Oleh: Admin | 26 Maret 2014

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM (Sebuah Tinjauan Biopsikososiospiritual)


PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM
(Sebuah Tinjauan Biopsikososiospiritual)
Oleh: Ali Rif’an

A. Pendahuluan
Pendidikan dalam Islam merupakan sebuah rangkaian proses pemberdayaan manusia menuju taklif (kedewasaan), baik secara akal, mental maupun moral, untuk menjalankan fungsi kemanusiaan yang diemban sebagai seorang hamba (abd) dihadapan Khaliq-nya dan sebagai ‘pemelihara’ (khalifah) pada semesta. Karenanya, fungsi utama pendidikan adalah mempersiapakan peserta didik (generasi penerus) dengan kemampuan dan keahlian (skill) yang diperlukan agar memiliki kemampuan dan kesiapan untuk terjun ke tengah masyarakat (lingkungan).
Dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Ada beberapa term yang sering digunakan untuk menunjukkan makna pendidikan, yakni: al-ta’lim, al-tarbiyah dan al-ta’dib, yang ketiganya mempunyai makna yang berbeda dalam menunjukkan makna pendidikan. Manusia (peserta didik) ditinjau dari segi fisik-biologis boleh dikatakan sudah berhenti, tetapi dari segi rohani, spiritual dan moral belum selesai. Dari segi fisik dan biologis manusia hampir sama dengan hewan, dalam arti pertumbuhan dan perkembangannya lebih banyak dipengaruhi oelh proses alami. Tetapi dari segi rohani, spiritual dan sosialnya, manusia dapat melawan arus proses alami dan mampu menilai serta mengontrol alam sekitarnya. Sehingga ia mampu melakukan adaptasi atau mengubahnya.
Peserta didik merupakan “raw material” (bahan mentah) didalam proses transformasi yang disebut pendidikan. Berbeda dengan komponen komponen lain dalam system pendidikan karma kita menerima “material” ini sudah setengah jadi, sedangkan komponen komponen lain dapat dirumuskan dan disusun sesuai dengan keadan fasilitas dan kebutuhan yang ada.
Istilah yang digunakan untuk peserta didikpun beragam, ada siswa, mahasiswa, warga belajar, pelajar, murid, santri, dan lain-lain. Peserta didik secara formal adalah orang yang sedang berada pada fase pertumbuhan dan perkembangan merupakan ciri dari seorang peserta didik yang perlu bimbingan dari seorang pendidik.
Pembinaan potensi dan kekuatan yang dimiliki oleh peserta didik memerlukan pendekatan dan prosedur yang tepat, pendidik perlu memahami potensi,kemampuan dan karakteristik peserta didik serta memilih dan memberikan layanan dan tindakan pendidikan yang tepat yang bernilai interaksi edukatif. Interaksi edukatif haruslah menggambarkan hubungan aktif dua arah dengan sejumlah pengetahuannya. Interaksi yang dengan sadar meletakkan tujuan untuk mengubah tingkah laku dan perbuatan peserta didik. Keduanya berada dalam interaksi edukatif dengan posisi, tugas, dan tanggung jawab yang berbeda.
Pada pembahasan ini akan diulas beberapa hal terkait dengan perkembangan peserta didik dalam pendidikan Islam dalam tinjauan biopsikososiospiritual yang diawali dengan sekilas tentang pendidikan Islam, hakikat, karakteristik dan urgensi peserta didik dan perkembangannya, dimensi perkembangan peserta didik, factor yang mempengaruhinya serta bagaimana implikasinya dalam proses pembelajaran serta penutup.

B. Sekilas Pendidikan Islam
Secara garis besar pendidikan Islam merupakan suatu proses pembentukan individu berdasarkan ajaran–ajaran Islam yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammmad melalui proses dimana individu dibentuk agar dapat mencapai derajat yang tinggi sehingga ia mampu menunaikan tugasnya sebagai kholifah di muka bumi, yang dalam rangka lebih lanjut mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Pendidikan Islam adalah suatu proses sistem pendidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh anak didik dengan berpedoman pada ajaran Islam. Tegasnya, sebagaimana yang dikemukakan Ahmad D. Mariban bahwa Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.
M. Kamal Hasan sebagaimana dikutip Syamsul Nizar mendefinisikan pendidikan Islam adalah suatu proses yang komprehensif dari pengembangan kepribadian manusia secara keseluruhan yang meliputi aspek intelektual. spiritual, emosi, dan fisik. sehingga seorang muslim disiapkan dengan baik untuk melaksanakan tujuan kehadirannya di sisi Allah sebagai ’abd dan wakil-Nya dimuka bumi. Prof. Dr. Muhaimin secara lebih perasional menjelaskan tentang pendidikan Islam bahwa: Pendidikan Islam merupakan suatu sistem pendidikan yang diselenggarakan dengan hasrat dan niat untuk mengejawentahkan ajaran dan nilai-nilai Islam dalam kegiatan pendidikannya. Kata niat mengandung pengetian suatu usaha yang direncanakan dengan sungguh-sungguh yang muncul dari hati yang suci karena mengharap ridho-Nya, yang kemudian ditindaklanjuti dengam mujahadah (kesungguhan) dan dilakukan dengan muhasabah (kontrol dan evaluasi) terhadap niat yang direncanakan.
Dari pengertian pendidikan Islam yang dibangun oleh para Ahli, dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam adalah rangkaian proses yang sistematis, terencana dan komprehensif dalam upaya mentransfer nilai-nilai kepada anak didik, mengembangkan potensi mereka, sehingga anak didik mampu melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan nilai-nilai ilahiyah yang didasarkan pada ajaran agama (Qur’an dan hadits) pada semua dimensi kehidupan.
Dengan demikian, mengingat berat dan besarnya peran pendidikan dalam kehidupan manusia, maka perlu diformulasikan sedemikian rupa, baik yang menyangkut sarana insani maupun non insani secara komprehensif dan integral.

C. Beberapa Makna Peserta Didik dan Kriterianya
Sasaran pendidikan adalah manusia / peserta didik. Dengan pendidikan membantu peserta didik untuk mengembangkan potensi kemanusiaannya dan merupakan sarana yang membuat manusia menjadi lebih berguna. Dalam hakekat manusia sebagai makhluk Tuhan juga memiliki empat demensi: individu, sosial, susila, agama. Sifat hakekat manusia dengan segenap demensinya hanya dimiliki manusia, dan memberikan tempat kedudukan pada manusia sehingga derajatnya lebih tinggi daripada hewan dan sekaligus menguasai hewan.
Secara etimologi peserta didik adalah anak didik yang mendapat pengajaran ilmu. Secara terminologi peserta didik adalah anak didik atau individu yang mengalami perubahan, perkembangan sehingga masih memerlukan bimbingan dan arahan dalam membentuk kepribadian serta sebagai bagian dari struktural proses pendidikan. Dengan kata lain peserta didik adalah seorang individu yang tengah mengalami fase perkembangan atau pertumbuhan baik dari segi fisik dan mental maupun fikiran.
Dalam perspektif pedagogis, peserta didik diartikan sebagai sejenis makhluk ‘homo educantum’, makhluk yang menghajatkan pendidikan. Dalam pengertian ini, peserta didik dipandang sebagai manusia yang memiliki potensi yang bersifat laten, sehingga dibutuhkan binaan dan bimbingan untuk mengatualisasikannya agar ia dapat menjadi manusia susila yang cakap. Sedangkan dalam perspektif psikologis, peserta didik adalah individu yang sedang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik maupun psikis menurut fitrahnya masing-masing. Sebagai individu yang tengah tumbuh dan berkembang, peserta didik memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju ke arah titk optimal kemampuan fitrahnya.
Dalam perspektif Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 4, “peserta didik diartikan sebagai anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu.”
Sebagai individu yang tengah mengalami fase perkembangan, tentu peserta didik tersebut masih banyak memerlukan bantuan, bimbingan dan arahan untuk menuju kesempurnaan. Hal ini dapat dicontohkan ketika seorang peserta didik berada pada usia balita seorang selalu banyak mendapat bantuan dari orang tua ataupun saudara yang lebih tua. Dengan demikina dapat di simpulkan bahwa peserta didik merupakan barang mentah (raw material) yang harus diolah dan bentuk sehingga menjadi suatu produk pendidikan.
Atas dasar hal di atas, Nizar mendeskripsikan kriteria peserta didik, yaitu:
1. Peserta didik bukanlah miniatur orang dewasa tetapi memiliki dunianya sendiri
2. Peserta didik memiliki cirri khas dan periodasi perkembangan dan pertumbuhan
3. Peserta didik adalah makhluk Allah yang memiliki perbedaan individu baik disebabkan oleh faktor bawaan maupun lingkungan dimana ia berada.
4. Peserta didik merupakan dua unsur utama jasmani dan rohani, unsur jasmani memiliki daya fisik, dan unsur rohani memiliki daya akal hati nurani dan nafsu
5. Peserta didik adalah manusia yang memiliki potensi atau fitrah yang dapat dikembangkan dan berkembang secara dinamis.
6. Proses yg tdk pernah berhenti (never ending process). Terus menerus berkembang/ berubah dipengaruhi pengalaman/belajar sepanjang hidup.
7. Saling mempengaruhi pada setiap aspek perkemb baik biopsikososiospiritual-nya.
8. Mengikuti pola/arah tertentu. Tiap tahap merupakan hasil perkembangan tahap sebelumnya yg merupakan prasyarat bagi perkembangan selanjutnya.
9. Terjadi pada tempo yang berlainan.Ada yang cepat ada pula yang lambat.
10. Individu normal akan mengalami fase perkembangan: bayi -> kanak-kanak -> anak -> remaja -> dewasa -> masa tua.

D. Karakteristik, Konsep dan Urgensinya Memahami Peserta Didik
Agar seorang pendidik mampu membentuk peserta didik yang berkepribadian dan dapat mempertanggungjawabkan sikapnya, maka seorang pendidik harus mampu memahami peserta didik beserta segala karakteristiknya. Adapun hal-hal yang harus dipahami adalah : (1). Kebutuhannya; (2). dimensi-dimensinya, (3). Intelegensinya, dan (4). kepribadiannya. Sebagaimana kandungan dalam Surat Al Qasash [28] ayat 26.
Berdasarkan beberapa definisi tentang peserta didik yang disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik individu memiliki sejumlah karakteristik, diantaranya:
1) Peserta didik adalah individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga ia merupakan insan yang unik.
2) Peserta didik adalah individu yang sedang berkembang. Artinya peserta didik tengah mengalami perubahan-perubahan dalam dirinya secara wajar, baik yang ditujukan kepada diri sendiri maupun yang diarahykan pada penyesuaian dengan lingkungannya.
3) Peserta didik adalah individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi.
4) Peserta didik adalah individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri.
Disamping itu, ciri-ciri peserta didik dalam pandangan Ahmadi adalah: 1). kelemahan dan ketakberdayaannya; 2). Berkemauan keras untuk berkembang, dan 3). Ingin menjadi diri sendiri (memperoleh kemampuan). Disamping itu, bahwa perkembangan peserta didik memiliki ciri: 4). Semur hidup (life long); 5). Multidimensional terdiri atas biopsikososiospiritual; 6). Multidireksional (beberapa komponen meningkat, komponen yang lain menurun); 7). Lentur bergantung kemampuan individu.
Konsep mempunyai peranan penting karena dapat menentukan apa yang diketahui dan diyakini seseorang dan untuk sebagian besar apa yang dilakukan seseorang. Ada beberapa ciri konsep pada anak (peserta didik) yang dikemukakan oleh Elisabeth B. Hurlock yang dapat dijadikan rujukan, yaitu:
1. Konsep bersifat individual karena tidak ada anak yang mempunyai konsep yang identik.
2. Perkembangan konsep mengikuti sebuah pola dari yang sederhana menjadi kompleks, dari yang kongkrit menuju abstrak.
3. Konsep bersifat hierarkis (saling terkait)
4. Konsep perkembangan dari yang tidak tentu menuju spesifik.
5. Konsep berkembang dari spesifik kepada umum;
6. Konsep mempunyai bobot emosional, yaitu aspek efektif.
7. Konsep sering bertahan terhadap perubahan. Makin berat bobot emosiolan sebuah konsep, makin kuat daya tahannya terhadap perubahan.
8. Konsep mempengaruhi perilaku. Karena semua konsep mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial dengan mempengaruhi kualitas perilaku seseorang.
Untuk menerapkan konsep sebagaimana tersebut di atas, seorang pendidik seyogyanya memahami urgensi perkembangan peserta didik yaitu:
1) Dengan memahami peserta didik, seorang pendidik akan dapat memberikan harapan yang realistis terhadap anak dan remaja. Ini adalah penting, karena jika terlalu banyak yang diharapkan pada anak usia tertentu, anak mungkin akan mengembangkan perasaan tidak mampu jika ia tidak mencapai standar yang ditetapkan orangtua dan guru. Sebaliknya, jika terlalu sedikit yang diharapkan dari mereka, mereka akan kehilangan rangsangan untuk lebih mengembangkan kemampuannya.
2) Dengan memahami peserta didik, pendidik akan lebih mudah dalam memberikan respons yang tepat terhadap perilaku tertentu seorang anak.
3) Dengan memahami peserta didik, pendidik akan lebih mudah dalam mengenali kapan perkembangan normal yang sesungguhnya dimulai, sehingga guru dapat mempersiapkan anak menghadapi perubahan yang akan terjadi pada tubuh, perhatian dan perilakunya.
4) Dengan memahami peserta didik, pendidik akan lebih mudah dalam memberikan bimbingan belajar yang tepat pada peserta didik.

E. Makna Perkembangan Peserta Didik
Banyak orang menggunakan istilah pertumbuhan (growth) dan perkembangan (develpoment) secara interchangeably, artinya kedua istilah ini dipakai secara bergantian dengan maksud yang sama.
Walaupun begitu, sebenarnya kedua istilah ini mempunyai pengertian yang berbeda dan tak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif sedangkan perkembangan berkaitan dengan perubahan kualitatif dan kuantitatif. Perubahan kuantitatif yaitu peningkatan ukuran dan struktur. Tidak saja anak tumbuh besar secara fisik, tetapi ukuran dan struktur dalam dan otak meningkat. Akibat adanya pertumbuhan otak, anak mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk belajar, mengingat, dan berfikir. Anak tumbuh baik secara mental maupun fisik.
Sedangkan perkembangan yang berkaitan dengan perubahan kualitatif dan kuantitatif dapat didefinisikan sebagai deretan progresif dari perubahan yang teratur dan koheren. Progresif menandai bahwa perubahan terarah, membimbing mereka maju dan bukan mundur. Teratur dan koheren menunjukkan adanya hubungan nyata antara perubahan yang terjadi dan yang telah mendahului atau mengikutinya. Perkembangan merupakan suatu perubahan yang bersifat kualitatif sekaligus kuantitatif. Perkembangan tidak dalam segi material, melainkan pada segi fungsional.
Karena itulah, masalah perkembangan merupakan bagian dari kajian ilmu psikologi yang menitikberatkan pada pemahaman proses-proses dasar serta dinamika perilaku manusia dalam berbagai tahapan kehidupan. Cakupan dari psikologi perkembangan adalah masalah perkembangan dan kematangan individu baik segi kognitif, emosi maupun sturuktur kepribadiannya.
Istilah perkembangan (development) dalam psikologi merupakan konsep yang cukup rumit dan kompleks. Didalamnya terkandung banyak dimensi. Oleh sebab itu, untuk dapat memahami konsep perkembangan, menurut Desmita perlu terlebih dahulu memahami beberapa konsep lain yang terkandung didalamnya, diantaranya: pertumbuhan, kematangan dan perubahan.

F. Beberapa Teori Perkembangan Peserta Didik
Perkembangan manusia menunjuk kepada perubahan – perubahan yang terjadi selama rentang hidup seseorang. Dalam memahami masa perkembangan anak, terdapat banyak teori yang mengungkapkan dari yang sederhana sampai pada yang rumit, diantaranya:
1. Teori Psikodinamika
Teori ini berupaya menjelaskan hakikat dan perkembangan kepribadian. Unsur-unsur yang sangat diutamakan dalam teori ini adalah motivasi, emosi, dan aspek-aspek internal lainnya. Para teoritisi psikodinamik percaya bahwa perkembangan merupakan suatu proses aktif dan dinamis dan sangat dipengaruhi oleh dorongan-dorongan individu yang dibawa sejak lahir serta pengalaman-pengalaman sosial dan emosional mereka. Teori ini dalam psikologi perkembangan dipengaruhi oleh Sigmund Freud dengan dengan teori psikoseksualnya dan Erik Erickson dengan psikososialnya.
Freud menggunakan istilah erogeneus zones yaitu daerah kenikmatan seksual untuk menjelaskan 3 bagian tubuh (mulut, dubur dan alat kelamin). Pada tahapan tertentu, anak merasakan kenikmatan tertentu pada daerah tersebut.
Tahap Usia Ciri – ciri perkembangannya
Oral 0-1 tahun Bayi merasakan kenikmatan pada daerah mulut. Mengunyah, mengigit, dan menghisap adalah sumber kenikmatannya.
Anal 1-3 tahun Kenikmatan terbesar anak terletak disekitar lubang anus. Ini berkaitan dengan aktivitas buang air besar
Phalic 3-6 tahun Kenikmatan berfokus pada alat kelamin. Anak mulai melihat perbedaan anatomik antara laki-laki dan perempuan.
Lateracy 6-12 tahun Anak menekan semua minat terhadap seks dan mengembangkan keterampilan intelektual dan sosial.
Genital 12-dewasa Dorongan seks yang ada pada masa phalic kembali berkembang. Kematangan fisiologis ketika anak memasuki masa remaja, mempengaruhi timbulnya daerah-daerah erogen pada alat kelamin sebagai sumber kenikmatan.

Tabel 1 : Tahap – tahap perkembangan psikoseksual anak

Sedangkan Erik Erikson (1902-1994) dengan psikososialnya berpendapat bahwa dalam kaitanya dengan perkembangan manusia, tahap-tahap perkembangannya dibentuk oleh pengaruh-pengaruh sosial yang berinteraksi dengan organisme yang matang secara fisik maupun psikologis.
Menurut teori ini, perkembangan manusia dibedakan berdasarkan kualitas ego yang terbagi dalam 8 tahap perkembangan, yaitu empat tahap pada masa bayi dan kanak-kanak, tahap kelima pada andolesen, dan tiga tahap terahir pada masa dewasa dan usia tua.
2. Teori Perkembangan Kognitif
Teori perkembangan kognitif Piaget berusaha menjelaskan bagaimana anak beradaptasi dengan menginterpretasikan obyek dan kejadian-kejadian disekitarnya. Peaget percaya bahwa pemikiran anak-anak berkembang menurut tahap-tahap yang terus bertambah kompleks. Tahapan tersebut meliputi tahap sensorimotor (0-2 tahun), pra-operasional (2-7 tahun), operasional kongkrit (7-11 tahun), dan masa oprasional formal (11-15 tahun).
3. Teori Kontekstual
Teori kontekstual memandang perkembangan sebagai proses yang terbentuk dari transaksi timbal balik antara anak dan konteks perkembangan sistem fisik, sosial, kultur dan historis dimana interaksi tersebut terjadi. Beberapa teori yang berpengaruh dalam teori kontekstual adalah teori etologis dan teori ekologis.
Etologi menurut Santrock menekankan bahwa perilaku sangat dipengaruhi oleh biologi, terkait dengan evolusi, dan ditandai oleh periode yang penting atau peka. Pentingnya pengaruh evolusi bagi para ahli etologi adalah karena mereka mempercayai bahwa tingkah laku individu sampai batas-batas tertentu ditentukan oleh turun-temurunnya secara evolusi, serta suasana genetik individual yang diturunkan oleh orang tua. Para etolog meyakini bahwa laboratorium bukanlah setting yang baik untuk mengamati perilaku; mereka mengamati perilaku secara teliti dalam lingkungan alamiyahnya, dirumah, ditaman, sekolah, rumah sakit, dan lain-lain.
Sedangkan pada teori ekologis lebih menekankan pada sistem lingkungan. Teori ini dipelopori oleh Urie Bonfenbrenner (1917- ..) yang memandang bahwa perkembangan sosiokultural individu terdiri dari lima sistem lingkungan, yaitu:
1. Mikrosistem, yaitu setting dimana ia hidup yang meliputu keluarga, teman sebaya, sekolah dan lingkungan.
2. Mesosistem, ialah hubungan atara beberapa mikrosistem atau hubungan antara beberapa konteks. Misalnya hubungan pengalaman keluarga dan sekolah, sekolah dengan keagamaan, keluarga dengan teman sebaya, dll.
3. Ekosistem, ialah setting sosial dimana individu tidak berpartisipasi aktif, tetapi keputusan penting yang diambil mempunyai dampak terhadap orang yang langsung berhubungan dengannya. Contoh, dewan sekolah, pemerintah otonom, orang tua kelompok sebaya, dll.
4. Makrosistem, ialah setting kebudayaan dimana individu hidup. Kebudayaan mengacu pada pola perilaku, keyakinan, dan sejumlah produk yang diteruskan dari generasi ke generasi.
5. Kronosistem, yaitu suatu setting peristiwa-peristiwa lingkungan dan transisi sepanjang rangkaian kehidupan dan keadaan-keadaan sosiohistoris (waktu).
4. Teori Behavior dan Belajar Sosial
Teori perilaku (behavior) menegaskan bahwa dalam mempelajari individu, yang dilakukan adalah menguji dan mengamati perilakunya, bukan mengamati bagian dalam tubuh. Sedangkan teori belajar sosial ialah pandangan para pakar psikologi yang lebih menekankan perilaku, lingkungan dan kognisi sebagai faktor kunci dalam perkembangan.
Para teoritisi belajar sosial mengemukakan bahwa manusia tidak seperti robot yang tidak memiliki pikiran, yang tanggap secara mekanis. Manusia berfikir, bernalar, membayangkan, merencanakan, mengharapkan, menginterpretasikan, meyakini, menilai dan membandingkan sesuatu. Ketika orang lain mencoba mengendalikan kita, nilai-nilai dan keyakinan kita memungkinkan kita menolak kendali mereka.
Dari beberapa teori yang telah dijabarkan di atas, terlihat bahwa tidak ada satu teori yang dapat menjelaskan kompleksitas perkembangan masa hidup yang komlit. Masing-masing teori memberikan sumbangan yang berbeda, dan strategi yang paling bijak adalah mengadopsi prespektif teoretis elektif jika memahami perkembangan anak secara lebih komprehensif.

G. Dimensi Perkembangan Peserta Didik sebagai Proses Holistik
Konsep anak di pandang sebagai totalitas adalah merupakan organisme yang terdiri dari suatu keseluruhan, dan keseluruhan yang ada dalam diri anak tersebut saling terjalin atau saling berkaitan antara satu sama lain.Anak sebagai totalitas juga berarti anak dipandang sebagai makhluk hidup yang utuh, yang tidak hanya dapat dipandang sebagai sekumpulan organ tubuh antara kepala, kaki, tangan, lengan, serta organ tubuh lainnya.Sebagai contoh, apabila anak sakit pasti akan rewel, atau anak yang marah biasanya akan menangis menjerit-jerit.
Pada hakekatnya dimensi adalah salah satu media yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk membentuk diri, sikap, mental, sosial, budaya, dan kepribadian di masa yang akan datang (kedewasaan).
Widodo Supriyono, dalam bukunya yang berjudul Filsafat manusia dalam Islam, secara garis besar membagi dimensi menjadi dua, yaitu dimensi fisik dan rohani. Dalam bukunya ia menyatakan bahwa secara rohani manusia mempunyai potensi kerohanian yang tak terhingga banyaknya. Potensi-potensi tersebut nampak dalam bentuk memahami sesuatu (Ulil Albab), dapat berfikir atau merenung, memepergunakan akal, dapat beriman, bertaqwa, mengingat, atau mengambil pelajaran, mendengar firman tuhan, dapat berilmu, berkesenian, dapat menguasai tekhnologi tepat guna dan terakhir manusia lahir keduania dengan membawa fitrah.
1. Dimensi Fisik (Biologis)
Fisik manusia terdiri dari dua unsur, yaitu unsur biotik dan unsur abaiotik. Manusia sebagai peserta didik memiliki proses penciptaan yang sama dengan makhluk lain seperti hewan. Namun yang membedakan adalah manusia lebih sempurna dari hewan, hal ini dikarenakan manuasia memiliki nafsu yang dibentengi oleh akal sedangkan hewan hanya memiliki nafsu dan insthink bukanya akal.
Antara manusia dan hewan jiak dilihat susunan penciptaan secara abiotik dan biotik manusia dan hewan memiliki proses penciptaan dan struktur yang sama, yaitu tercipta dari inti sari tanah, air, api, dan udara. Perbedaan itu bukan saja pada unsur tanah dan api, tetapi yang lebih penting adalah bahwa pada unsur kejadian manusia ada ruh ciptaan Allah swt. Dari keempat elemen abiotik itu oleh Allah SWT diciptakanlah makhluk yang didalamnya diberikan sebuah energi kehidupan yang berupa ruh. . Unsur ruh ini tidak ditemukan pada iblis maupun jin. Unsur ruh itulah yang mengantar manusia lebih mampu mengenal Allah swt., beriman, berbudi luhur serta berperasaan halus.3
Ramayulis, dalam bukunya ia mengambil pendapat Alghazali yang menyatakan bahwa daya hidup yang berupa ruh ini merupakan vitalitas kehidupan yang sangat bergantung pada konstruksi fisik seperti susunan sel, fungsi kelenjar, alat pencernaan, susunan saraf, urat, darah, daging, tulang sumsum, kulit, rambut, dan sebagainya.
Al-Qur’an menggambarkan perkembangan fisik manusia dari lahir sampai meninggal dalam suatu siklus alamiyah. Hal ini dinyatakan dalam QS. Ar-Ruum :54.
2. Dimensi Rohani (Psikologis)
Tidak jauh berbeda dengan dimensi fisik, dimensi rohani adalah dimensi yang sangat penting dan harus ada pada peserta didik. Hal ini dikarenakan rohani (psikologis) harus dapat mengendalikan keadaan manusia untuk hidup bahagia, sehat, merasa aman dan tenteram. Penciptaan manusia tidak akan sempurna sebelum ditiupkan oleh Allah sebagian ruh baginya. Allah SWT berfirman: Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud (Al – hijr : 29).
Menurut Al- Ghazali ruh terbagi menjadi dua bentuk, yaitu al – ruh dan al- nafs. Al-ruh adalah daya manusia untuk mengenal dirinya sendiri, tuhan, dan mencapai ilmu pengetahuan, sehingga dapat menentukan manusia berkepribadian, berakhlak mulia serta menjadi motivator sekaligus penggerak bagi manusia untuk menjalankan perintah Allah. Al-nafs adalah pembeda dengan makhluk lainnya dengan kata lain pembeda tingkatan manusia dengan makhluk lain yang sama-sama memiliki al-nafs seperti halnya hewan dan tumbuhan.
Ruh merupakan unsur yang di dalamnya terkandung kesiapan manusia untuk merealisasikan hal-hal yang paling luhur dan sifat-sifat yang paling suci. Ruh-lah yang membuat manusia siap untuk membumbung tinggi melampaui peringkat hewan. . Karena ruh merupakan lathifah maka ia merupakan suatu unsur ilahi. Sebagai sesuatu yang halus, ruh merupakan kelengkapan pengetahuan yang tertinggi dari manusia.
Manusia berada dalam fitrahnya yang benar, ketika unsur ruh mengendalikan dan mengarahkan unsur jasmani. Ketika itu ruh memberikan pengetahuan, pengertian, kehendak, ikhtiar, dan ketetapan atau keputusan atas sesuatu kepada jasmaninya. Manusia dikatakan tidak berada dalam fitrahnya yang normal, ketika kecenderungan jasmani terlalu mendominasinya, dan menguasai berbagai perilakunya.
Melalui unsur ruh yang ada dalam dirinya, mengantarkan manusia untuk menundukkan kebutuhan-kebutuhan jasmaninya sesuai dengan tuntunan ilahi. Al-ruh al-ilahi adalah daya tarik yang mengangkat manusia ke tingkat kesempurnaan, ahsani taqwim. Apabila manusia melepaskan dari daya tarik tersebut, ia akan jatuh meluncur ke tempat sebelum daya tarik tadi berperan dan ketika itu terjadilah kejatuhan manusia.
3. Dimensi Sosial
Dimensi sosial bagi manusia sangat erat kaitannya dengan sebuah golongan, kelompok, maupun lingkungan masyarakat. Lingkungan terkecil dalam dimensi sosial adalah keluarga, yang berperan sebagai sumber utama peserta didik untuk membentuk kedewasaan. Didalam Islam dimensi sosial dimaksudkan agar manusia mengetahui bahwa tanggung jawab tidak hanya diperuntukkan pada perbuatan yang bersifat pribadi namun perbuatan yang bersifat umum. Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial dapat pula diartikan sebagao proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama.
Dalam dimensi sosial seorang peserta didik harus mampu menjalin ikatan yang dinamis antara keperntingan pribadi dengan kepentingan sosial. Ikatan sosial yang kuat akan mendorong setiap manusia untuk peduli akan orang lain, menolong sesama serta menunjukkan cermin keimanan kepada Allah SWT.
4. Dimensi Keberagaman (Spiritual)
Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata-kata orang yang ada dalam lingkungannya, yang pada awalnya diterima secara acuh. Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta diragukan kebaikan niatnya. Tidak adanya perhatian terhadap tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya kesana, baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Namun, setelah ia menyaksikan reaksi orang- orang disekelilingnya yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas, maka mulailah perhatiannya terhadap kata tuhan itu tumbuh.
Manusia sejak lahir kedunia telah menerima kodrat sebagai homodivinous atau homo religius yaitu makhluk yang percaya akan adanya tuhan atau makhluk yang beragama. Dalam agama Islam diyakini bahwa pada saat janin manusia berada dalam kandungan seorang ibu, dan ketika ditiupkan nyawa kedalam janin tersebut oleh sang kholiq, maka janin mengatakan bahwa aku Akan beriman kepada-Mu (Allah). Dari sinilah manusia mempunyai fitrah sebagai makhluk yang memiliki kepercayaan akan adanya tuhan sejak lahir. Hal ini ditegaskan dalam surat Al A’raf: 172).
Dengan kehalusan dan fitrah ini, pada saat tertentu, sesorang setidak-tidaknya pasti mengalami, mempercayai bahkan meyakini dan menerimanya tanpa keraguan, bahwa di luar dirinya ada suatu kekuatan yang Maha Agung yang melebihi apapun termasuk dirinya. Penghayatan seperti itulah oleh William James (Gardner Murphy,1 967) disebut sebagai pengalaman religi atau keagamaan (the existence of great power) melainkan juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata hidup manusia dan alam semesta raya ini. Karenanya, manusia memenuhi aturan itu dengan penuh kesadaran, ikhlas disertai penyerahan diri dalam bentuk ritual baik secara ritual maupun kolektif, baik secara simbolik maupun dalam bentuk nyata dalam hidup sehari-hari.
Berkaitan dengan adanya kepercayaan akan adanya tuhan, Islam memiliki tiga implikasi dasar pada diri manusia yang didasarkan dari adanya satu kesamaan dari jutaan perbedaan yang terdapat diri manusia, yaitu:
1. Impikasi yang berkaitan dengan pendidikan di masa depan, dimana fitrah dikembangkan seoptimal mungkin dengan tidak mendikotomikan materi
2. Tujuan (ultimate goal) pendidikan, yaitu insan kamil yang akan berhasil jika manusia menjalankan tugasnya sebagi abdullah dan kholifah
3. Muatan materi dan metodologi pendidikan, diadakan spesialisasi dengan metode integralistik dan disesuaikan dengan fitrah manusia.
Secara harfiyah SQ (Spiritual Qutient) beroperasi dari pusat otak -yaitu dari fungsi-fungsi pepenyatu otak. SQ mengintegrasikan semua kecerdasan dan menjadikan kita mahluk yang benar-benar utuh secara intelektual, emosional dan spiritual. Jelasnya, SQ merupakan landasan yang diperlukan untuk memfungsikan dan memaksimalkan IQ dan EQ secara efektif. IQ maupun EQ secara terpisah atau bersama-sama tidak cukup untuk menjelaskan kompleksitas kecerdasan manusia, kekayaan jiwa dan juga imajinasinya sebagai sumber dari kreativitas.
Tahap perkembangan rentang hidup manusia dalam keyakinan (spiritual) menurut James W Flower terbagi dalam 6 tahap yaitu:

Usia Kepercayaan Karakteristik
0 – 7 th Intuitif – proyektif  Belum bisa membedakan khayalan dan realitas.
 Kejiwaan belum terlindungi dari ketidaksadaran
7 – 11 th Mystical – literal  Telah mengembangkan keimanan yang kuat dalam kepercayaannya.
 Sudah mengalami prinsip saling ketergantungan dengan alam.
11 – 20 th Sintetik – konvensional  Mengembangkan karakter keilmuan terhadap kepercayaannya.
 Mempelajari karakter kepercayaan orang lain, namun masih terbatas pada kepercayaan yang sama
20-40 th Individuatif -reflektif  Mengembangkan tanggung jawab terhadap kepercayaan dan perasaannya
 Memperluas pandangan untuk mencapai jalan kehidupannya.
40-60 th Konjungtif  Mulai mengenali pertentangan yang terdapat dlm realitas kepercayaannya.
 Terjadi transendensi terhadap kepercayaannnya.
60-meninggal Universal  Mengalami transenden pada tingkat pengalaman yang lebih tinggi sebagai hasil dari pengalamannya terhadap lingkungan.

Tabel 2 : Tahap Perkembangan Spiritual Flower

Spiritualitas memiliki ruang lingkup dan makna yang luas. Namum penelitian Martsof dan Micley (1998) sebagaimana dikutip Aliyah B. Purwakania menunjukkan kata kunci, yaitu: makna (meaning), nilai-nilai (values), transendensi (trancendence), bersambung (connecting) dan menjadi (becoming), yang fungsinya dijelaskan sebagai berikut:
”Makna merupakan sesuatu yang mengarahkan pada tujuan. Nilai-nilai adalah kepercayaan, standart dan etika yang dihargai. Transendensi merupakan pengalaman, kesadaran dan penghargaan terhadap dimensi transenden terhadap kehidupan di atas diri seseorang. Bersambungan adalah meningkatkan kesadaran terhadap hubungan diri sendiri, orang lain, Tuhan dan alam sekitar. Menjadi adalah membuka kehidupan yang menuntut refleksi dan pengalaman termasuk siapa dan bagaimana seseorang mengetahui”.

Namun, untuk mengetahui bagaimana perkembagan SQ dalam setiap perkembangan manusia, belum tersedia data yang dapat dijadikan pedoman. Meskipun demikian, yang pasti anak-anak telah memiliki dasar kemampuan SQ yang dibawanya sejak lahir. Untuk mengembangkan kemampuan ini, pendidikan mempunyai peran yang sangat penting. Untuk itu, pendidikan agama (Islam) nampaknya harus tetap dipertahankan bahkan harus terus ditingkatkan sesuai dengan perkembangan zaman. Tanpa pendidikan Agama (Islam), mustahil SQ dapat berkembang dengan baik dan maksimal dalam diri anak.
Dengan memahami perkembangan keagamaan anak diharapkan bagi para pendidik untuk dapat berupaya secara optimal membantu mengembangkan potensi keagamaan anak. Karena, semakin banyak pengetahuan tentang keagamaan anak, maka akan semakin baik kita membimbing keagamaan anak.
5. Dimensi Moral / Akhlaq
Aspek kehidupan manusia yang paling penting adalah aspek moralitas (akhlaq). Ia yang dapat membedakan baik-buruk, benar-salah, pantas-tak pantas, dan sebagainya. Moralitas memiliki tiga komponen, yaitu afektif, kognitif dan perilaku. Komponen afektif atau emosi terdiri dari berbagai perasaan seperti bersalah, malu, perhatian terhadap perasaan orang lain, dan lainnya yang meliputi tindakan benar-salah yang memotivasi pikiran dan tindakan moral. Komponen kognitif dimana orang melakukan konseptualisasi benar-salah dan membuat keputusan bagaimana seseorang harus berperilaku. Sedangkan komponen perilaku mencerminkan bagaimana seseorang berperilaku ketika menghadapi godaan.
Kajian Kohlberg tentang moral tertumpu pada argumentasi anak dan perkembangan argumentasi itu sendiri. Melalui penelitian yang dilakukannya selama 14 tahun, Kohlberg kemudian mampu mengidentifikasi 6 (enam) tahap dalam moral reasoning yang kemudian dibagi dalam tiga taraf.
a) Taraf Pra-Konvensional. Pada taraf ini anak telah memiliki sifat responsif terhadap peraturan dan cap baik dan buruk, hanya cap tersebut ditafsirkan secara fisis dan hedonistis (berdasarkan dengan enak dan tidak enak, suka dan tidak suka) kalau jahat dihukum kalau baik diberi hadiah. Anak pada usia ini juga menafsirkan baik buruk dari segi kekuasaan dari asal peraturan itu diberi, orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya. Pada taraf ini terdiri dari dua tahpan yaitu :
1) Punishment and obedience orientation. Akibat-akibat fisik dari tindakan menentukan baik buruknya tindakan tersebut menghindari hukuman dan taat secara buta pada yang berkuasa diangga bernilai pada dirinya sendiri.
2) Instrument-relativist orientation. Akibat dalam tahap ini beranggapan bahwa tindakan yang benar adalah tindakan yang dapat menjadi alat untuk memuaskan kebutuhannya sendiri dan kadang-kadang juga kebutuhan orang lain. Hubungan antar manusia dianggap sebagai hubungan jual beli di pasar. Engkau menjual saya membeli, saya menyenangkan kamu, maka kamu mesti menyenangkan saya.
b) Conventional Level (taraf Konvensional). Pada taraf ini mengusahakan terwujudnya harapan-harapan keluarga atau bangsa bernilai pada dirinya sendiri. Anak tidak hanya mau berkompromi, tapi setia kepadanya, berusaha mewujudkan secara aktif, menunjukkan ketertiban dan berusaha mewujudkan secara aktif, menunjang ketertiban dan berusaha mengidentifikasi diri mereka yang mengusahakan ketertiban social. Dua tahap dalam taraf ini adalah:
1) Tahap interpersonal corcodance atau “good boy-nice girl” orientation. Tingkah laku yang lebih baik adalah tingkah laku yang membuat senang orang lain atau yang menolong orang lain dan yang mendapat persetujuan mereka. Supaya diterima dan disetujui orang lain seseorang harus berlaku “manis”. Orang berusaha membuat dirinya wajar seperti pada umumnya orang lain bertingkah laku. Intensi tingkah laku walaupun kadang-kadang berbeda dari pelaksanaanya sudah diperhitungkan, misalnya orang-orang yang mencuri buat anaknya yang hampir mati dianggap berintensi baik.
2) Tahap law and order, orientation. Otoritas peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan dan pemeliharaan ketertiban social dijunjung tinggi dalam tahap ini. Tingkah laku disebut benar, bila orang melakukan kewajibannya, menghormati otoritas dan memelihara ketertiban social.
c) Postconventional Level (taraf sesudah konvensional). Pada taraf ini seorang individu berusaha mendapatkan perumusan nilai-nilai moral dan berusaha merumuskan prinsip-prinsip yang sah (valid) dan yang dapat diterapkan entah prinsip itu berasal dari otoritas orang atau kelompok yang mana. Tahapannya adalah :
1) Social contract orientation. Dalam tahap ini orang mengartikan benar-salahnya suatu tindakan atas hak-hak individu dsan norma-norma yang sudah teruji di masyarakat. Disadari bahwa nilai-nilai yang bersiat relative, maka perlu ada usaha untuk mencapai suatu consensus bersama.
2) The universal ethical principle orientation. Benar salahnya tindakan ditentukan oleh keputusan suara nurani hati. Sesuai dengan prinsip-prinsip etis yang dianut oleh orang yang bersangkutan, prinsip prinsip etis itu bersifat avstrak. Pada intinya prinsip etis itu adalah prinsip keadilan, kesamaan hak, hak asasi, hormat pada harkat (nilai) manusia sebagai pribadi.
Sedangkan akhlak menurut pengertian Islam adalah salah satu hasil dari iman dan ibadat, karena iman dan ibadat manusia tidak sempurna kecuali kalau dari situ muncul akhlak yang mulia. Maka akhlak dalam Islam bersumber pada iman dan taqwa dan mempunyai tujuan langsung yaitu keridhoan dari Allah SWT. Akhlak dalam Islam memiliki tujuh ciri, yaitu:
1. bersifat menyeluruh atau universal
2. menghargai tabiat manusia yang terdiri dari berbagai dimensi
3. bersifat sederhana atau tidak berlebih-lebihan
4. realistis, sesuai dengan akal dan kemampuan manusia
5. kemudahan, manusia tidak diberi beban yang melebihi kemampuannya
6. mengikat kepercayaan dengan amal, perkataan, perbuatan, teori, dan praktek
7. Tetap dalam dasar-dasar dan prinsip-prisnsip akhlak umum.
Pendidikan akhlak mulai diberikan sejak manusia lahir kedunia, dengan tujuan untuk membentuk manusia yang bermoral baik, berkemauan keras, bijaksana, sempurna, sopan dan beradab, ikhlas, jujur, dan suci. Namun perlu disadari bahwasannya pendidikan akhlak akan dapat terbentuk dari adanya pengalaman pada diri peserta didik.
6. Dimensi Akal
Ramayulis dalam bukunya ia mengambil pendapat al – Ishfahami yang membagi akal menjadi dua macam yaitu :
a) Aql Al-Mathhu’: yaitu akal yang merupakan pancaran dari Allah SWT sebagai fitrah Illahi.
b) Aql al-masmu: yaitu akal yang merupakan kemampuan menerima yang dapat dikembangkan oleh manusia. Akal ini tidak dapat dilepaskan dari diri manusia, karena digunakan untuk menggerakkan akal mathhu untuk tetap berada di jalan Allah.
Akal memiliki fungsi sebagai : 1). Penahan nafsu; 2). Akal adalah pengertian dan pemikiran yang berubah-ubah dalam menghadapi sesuatu baik yang nampak jelas maupun yang tidak jelas; 3). Akal adalah petunjuk yang membedakan hidayah dan kesesatan, 4). Akal adalah kesadaran batin dan pengaturan; 5). Adalah pandangan batin yang berpandangan tembus melebihi penglihatan mata, dan 6). Akal adalah daya ingat mengambil dari masa lampau untuk masa yang akan dihadapi.
Akal pada diri manusia tidak dapat berdiri sendiri, ia membutuhkan bantuan qolb (hati) agar dapat memahami sesuatu yang bersifat ghoib seperti halnya ketuhanan, mu’jizat, wahyu dan mempelajarinya lebih dalam. Akal yang seperti ini adalah potensi dasar manusia yang ada pada diri manusia sejak lahir. Potensi ini perlu mendapatkan bimbingan serta didikan agar tetap mampu berkembang kearah yang positif.
7. Dimensi Bahasa
Perkembangan kosa kata anak usia ahir anak-anak (6 – 12 th) meningkat dan cara anak menggunakan kata dan kalimat bertambah kompleks dan meyerupai orang dewasa. Dari berbagai pelajaran yang diberikan melalui bacaan, pembicaraan dengan anak-anak lain, media cetak maupun elektronik, anak menambah kosakatanya yang dipergunakan dalam percakapan dan tulisan. Ketika anak masuk kelas I Sekolah Dasar perbendaharaan kosa katanya sekitar 20.000 – 24.000 kata. Pada saat anak duduk di kelas 6, perbendaharaan katanya meningkat menjadi sekitar 50.000 kata.
Selain kosa kata, perkembangan bahasa anak juga terlihat dalam cara anak berfikir tentang kata-kata. Pendekatan mereka lebih analitis terhadap kata-kata yang menolong mereka memahami kata-kata yang tidak berkaitan langsung dengan pengalaman-pengalaman pribadinya. Ini memungkinkan anak menambah kosakata yang lebih abstrak ke dalam perbendaharaan kata mereka. Kemampuan analitis anak juga disertai dengan kemampuan dalam tata bahasa. Usia 6 tahun Anak sudah menguasai hampir semua struktur kalimat. Usia 6-9 tahun panjang kalimat semakin bertambah. Setelah usia 9 tahun, secara bertahap anak mulai menggunakan kalimat yang lebih singkat, padat serta dapat menerapkan berbagai aturan tata bahasa secara tepat.
8. Dimensi Peran Jenis Kelamin (Gender)
Jenis kelamin anak merupakan seuatu yang penting dalam perkembangannya. Perbedaan jenis kelamin tidak hanya karena warisan biologis tapi juga membawa konsekwensi peran dan tanggung jawab yang berbeda. Masyarakat menuntut laki-laki dan perempuan untuk bertingkah laku berbeda sesuai dengan perannya. Proses dimana seseorang memahani jenis kelaminnya disebut penggolongan gender.
Penggolongan gender merupakan proses dimana anak mendapatkan identitas gender sesuai yang diharapkan masyarakat. Masyarakat memiliki standart peran jenis kelamin yang berupa seperangkat nilai, motif dan perilaku yang dianggap lebih cocok untuk satu jenis kelamin tertentu. Berikut adalah berbagai peran yang dimainkan oleh karena perbedaan jenis kelamin tradisional, yaitu:
Perbedaan Peran berdasarkan Jenis Kelamin anak
Perempuan Laki-laki
Memiliki peran ekspresif
Koopertaif / patuh
Baik hati
Memelihara
Sensitif terhadap kebutuhan
Kemampuan verbal
Ekspresif secara emosional
Pemalu dan penakut
Bersifat sosial
Lebih mudah dipengaruhi
Kurang berfikir logis, dll Memiliki peran instrumental
Dominan dan mandiri
Asertif
Kompetitif
Orientasi pada tujuan
Kemampuan logika aritmatika serta visual spasial
Tidak mudah dipengaruhi
Berfikir Logis . dll

Tabel 3 : Perbedaan peran gender pada anak

Gender merupakan dimensi psikologis dan sosiokultural yang dimiliki karena seseorang adalah laki-laki atau perempuan. Ada dua aspek penting dari gender : identitas gender dan peran gender. Identitas gender adalah perasaan menjadi laki-laki atau perempuan, yang biasanya dicapai ketika anak berusia 3 tahun. Peran gender adalah sebuah set harapan yang menggambarkan bagaimana pria atau wanita seharusnya berpikir, bertindak atau merasa.

H. Faktor–Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Peserta Didik
Secara umum, perkembangan potensi anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan baik itu sosial dimana anak itu tinggal maupun lingkungan keluarga dan pola asuh orang tua. Faktor ini merupakan faktor penting selain juga ditentukan oleh predisposisi genetik dalam diri anak. Dua faktor inilah yang mempengaruhi perkembangan potensi kreatif anak melalui interaksi antara pribadi anak dan lingkungannya. Untuk itulah peran orang tua, guru, lingkungan sangat penting dalam pengembangan kecerdasan kreatif anak.
Noehdi Nasution, dkk. Sebagaimana sisitir oleh Syaiful Bahri Djamrah memandang bahwa belajar –yang termasuk didalamnya pengembangan kreativitas anak- bukanlah suatu aktivitas yang berdiri sendiri. Ada unsur-unsur lain yang berkesinambungan yang ikut terlibat langsung didalamnya yang secara sekematis dijabarkan sebagai berikut:
Gambar 1 : Unsur-unsur pembelajaran.
Dalam gambaran di atas, disajikan gagasan bahwa masukan mentah (row input) merupakan bahan yang diproses dalam pembelajaran (learning teaching process) dengan harapan mendapatkan output dengan kualifikasi tertentu sebagaimana ditetapkan sebelumnya. Di dalam proses belajar mengajar tidak kalah pentingnya adalah faktor lingkungan (environmental input) dan sejumlah faktor instrumental (instrumental input) yang dengan sengaja dirancang dan dimanipulasi guna tercapainya output yang diharapkan.
Dalam konteks pembelajaran, Muhibbin Syah membedakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan anak (peserta didik) secara global dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
1. Faktor internal, yakni keadaan / kondisi jasmani dan rohani anak. Aspek jasmaniyah (fisiologis) terdiri dari kondisi umum jasmani yang menandai tingkat kebugaran organ tubuh dan sendi-sendinya serta indra pendengaran dan penglihatan sangat mempengaruhi anak dalam menyerap dan informasi dan pengetahuan.
Sedangkan dari aspek psikokologis faktor yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran yang pada umumnya dipandang lebih esensial adalah intelegensi anak, sikap (attitude), bakat (aptitude) dan minat (interest) anak serta motivasi anak merupakan hal yang memepengaruhi anak dalam pembelajaran.
2. Faktor eksternal, yakni kondisi lingkungan disekitar anak. Faktor ini terbagi menjadi faktor sosial dan non sosial. Lingkungan sosial terdiri dari pengaruh keluarga, guru dan staf, masyarakat dan teman bergaul di masyarakat. Sedangkan faktor non sosial yang adalah kondisi gedung sekolah, rumah tempat tinggal, alat-alat belajar, keadaan geografis, cuaca dan waktu yang digunakan belajar anak dalam proses pembelajaran.
3. Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni upaya belajar yang meliputi strategi dan metode yang digunakan untuk melakukan kegiatan pembelajaran secara efektif dan efisien.
Secara lebih komprehensif, Joko Susilo memberikan suatu ulasan tentang beberapa aspek yang mempengaruhi perkembangan kreativitas yang terkait dengan proses pembelajaran yang secara sekematis dijabarkan sebagai berikut:
 

 

 

 

 

 

Gambar 2: Faktor yang mempengaruhi Perkembangan Peserta didik dalam Pembelajaran

Singih D. Sunarsa dan Kasmiran Wuryo membagi faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan menjadi dua faktor: faktor endogen dan faktor eksogen. Yang dimaksud dengan faktor endogen ialah faktor-faktor yang ada dalam diri individu sendiri yang di bawa sejak kelahirannya. Atau dengan kata lain, faktor endogen ini dapat disebut factor hereditas (keturunan), bakat dan dasar (talenta). Sedangkan faktor eksogen adalah faktor dari luar. Tetapi menurut Kasmiram sebagaimana dikutip Imam Bawani bahwa faktor eksogen ini sudah berpengaruh sejak anak masih dalam kandungan dan terus berlangsung sampai ahir hayat. Faktor eksogen ini meliputi faktor biologis, psikis, ekonomi, kutural, edukatif, religius dan geografis.
Kartono mengemukakan bahwa perkembangan anak yang sehat akan berkembang jika kombinasi dari fasilitas yang diberikan oleh lingkungan dan potensialitas kodrati anak bisa mendorong berfungsinya segenap kemampuan anak. Dan kondisi sosial menjadi sangat tidak sehat apabila segala pengaruh lingkungan merusak, bahkan melumpuhkan potensi psiko-fisis anak.
Hal di atas kiranya sesuai dengan konsep Islam tentang aspek yang mempengaruhi perkembangan dan kreatifitas anak dalam pembelajaran. Ini dapat kita temukan dalam Al-Qur’an surat Al-Isra’: 84 yaitu:
قل كل يعمل على شاكلته فربكم أعلم بمن هو أهدى سبيلاً
Artinya: Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.

Arti kata ” شاكلته علي” menurut Hasbi As Shidiqiy dalam tafsirnya An-Nuur bermakna “perkembangan adalah menurut mazhab dan jalan yang berkesuaian dengan keadaan dan sesuai pula dengan tabi’at kejadiannya (penciptaannya). Sedangkan menurut Ahmad Musthofa al-Maraghi dalam tafsirnya yang terkenal bermakna :
“علي طريقته و حالته في الهدي والضلال , وما طبع عليه من الخير “
”‘ala syakilatihi” dalam tafsir Al-Maraghi sebagaimana dijelaskan di atas bermakna bahwa perkembangan individu dipengaruhi atas metode (jalan) dan keadaan individu dalam mencari petunjuk ataupun kesesatan serta sebuah kepastian (cetakan) atasnya berupa kebaikan-kebaikan. sedangkan dalam Ibnu Katsir bermakna علي حدته و طبيعته (“ bahwa perkembangan individu dipengaruhi oleh asal kejadiannya dan tabiat (pembawaan)nya”.
Di samping Al-Qur’an, Hadits Rosul yang sangat mashur juga memberikan penguat atas pengaruh hereditas dan lingkungan pada perkembangan anak, yaitu:
كلّ مو لود يولد علي الفطرة فأبواه يهوّدانه أو ينصّرانه اويمجّسانه. (رواه مسلم(
Artinya: ”Tiap-tiap anak dilahirkan menurut fitrahnya, orang tualah yang menjadikan Yahudi, Nasrani, atau Majusi”. ( H. R. Muslim).
Makan fitrah dalam hadits di atas adalah potensi hereditas (keturunan) dan merupakan bawaan sejak lahir. Sedangkan pada kalimat sesudahnya merupakan proses perkembangan dan pertumbuhan anak yang dipengaruhi oleh kondisi diluar dirinya, baik itu dilingkungan keluarga, sekolah, dan sosial yang melingkupinya .
Dalam Al-Qur’an, kata fitrah dengan berbagai bentuknya terulang sebanyak 28 kali, 14 diantaranya dalam konteks uraian tentang bumi dan atau langit. Sisanya dalam konteks penciptaan manusia baik dari sisi pengakuan penciptanya adalah Allah maupun dari segi urainan tentang fitrah manusia. Selanjutnya dipahami bahwa fitrah adalah bagian dari penciptaan Allah.

I. Implikasi Perkembangan Peserta didik dalam Proses Pembelajaran
Pendidikan Islam yang selama ini lebih dipahami pada hal-hal yang berbau kerohanian atau keahiratan membawa implikasi perencanaan, penyusunan materi, metodologi, dan evaluasi yang kurang tepat, sehingga pendidikan Islam kurang mampu berinteraksi dengan persoalan-persoalan hidup yang nyata.
Suatu sistem pendidikan dapat dikatakan bermutu, jika proses belajar-mengajar berlangsung secara menarik dan menantang sehingga peserta didik dapat belajar sebanyak mungkin melalui proses belajar yang berkelanjutan. Proses pendidikan yang bermutu akan membuahkan hasil pendidikan yang bermutu dan relevan dengan pembangunan. Untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu dan efisien perlu disusun dan dilaksanakan program-program pendidikan yang mampu membelajarkan peserta didik secara berkelanjutan, karena dengan kualitas pendidikan yang optimal, diharapkan akan dicapai keunggulan sumber daya manusia yang dapat menguasai pengetahuan, keterampilan dan keahlian sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang.
Beberapa hal di atas tidak dapat dicapai dengan baik manakala seorang pendidik tidak memahami perkembangan peserta didik dengan komprehensif. Implikasi perkembangan peserta didik dapat meliputi:
1. Bagi peserta didik. Pertama, siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang dalam pelaksanaannya dimungkinkan untuk bekerja baik secara individual, pasangan, kelompok kecil ataupun klasikal. Kedua, anak harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang bervariasi secara aktif misalnya melakukan diskusi kelompok, mengadakan penelitian sederhana, dan pemecahan masalah sesuai dengan tingkat perkembangannya.
2. Bagi Pendidik. Pendidik harus memahami karakter dan perkembangan anak serta kreatif baik dalam menyiapkan kegiatan/pengalaman belajar bagi anak, memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran dan mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, menyenangkan dan utuh. Jadi adanya sebuah kesiapan untuk memulai pembelajaran.
3. Sarana prasarana, sumber belajar dan media. Dalam proses pembelajaran tematik, diperlukan berbagai sarana dan prasarana belajar, berbagai sumber belajar, dan optimalisasi penggunaan media pembelajaran yang bervariasi dan integratif dengan tidak meninggalkan sumber belajar yang telah ditentukan.
4. Proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, Kegiatan pembelajaran hendaknya bervariasi dan dapat dilaksanakan baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Semua yang ada disekeliling kelas atau sekolah dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar. Di samping itu, pemilihan metode yang variatif juga akan berdampak pada hasil dan proses pembelajaran yang dilakukan sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik.
5. Implikasi dalam pendidikan Islam akan mampu menjawab berbagai persoalan yang dihadapi oleh anak baik masa kini maupun masa depannya. Karena pada dasarnya pendidikan Islam merupakan satu kesatuan dari sebuah sistem yang berupaya mengembangkan pandangan dan semangat hidup islami yang dimanifestasikan dalam sikap hidup dan keterampilan dalam berfikir, bertindak dan berperilaku islami.

J. Kesimpulan
Untuk mengetahui perkembangan peserta didik dengan sempurna terutama dalam pendidikan Islam adalah hal yang tidak mudah. Ibarat teka-teki besar yang harus dipecahkan, untuk memahami perkembangan peserta didik, seorang pendidik harus dapat membuka kunci-kunci rahasia yang dirancang dalam suatu sistem pembelajaran yang menyeluruh dan integral. Kemampuan pendidik untuk melakukan improvisasi sehingga proses pembelajaran menjadi menyenangkan dan membuat peserta didik menjadi betah, yang akan menunjukkan keberhasilan seorang pendidik.
Pembagian perkembangan ke dalam berbagai faktor dan masa hanyalah untuk memudahkan dalam mempelajari dan memahami jiwa peserta didik. Walaupun masa perkembangan anak dibagi dalam masa-masa perkembangan, namun tetap merupakan kesatuan yang hanya dipahami dalam hubungan keseluruhan. Setiap peristiwa pertumbuhan atau perkembangan selalu didukung oleh faktor-faktor luar, yang dalam hal ini berlaku hukum konvergensi. Para ahli psikokogi membagi masa perkembangan menurut pendapat yang beragam dengan mempergunakan dasar-dasar pemikiran yang berlainan.
Berdasarkan uraian tentang perkembangan peserta didik dalam pendidikan Islam dapat disimpulkan:
1. Peserta didik adalah individu yang mengalami perkembangan dan perubahan secara kualitas maupun kuantitas, sehingga ia harus mendapatkan bimbingan dan arahan oleh orang dewasa (pendidik) menuju kesempurnaan perkembangannya.
2. Peserta didik memiliki beberapa dimensi penting yang mempengaruhi akan perkembangan peserta didik, dimensi ini harus diperhatikan secara baik oleh pendidik dalam rangka mencetak peserta didik yang berakhlak mulia dan dapat disebut sebagai insan kamil.
3. Perkembangan peserta didik dipengaruhi oleh beberapa hal, diantara yang paling urgen adalah factor bawaan serta pengaruh lingkungan dimana peserta didik itu berkembang.
4. Implikasi perkembangan peserta didik dapat terkait dengan peserta didik itu sendiri, pendidik, metode pembelajaran, fasilitas, sumber belajar serta bagi pendidikan islam itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
Achmadi. 2005. Ideologi Pendidikan Islam: Paradigma Humanisme Teosentris .Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ahmadi, Abu dan Nur Uhbiyati. 2006. Ilmu Pendidikan Cetakan ke II. Jakarta :PT Rineka Cipta.
Akbar, Reni dan Hawadi, 2004. Psikologi Perkembangan Anak: Mengenal Sifat, Bakat, dan Kemampuan Anak. Jakarta: PT. Grasindo.
Al-Ghazali, 1994. Mi’raj as-Salikhin. Kairo: al-Saqafat al-Islamiyat.
Al-Maraghi, Ahmad Musthofa. 1984. Tarfsir Al-Maraghi. Juz 15. Beirut: Darul Fikr.
Al-Muqaddasy, ‘Ilmi Zadah Faidhillah. t. th. Fath al-Rahman li Thalib Ayat al-Qur’an. Beirut: Matba’ah al-Ahliyah.
An-Nahlawi, Abdurrahman. 1988. Ushul al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Asalibuhu. Damaskus: Dar-al-Fikr.
Arifin, M. 1993. Ilmu Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner. Jakarta: Bumi Aksara.
As Sidiqiy, Tengku Muhammad Hasbi. 2000. Tafsir Al-Qur’anul Majid An Nuur Juz 3. Semarang: Pustaka Rizki Putra.
Bawani, Imam. 1985. Penantar Ilmu Jiwa. Surabaya: Bina Ilmu.
Burhanuddin, H. 1997. Etika Individual Pola Dasar Filsafat Moral. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta .
Depag RI. 1984. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: PT. Internusa.
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Rosdakarya.
Djamarah, Saiful Bahri. 2000. Guru Dan Anak Dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta.
Djamrah, Syaiful Bahri .2002.Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Djumransyah, H.M. 2004. Pengantar Filsafat Pendidikan. Malang: Bayu Media.
Gunarsa, Singgih D. 1986. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: Gunung Mulia.
Harefa, Andreas. 2002. Menjadi Manusia Pembelajar. Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara.
Hasan, Aliah B. Purwakania. 2006. Psikologi Perkembangan Islami: Menyingkap Rentang Kehidupan Manusia dari Pra-kelahiran hingga Paska-kematian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Hurlock, Elizabeth B.. 1993. Perkembangan Anak Jilid 2. Jakarta: Erlangga. Edisi keenam.
Kartono, Kartini. 1982. Psikologi Anak. Bandung: Alumni
Katsir, ‘Abid fidl Isma’il Ibnu. tth. Tafsir Ibnu Katsir. Beirut: Darul Fikr.
Langgulung, Hasan. 1980. Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam. Bandung: Al-Ma’arif.
Mansur, Abdul Majid Ahmad dkk., 2009. Perilaku Manusia dalam Pandanan Islam dan Ilmu Psikologi Modern, terj. Bambang Suryadi, (Yogyakarta: Mitsaq Pustaka,), hlm. 360
Marimba, Ahmad D. 1980. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Al-Ma’arif.
Muhaimin, 2006. Nuansa Baru Pendidikan Islam: Mengurai Benang Kusut Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Raja Grafisindo Persada
Muslim, Imam. tth.Shohih Muslim Juz II, Beirut: Darul Fikr
Najati, M. ‘Utsman. 1985. Al-Quran dan Ilmu Jiwa, terj. Ahmad Rofi’ ‘Utsmani. Bandung: Pustaka.
Nizar , Syamsul, 2001. Pengantar Dasar-Dasar Pemikiran Pendidikan Islam Jakarta: Gaya Media Prakarsa.
Othman, Ali Issa. 1981. Manusia Menurut Al-Ghazali, terj. Johan Smit dkk. Bandung: Pustaka.
Psikologi Anak: Memahami Peserta Didik dalam http://warnadunia.com/psikologi-anak/memahami-peserta-didik-7529/s-37t.htm (Diakses pada 12 November 2011)
Ramayulis. 2006. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
Safaria, Triantoro. 2005. Creativity Quotient: Panduan Mencetak Anak Super Kreatif. Yogyakarta: Platinum.
Santrock, John W. 1995. Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup Jilid I. Jakarta: Erlangga.
Shihab, M. Quraish. 2001. Wawasan Al-Qur’an; Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Ummat. Bandung: Mizan. Cet. Xii.
Shihab, M. Quraish. 2001. Wawasan Al-Qur’an; Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Ummat. Bandung: Mizan. Cet. Xii.
Shihab, Quraish. 2007.Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran, Jilid 15 (Juz ‘Amma). Jakarta: Lentera Hati
Sobur, Alex. 2003. Psikologi Umum. Bandung, CV. Pustaka Setia.
Soemanto, Wasty. 1990. Psikologi Pendidikan: Landasan Kerja Pimpinan Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Supriono, Widodo. 1996. Filsafat Manusia dalam Islam, Reformasi Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Susilo, M. Joko. 2006.Gaya Belajar Menjadi Makin Pintar. Yogyakarta: Pinus
Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan: Suatu Pendekatan Baru. Bandung:
Syah, Muhibbin. 1999. Psikologi Belajar .Yogyakarta: Logos.
Syamsul, LN Yusuf .2007. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Tafsir, Ahmad. 2001. Ilmu Pendidikan dalam Prespektif Islam. Bandung: Remaja Rosydakarya,. Cet. Keempat.
Tirtarahardja, Umar. 2000. Pengantar Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.
UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Citra Umbara, 2003.
Zohar, Danah dan Ian Marshal. 2001. SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Emosional dalam Berfikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Hidup. Bandung: Mizan.

 

info lebih lanjut ke pesma83@gmail.com

 

Iklan

Responses

  1. Reblogged this on JENDELA KITA.


Kategori

%d blogger menyukai ini: