmu sosial, ilmu alam dan ilmu humaniora. Adapun Agama dijadikan basis dari semua ilmu tersebut.

UIN Maulana Malik Ibrahim Malang salah satunya lembaga pendidikan tinggi Islam yang mencoba memformulasikan proses akademinknya dengan memadu sains dan Agama. Struktur ilmu pengetahuan diumpamakan sebuah pohon dimana pada sebuah pohon, terdapat akar, batang, dahan ranting, daun dan buah. Agar dahannya kuat maka pohon harus memiliki akar yang kokoh da kuat, begitu pula seterusnya dengan batang, ranting dan daun semua saling terkait satu sama lain supaya menghasilkan buah yang segar.

Buah yang segar menggambarkan iman dan amal shalaih. Buah yang segar hanya akah muncul dari pohon yang memiliki akar yang kuat mecakar ke bumi, batang, dahan, dan dau yang lebat secara utuh. Buah yang segar tidak akan muncul dari akar dan pohon yang tidak memiliki dahan, ranting dan daun yang lebat. Demikiasn juga buah yang segar tidak akan muncul dari pohon yang hanya memiliki dahan, ranting, dan daun tanpa batang dan akar yang kokoh. Sebagai sebuah pohon yang diharapkan melahirkan buah yang segar, haruslah secara sempurna terdiri atas akar, batang, dahan, ranting, dan daun yang sehat dan segar pula. Tanpa itu semua mustahil pohon tersebut melahirkan buah. Demikian pula ilmu yang tidak utuh, yang hanya sepotong-sepotong akan seperti sebuah pohon yang tidak sempurna, ia tidak akan melahirkan buah yang diharapkan, yakni keshalihan individual dan keshalihan sosial.[50]

Adapun gambaran pohon sebagai konsep keilmuwan UIN Malang yang dimaksud adalah sebagai berikut:

 

Akar dari pohon ilmu tersebut adalah ilmu-ilmu alat, yakni bahasa arab bahasa Inggiris, filsafat, ilmu alam, ilmu sosial. Akar pohon tersebut diharapkan kuat, artinya bahasa kuat, filsafat kuat, lalu dipakai untuk mengkaji Alquran dan hadis, sirah nabawi, pemikiran Islam dan sebagainya sedangkan dahan-dahannya itu untuk menggambarkan ilmu modren ilmu ekonomi, ilmu polotik, hukum, peternakan, pertanian, tekhnologi dan seterusnya.

Seperti sebuah pohon, sari pati makanan itu mesti dari akar ke batang kemudian dari batang ke dahan, ranting daun diasimilasi kemudian ke bawah dan itu harus dilihat sebagai sebuah kesatuan. Maka begitulah ilmu pengetahuan. Semua terkait dan tidak bisa bisa dipisah-pisah seenaknya saja tanpa dasar yang jelas. Mengikuti prinsip ilmu dalam pandangan Al-Ghazali, Batang kebawah mempelajarinya hukumnya fardhu ‘ain, sedangkan dahan ke atas itu adalah fardhu kifayah. Jadi tidak benar seperti yang selama ini di persepsikan orang seolah-olah batang ke bawah tugasnya STAIN, IAIN, UIN dan Pesantren. Sedangkan dahan-dahannya tugas tetangga kita Undip, Gajah Mada, Airlangga dan sebagainya. Tidak benar ada pembagian tugas (dikotomi), batang kebawah miliknya PTAI, batang ke atas miliknya PTU. [51]

Ilustrasi dari Imam Suprayogo tentang konsep pohon ilmu “semua orang tua, hukum shalat jenazah adalah fardhu kifayah. Dan yang melaksanakan shalat jenazah adalah orang yang sehari-hari sahalat lima waktu. Karena itu, jika kebetulan ada orang meniggal, lalu orang-orang melaksanakan shalat jenazah. Hal ini bukan berarti mereka yang iku sahalat jenazah terbebas dari shalat wajib lima waktu”.[52] Demikianlah yang dimaksud dengan pohon ilmu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Untuk mewujudkan pohon ilmu di dunia nyata bukan pekerjaan yang sepele, untuk mengimplementasikan gagasan tersebut bukanlah persoalan yang mudah. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam mengimplementasikan pohon ilmu (integrasi sain dan Islam) merumuskan sembilan aspek yang mesti di kembangkan dan direalisasilakan. Sembilan aspek tersebut UIN malang menyebutnya sebagai Rukun Universitas. Pertama, harus memiliki guru besar. Dan dosen yang profesional. Kedua, harus memiliki masjid yang betul-betul berfungsi bukan semata sebagai simbol. Ketiga, harus ada Ma’had, harus ada pesantren. Pesantren berfungsi sebagai sarana untuk membangun spritualitas dan akhlak yang agung. Keempat. Perpustakaan yang lengkap. Kelima, memiliki Laboratorium. Keenam, ruang kuliah yang representatif. Ketujuh, perkantoran sebagai sarana pelayanan administrasi. Kedelapan, pusat-pusat pengembangan seni dan olahraga. Dan  Kesembiulan, sumber-sumber pendanaan yang luas dan kuat.[53]

Bagi pimpinan, dosen, tenaga administrasi, satpam, tukang sampah dan semua yang terkait di dalam mengelola suatu lembaga pendidikan dianjurkan dan harus menampakkan sikap religius dalam menjalankan tugasnya. Yakni, kejujuran, keadilan, ingin dirinya bermanfaat, rendah hati, bekerja efisien, visi jauh ke depan, disiplin diri yang tinggi dan keseimbangan. Penanaman nilai-nilai tersebut merupakan hal yang paling vital dalam menjalankan pekerjaan. Dan ketika nilai-nilai tersebut mampu diterapkan secara kontiniu dan konsisten, maka akan menjadi suatu budaya religius di lembaga pendidikan, dan budaya ini akan membentuk karakter masyarakat lembaga pendidikan untuk bertindak dan berperilaku sesua dengan nilai-nilai religius dimaksud.[54] Terpuruknya sebuah Negara bukan satu-satunya karena rendahnya penguasaan IPTEK, tetapi sangat syarat dengan kerusakan Akhlak dan moral manusia yang mengimbas kepada rusaknya moral bangsa dan Negara di hadapan Tuhan dan di mata Dunia.

  1. Formulasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Sebuah Contoh 2

Sejak diresmikan sebagai UIN pada tahun 2002 UIN Jakarta memiliki agenda integrasi sains dan Islam yang tercantum dalam visi dan misinya. Visi yang ingin mewujudkan “sebuah lembaga yang terkemuka dalam mengembangkan dan mengintegrasikan aspek keislaman, keilmuan, kemanusiaan, dan keindonesiaan” didukung dengan misi yang jelas, disebutkan agenda integrasi:

  1. Melakukan reintegrasi keilmuan pada tingkat epistemologi, ontologi, dan aksiologi, sehingga tidak ada lagi dikotomi antara ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu agama.
  1. Memberikan landasan moral terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan melakukan pencerahan dalam pembinaan iman dan takwa sehingga hal tersebut dapat sejalan.
  2. Mengartikulasikan ajaran Islam secara ilmiah akademis ke dalam konteks kehidupan masyarakat, sehingga tidak ada lagi jarak antara nilai dan perspektif agama dan sofistikasi masyarakat.

Spirit integrasi ilmu pada visi dan misi tersebut dituangkan secara operasional dalam kebijakan kurikulum, mulai dari penyusunan silabus, perumusan pokok bahasan, sampai cara penyajian materi kuliah. Sebagai contoh kandungan isi seluruh mata kuliah dipandu dengan pola:

  1. Mata kuliah keagamaan harus memuat: historical content, theoritical content, practical content, case content, dan science and technology content.
  2. Mata kuliah umum harus memuat: historical content, theoritical content, practical content, case content, dan Islamic content.

Historical content adalah penjelasan sejarah lahir dan berkembangnya ilmu pengetahuan sampai saat ini. Theoritical content adalah sajian serangkaian teori yang dikemukakan para ahli dari setiap periode. Practical content adalah penjelasan manfaat ilmu untuk kehidupan. Case content adalah penjelasan kasus nyata yang relevan dengan materi kuliah. Science and technology content adalah upaya untuk menjelaskan makna ayat al-Qur’an dan hadis dari segi sains dan teknologi untuk memperkuat keyakinan Islam dan mendorong pengembangan ilmu. Sedangkan Islamic content adalah prinsip dasar tauhid yang ditanamkan bahwa semua ilmu bersumber dari Allah. Sehingga ilmu umum dan agama tersebut merupakan sesuatu yang integral.[55]

Perubahan konsep pada UIN baik itu UIN Malang maupun UIN Jakarta sesungguhnya memiliki satu keinginan yang sama yaitu mewujudkan atau merealisasikan gagasan tentang integrasi ilmu agama dan umum dalam rangka mengakhiri perdebatan wacana tentang dikotomi ilmu. UIN Jakarta dengan menggunakan paradigma integrasi ilmu dialogis dari Ian G. Barbour. Sementara UIN Malang lebih memilih pendekatan Imam Al-Ghazali yang mengklasifikasikan ilmu menjadi Fardlu ’ain dan fardlu Kifayah dengan metode ”takwil” yang diambil dari ilmu-ilmu sosial. Budaya pendidikan yang dikembangkan disesuaikan dengan budaya universitas. Artinya semangat perubahan universitas diikuti juga dengan semangat pengembangan budaya yang berwawasan universitas juga baik yang ditunjukkan melalui riset-riset, publikasi hasil penelitian dan lain-lain.

 

  1. PENUTUP

Pengembangan kurikulum dalam proses pendidikan merupakan kebutuhan yang terus harus diperhatikan. Diperlukan riset lapangan dan refleksi pengalaman untuk mengembangkannya, tidak hanya berdasarkan pendapat  para ahli pendidikan semata. Strategi yang lebih baik lagi dalam pengembangan kurikulum ini ialah kebersamaan para ahli, pelaku dilapangan serta pengambil kebijakan melalui berbagai riset untuk mengevaluasi kurikulum dan pembelajaran yang sudah ditempuh, kemudian bersama-sama berunding mengusulkan pendapat bagaimana melakukan pembaruan.

Dikotomi ilmu yang selama ini selalu diperdebatkan dikalangan yang berbeda pandangan tentang ilmu, ilmu Islam dan ilmu umum sebenarnya dapat kita selesaikan dengan menempatkan dan memposisikan Al-Qur’an dan hadis sebagai sumber ilmu bukan sebagai ilmu. Adapun bentuk formulasi integrasi sains dan Islam dapat kita wujudkan dengan cara: menjadikan kitab suci sebagai basis atau sumber utama ilmu, memperluas batas materi kajian Islam & menghindari dikotomi ilmu, menumbuhkan pribadi yang berkarakter ulul albab, menelusuri ayat-ayat dalam alquran yang berbicara tentang sains, mengembangkan kurikulum pendidikan di lembaga pendidikan.

Dalam mengintegrasikan Sains dan Islam dibutuhkan perumusan-perumusan yang mendalam dan terprogram secara matang. Hadirnya misi beberapa Pendidikan Tingi  di Indonesia dengan berbagai program kurikulum dan landasan filosofisnya, merupakan bentuk nyata dalam mengembangkan ilmu yang bersifat integratif yakni memadu sains dan Islam dalam proses pendidikan dan upaya pengembangan kurikulumnya. Namun, pengembangan kurikulum juga memerlukan instrumen evaluasi sebagai sebuah analisis sebelum dilakukan sebuah aktifitas pengembangan. Analisis SWOT dapat dimanfaatkan untuk menyusun strategi perbaikan dan pengembangan program secara berkelanjutan.

 

 


 

Daftar Rujukan

Andi Nurdyansyah, Empat Tipologi HUbungan Sains dan Agama dalam http://andinurdiansah.blogspot.com/2010/10/empat-tipologi-hubungan-sains-dan-agama.html (Diakses 20 Maret 2012)

Arief, Armai. 2005. Reformasi Pendidikan Islam, (Jakarta: CRSD Press)

Arifin, Muzaiyyin. 2004. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara

Audrey & S. Howard Nicholls. 1982. Developing a Curriculum: A Practical Guide New Edition. London: George Allen & Unwin

Bagir, Zainal Abidin dkk.  2009. Integrasi ilmu dan agama: interpretasi dan aksi. (Bandung: Mizan)

Barbour, Ian. 2004. Bumi yang Terdesak, (Bandung: Mizan)

Barizi, Ahmad. 2009. Menjadi Guru Unggul, (Jogjakarta: Arruz Media)

——————. 2011. Pendidikan Integratif Akar Tradisi dan Integrasi Keilmuan Pendidikan Islam, (Malang: UIN Maliki Press)

Budiawan, Surjanto. Bagaimana Memahami Kurikulum Pendidikan?, (dalam Kompas, 13 Maret 2006).

Butt, Nasim. 1996. Sains dan Masyarakat Islam, (Bandung: Pustaka Hidayah)

Hamalik, Oemar. 2006. Manajemen Pengembangan Kurikulum. Bandung: Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia dengan PT. Remaja Rosydakarya.

———————–. 2007. Dasar-Dasar Pengemangan Kurikulum. Bandung: PT. Remaja Rosydakarya

———————-. 2005. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Hassan, Usman.  2003. The Concept of Ilm and Knowledge in Islam, (The Association of Muslim Scientists and Engineers).

Idi, Abdullah. 2007. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. Yogyakarta: Ar Ruz Media.

Karni, Asrori S. 2009. Etos Studi Kaum Santri Wajah Baru Pendidikan Islam, (Bandung: Mizan)

Maimun ,Agus & Agus Zaenul Fitri. .2010. Madrasah Unggulan Lembaga Pendidikan Alternatif di Era Kompetitif, (Malang: UIN Press)

Maman Kh, Urgensi Memadukan Kembali Sains dan Teknologi dengan Islam,  dalam http://www.pusbangsitek.com diakses tanggal 20 Mei 2012

Muhaimin. 2004. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Raja Grafindo.

Muliawan, Jasa Ungguh.  2005. Pendidikan Islam Integratif: Upaya Mengintegrasikan Kembali Dikotomi Ilmu dan Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar)

Nasr, Seyyed Hossein. 1970.Science and Civilization in Islam, (New York: New American Library)

Rahman, Afzalul. 2007. Ensiklopedina Ilmu dalam Al-Quran, (Bandung: PT. Mizan)

Saefuddin dkk. 2010. On Islamaic Civilization Menyalakan Kembali Lentera Peradaban Islam Yang Sempat Padam, (Semarang: UNISSULA Press,), hlm, 242

Sihab,M. Quraish. 2001, Membumikan Al-Qur’an, (Bandung, Mizan)

Subandijah. 1993. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Suhartono, Suparlan. 2008. Filsafat Ilmu Pengetahuan Persoalan Eksistensi dan Hakikat Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Ar-Ruzz Media)

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2005. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktik Bandung: Remaja Rosdakarya

Suprayogo, Imam. 2004. Pendidikan Berparadigma Al-Quran Pergulatan Membangun Tradisi dan Aksi Pendidikan Islam (Malang: UIN Press,), hlm, 51

———————–. 2006. Paradigma Pengembangan Keilmuan Islam Perspektif UIN Malang, (Malang: UIN-Malang Press)

———————–. 2009. Universitas Islam Unggul Refleksi Pemikiran Pengembangan Kelembagaan dan Reformulasi Paradigma Keilmuan Islam, (Malang: UIN Press)

Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, 2007. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, (Bandung: PT. IMTIMA)

Tim Penyusun Buku, 2004. Memadu Sains dan Agama Menuju Universitas  Islam Masa Depan, (Malang: Bayumedia)

Turmudi, dkk, 2006. Islam, Sains dan Teknologi Menggagas Bangunan Keilmuan Fakultas Sains dan Teknologi  Islami Masa Depan, (Malang: UIN Maliki Press,), hlm, xv

Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Citra Umbara.

Zainul Arifin, Model-Model Relasi Agama dan Sains dalam http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/ psikologi/article/view/353 (Diakses 20 Maret 2012)

Zuhairini dan H. Abdul Ghofir. 2004. Metodologi pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Malang: Fakultas Tarbiyah UIN Malang bekerjasaa dengan UM Press.

[1] Armai Arief, Reformasi Pendidikan Islam, (Jakarta: CRSD Press, 2005), hlm.124.

[2]  Muzaiyyin Arifin,  Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara 2004), hlm. 78.

[3] Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Raja Grafindo, 2004), hlm. 1

[4]  Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hal. 65.

[5] Zuhairini dan H. Abdul Ghofir, Metodologi pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Malang, Fakultas Tarbiyah UIN malang bekerjasaa dengan UM Press, 2004), Hlm. 39

[6] Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentnag Sistem Pendidikan Nasional.

[7] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), Hlm. 174.

[8] Audrey & S. Howard Nicholls, Developing a Curriculum: A Practical Guide New Edition (London: George Allen & Unwin, 1982). Hlm. 21

[9](1). Penekanan pada isi kurikulum. Pengembangan kurikulum yang menekankan pada isi bersifat material centered. Kurkulum ini memandang murid sebagai penerima resep yang pasif. Anak dianggap sebagai bahan kasar yang tidak berdaya. (2). Penekanan pada situasi pendidikan. Kurikulum ini bertujuan mencari kesesuaian antara kurikulum dengan situasi di mana pendidikan berlangsung. Kurikulum ini ruang lingkupnya sempit, masa pengembangannya juga relatif lebih singkat dari pada desiminasinya. Dan (3). Penekanan pada organisasi. Tipe kurikulum ini sangat menekankan pada proses belajar mengajar. Perbedaan yang sangat jelas antara kurikulum yang menekankan pada organisasi dengan yang menekankan pada isi dan situasi, adalah memberikan perhatian yang sangat besar kepada si pelajar atau siswa. Lihat dalam Oemar Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum. (Bandung: Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia dengan PT. Remaja Rosydakarta, 2006). Hlm. 97

[10] Oemar Hamalik, Dasar-Dasar Pengemangan Kurikulum, (Bandung: PT. Remaja Rosydakarta, 2007). Hlm. 185-186

[11] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997), h. 150-155. Lebih lanjut dijelaskan bahwa prinsip umum meliputi: 1). prinsip relevansi; 2). Prinsip fleksibilitas; 3). Prinsip kontinuitas, 4). Prinsip praktis; 5). Prinsip efektivitas; 6). Prinsip efisiensi.dan 7). Prinsip integratif. Prinsip integratif ini meliputi multidisipliner, atau intra-disipliner atau interdisipliner. Sedangkan prinsip khusus  adalah Prinsip yang terkait dengan sejumlah komponen dari kurikulum itu sendiri, yakni 1). tujuan, 2). isi atau bahan pengajaran, 3). metode pembelajaran, 4). media dan alat pembelajaran serta 5). kegiatan evaluasi pembelajaran.

[12] Nasim Butt, Sains dan Masyarakat Islam, (Bandung,Pustaka Hidayah, 1996), hal. 59.

[13] Ibid., Hlm.75

[14] Ibid.

[15] Usman Hassan, The Concept of Ilm and Knowledge in Islam, (The Association of Muslim Scientists and Engineers, 2003), hal. 3.

[16] Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam, (New York: New American Library, 1970),  hal. 21-22.

[17] Barbour, Ian, Bumi yang Terdesak, (Bandung: Mizan, 2004). Hal. 26

[18] M. Quraish Sihab,1994, Membumikan Al-Qur’an, (Bandung, Mizan, 2001) hal: 53.

[19] Andi Nurdyansyah, Empat Tipologi HUbungan Sains dan Agama dalam http://andinurdiansah.blogspot.com/2010/10/empat-tipologi-hubungan-sains-dan-agama.html (Diakses 20 Maret 2012)

[20] Ian Barbour, Bumi yang Terdesak... hal. 26

[21] Zainul Arifin, Model-Model Relasi Agama dan Sains dalam http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/ psikologi/article/view/353 (Diakses 20 Maret 2012)

[22] Zainal Abidin Bagir, dkk.  Integrasi ilmu dan agama: interpretasi dan aksi. (Bandung: Mizan, 2009). Hal.22

[23]  Ian Barbour, Bumi yang Terdesak… hal. 30

[24] Zainal Abidin Bagir,Jarot Wahyudi,Afnan Anshori, Ibid. Hlm. 22.

[25] Ian Barbour, Bumi yang terdesak. hlm. 26

[26] Tim Penyusun Buku, Memadu Sains dan Agama menuju Menuju Universitas Islam Masa Depan, (Malang: Bayumedia, 2004), hlm. xi-xii

[27] Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan Persoalan Eksistensi dan Hakikat Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Ar-Ruzz Media, 2008), hlm, 138

[28] Ahmad Barizi, Pendidikan Integratif Akar Tradisi dan Integrasi Keilmuan Pendidikan Islam, (Malang: UIN Maliki Press, 2011), hlm, 256

[29] Maman Kh, Urgensi Memadukan Kembali Sains dan Teknologi dengan Islam, http://www.pusbangsitek.com diakses tanggal 20 Mei 2012

[30] Turmudi, dkk, Islam, Sains dan Teknologi Menggagas Bangunan Keilmuan Fakultas Sains dan Teknologi  Islami Masa Depan, (Malang: UIN Maliki Press, 2006), hlm, xv

[31] Ahmad Barizi, Pendidikan Integratif Akar Tradisi dan Integrasi Keilmuan Pendidikan Islam, (Malang: UIN Maliki Press, 2011), hlm, 260

[32] Ahmad Barizi, Pendidikan Integratif… Hlm. 260-261

[33] Imam Suprayogo, Paradigma Pengembangan Keilmuan Islam Perspektif UIN Malang, (Malang: UIN-Malang Press, 2006), hlm. 66

[34] Imam Suprayogo, Paradigma Pengembangan Keilmuan Islam …, hlm. 31

[35] Imam Suprayogo, Paradigma Pengembangan Keilmuan Islam … hlm. 37

[36] Imam Suprayogo, Paradigma Pengembangan Keilmuan Islam Perspektif UIN Malang, (Malang: UIN-Malang Press, 2006), hlm. 38

[37] Jasa Ungguh Muliawan, Pendidikan Islam Integratif: Upaya Mengintegrasikan Kembali Dikotomi Ilmu dan Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 215

[38] ] Imam Suprayogo, Paradigma Pengembangan Keilmuan Islam …, hlm. 39

[39] Tim Penyusun Buku, Memadu Sains dan Agama Menuju Universitas  Islam Masa Depan, (Malang: Bayumedia, 2004), hlm. xxiii

[40] Ahmad Barizi, Menjadi Guru Unggul, (Jogjakarta: Arruz Media, 2009), hlm. 62

[41] Tim Penyusun Buku, Memadu Sains dan Agama menuju Menuju Universitas  Islam Masa Depan, (Malang: Bayumedia, 2004), hlm. xxv

[42] Ahmad Barizi, Pendidikan Integratif akar tradisi & keilmuan pendidikan ilsam (Malang: UIN Press, 2011), hlm. 6-7

[43] Afzalul Rahman, Ensiklopedinaa Ilmu dalam Al-Quran, (Bandung: PT. Mizan, 2007) hlm, 381

[44] Afzalul Rahman, Ensiklopediana Ilmu dalam Al-Quran, … hlm, 381

[45] Afzalul Rahman, Ensiklopediana Ilum dalam Al-Quran, … hlm, 382

[46] Afzalul Rahman, Ensiklopediana Ilum dalam Al-Quran, … hlm, 299-300

[47] Tim Penyusun Buku, Memadu Sains dan Agama menuju Menuju Universitas Islam Masa Depan, (Malang: Bayumedia, 2004), hlm, xix

[48] Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, (Bandung: PT. IMTIMA, 2007), hlm, 2

[49] Saefuddin dkk, On Islamaic Civilization Menyalakan Kembali Lentera Peradaban Islam Yang Sempat Padam, (Semarang: UNISSULA Press, 2010), hlm, 242

[50] Imam Suprayogo, Pendidikan Berparadigma Al-Quran Pergulatan Membangun Tradisi dan Aksi Pendidikan Islam (Malang: UIN Press, 2004), hlm, 51

[51] Saefuddin dkk, On Islamaic Civilization hlm, 323

[52] Saefuddin dkk, On Islamaic Civilization hlm, 323-324

[53] Imam Suprayogo, Universitas Islam Unggul Refleksi Pemikiran Pengembangan Kelembagaan dan Reformulasi Paradigma Keilmuan Islam, (Malang: UIN Press, 2009), hlm,194

[54] Agus Maimun & Agus Zaenul Fitri, Madrasah Unggulan Lembaga Pendidikan Alternatif di Era Kompetitif, (Malang: UIN Press, 2010), hlm, 117-119

[55] Asrori S. Karni, Etos Studi Kaum Santri Wajah Baru Pendidikan Islam, (Bandung: Mizan, 2009 ) h. 309-310

Iklan

Kategori

%d blogger menyukai ini: