Oleh: Admin | 7 Juli 2010

Menafsirkan “Bismilahirrahmanirrahim”.


TAFSIR BASMALAH

Setelah kita mendapatkan hidayah dari Allah SWT secara lengkap. Baik Hidayah Wijdan atau petunjuk alamiah. Disebut juga dengan Hidayah Fitrah. Kemudian kita mendapatkan Hidayah Khawas (Hidayah Panca Indera), Hidayah Akal dan Hidayah Agama, maka kita harus bersyukur kepada Allah SWT dengan banyak-banyak mengucap takbir kepada-Nya sebagaimana yang dijelaskan dalam Surat Al-Baqarah : 185 …… ”Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.
Banyak orang yang dilahirkan dengan hidayah yang tidak lengkap. Misalnya; lahir dalam keadaan cacat, kembar siam atau kepalanya ada dua; Ada juga yang lahir dengan khawas (panca indera) yang tidak lengkap, entah pendengarannya ataupun penglihatannya; Ada juga yang lahir dengan akal yang jongkok (idiot) atau akalnya tidak lengkap; Bahkan ada orang yang beragama secara salah. Kalau kita telah mendapatkan keempat hidayah tersebut dengan sempurna, maka kewajiban kita adalah mengagungkan Allah SWT dan bersyukur kepada-Nya.
Syukur itu mempunyai 3 dimensi:
 Syukur I’tiqadan (syukur dalam keyakinan)
 Syukur dengan ucapan dan hai’ah (perilaku)
 Syukur dengan penggunaan.
Kalau sudah lengkap hidayah yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita, maka kita harus segera bergerak secara bathiniyah, yaitu menseimbangkan hidayah-hidayah itu. Pikiran, hati, kemauan dan ruh digunakan secara seimbang. Dari keseimbangan rohaniyah tadi, kita gerakkan jasmani secara seimbang dan shalih. Seimbang berarti kita harus menseimbangkan antara kewajiban pribadi, keluarga, masyarakat dan kewajiban agama.
Banyak orang yang hidup tidak seimbang. Ada orang yang mementingkan akhirat saja, sedangkan dunianya tidak diperhatikan; Ada orang yang mementingkan otaknya saja, dan nuraninya tidak diperhatikan. Oleh karena itu, yang pertama kali harus kamu lakukan adalah melakukan keseimbangan (muwazanah), sehingga kamu nanti tumbuh menjadi anak yang shalih, baik hatinya, sregep, tahu diri dan tahu menempatkan diri. Tahu diri berarti mengetahui dirinya sendiri, sedangkan kalau “tahu menempatkan diri” berarti mengetahui posisi dirinya di tengah-tengah orang lain. Dengan demikian, kamu akan menjadi orang yang seimbang. Setelah itu kamu langsung bergerak untuk melakukan kebaikan. Dasar dari pada kebaikan sendiri, telah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW:
كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَأُ ببسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، فَهُوَ أَعْرَجٌ
Setiap perkara yang penting, yang tidak didahului dengan membaca Basmalah, maka perkara itu cacat
Hadits ini sudah sering saya baca, mungkin kamu sudah berkali-kali mendengarnya. Bagi yang sudah pernah mendengar Hadits ini, anggap saja ini sebagai peringatan. Bagi yang belum pernah mendengarnya, berarti Hadits ini menjadi sesuatu yang baru baginya.
Hadits ini menyatakan bahwasanya gerakan apapun dari diri kita, baik gerakan bathiniyah maupun dzahiriyah, harus berangkat dengan jiwa Basmalah. Dengan jiwa, bukan hanya kata-kata. Maksudnnya; Gerakan kita harus berangkat dengan jiwa Bismillah, makna Bismillah dan dengan hikmah Bismillah. Kalau tidak demikian, maka keseimbangan itu akan hilang. Misalnya; Jika seseorang bekerja tidak memakai niat Bismillah, maka dia hanya memperoleh uang saja, dan tidak mendapat pahala. Padahal mencari uang untuk istri bisa mendatangkan pahala. Jika seseorang ngelencer (berwisata) dengan diiringi niat Bismillah, maka dia akan mendapat pahala. Namun jika dia niat untuk mencari pacar, belum tentu dia memperoleh pahala. Untuk mengetahui jiwa Bismillah, tentu kita harus menegtahui makna harfiyah dari lafadz Bismillah.
Lafadz بِسْمِ اللهِ berarti: Dengan Nama Allah. Huruf Ba’ di sini bermakna: Dengan, Atas nama atau Berdasarkan. Kalau di dalam istilah UU, sama dengan konsideran (dasar berangkatnya), yaitu: Mengingat, Menimbang, Memperhatikan, Memutuskan dan Menetapkan:
Kata إِسْمٌ berarti: Nama. Asal kata إِسْمٌ adalah سُمُوٌ yang berarti: Tinggi. Adapun tashrif-nya adalah: سَمَا – يَسْمُوْ – سُمُوٌّ kemudian berubah menjadi إِسْمٌ, karena orang Arab kesulitan kalau harus membaca wawu diberi tasydid dan jatuh setelah harokat dhammah. Lisan mereka hanya menang mecocone tok. Orang Jawa itu lisannya lebih fasih dari pada orang Arab, karena bisa ngomong apa saja, termasuk nirokno jalak.
Semua nama-nama Allah SWT mempunyai muatan yang tinggi; Ghafur (Maha Pengampun), Rahman (Maha Pengasih), Rahim (Maha Pengasih), dst. Sehingga Allah SWT juga disebut dengan صَاحِبُ السُّمُوِّ (Dzat Pemilik Nama-nama yang Tinggi). Oleh karena itu, kalau kita ingin mencari nama, maka carilah nama yang mempunyai makna tinggi.
Nama-nama Allah SWT disebut dengan Asmaul Husna. Maka banyak nama-nama di antara kita yang nemplek pada Asmaul Husna. Majid adalah salah satu nama Allah SWT, jika dijadikan nama, maka menjadi ‘Abdul Majid, karena jika kita memakai nama yang berasal dari Asmaul Husna, maka harus ditambah dengan kata “Abdul”. Kalau tidak demikian, berarti nyaingi Pengeran (Allah SWT). Kalau ada orang yang diberi nama; “Allah”, berati orang itu gawat. Belum sampai dua hari dilahirkan, dia sudah sempel. Akan tetapi diperbolehkan untuk memakai nama “Abdullah”. Kalau ada orang bernama; “Allah”, biar langsung ditangkap oleh polisi, karena dianggap mengacau.
Jangan mencari nama yang hanya kedengarannya indah, tapi tidak ada artinya. Hal itu merupakan kegemaran orang masa sekarang. Ada anak yang namanya “Diana”. Apakah artinya; Ada di mana-mana atau Di mana-mana ada. Nama seperti itu hanya kedengarannya saja yang bagus, namun tidak bermakna tinggi. Besok kalau kamu sudah mempunyai anak, kau boleh memberi nama yang kedengarannya bagus, akan tetapi juga harus mempunyai makna yang tinggi. Di sisi lain, ada juga orang yang memberi nama terlalu rendah. Seperti masyarakat di desa-desa Ponorogo, Trenggalek, Nggareng, dsb. Di daerah-daerah seperti itu ada orang yang bernama Tomblok, Cikrak, Dogol, dsb. Ketika saya mondok di Pesantren Gontor, di desa sana ada orang yang bernama Mbok Usrek, Mbok Dogol, Mbok Canting, dsb. Nama-nama yang maknanya terlalu rendah seperti ini juga nggak boleh, karena nama itu seharusnya mempunyai makna yang tinggi.
Makna Pertama
Lafadz بِسْمِ اللهِ artinya بِسْمِ سُمُوّ اَسْمَاءِ اللهِ (Atas nama ketinggian Asma Allah). Jadi apa yang akan kita lakukan ini bernilai tinggi, bukan ecek-ecek. Misalnya; Sekolah dengan niat mencari ilmu yang manfaat. Bukan berniat; karena timbangane nganggur, disawang wong nggak pantes, Kalau niatnya seperti ini, akhirnya dia akan nggelembosi.

Makna Kedua
Lafadz بِسْمِ اللهِ juga berarti; بِسْمِ أَوَامِرِ اللهِ (Atas dasar perintah Allah). Kalau mengerjakan sesuatu atas dasar perintah Allah SWT, maka manfaatnya dobel, yaitu di dunia dan akhirat. Sedangkan kalau mengerjakan sesuatu hanya atas nama maumu sendiri, maka kamu hanya mendapatkan Rahman, tidak mendapatkan Rahim. Jadi, jika ada yang berniat: Saya melakukan pekerjaan ini atas nama perintah Allah SWT, maka dia akan memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat ( فِي الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَفِي الْأَخِرَةِ حَسَنَةٌ ).
Jika ada orang mengatakan: “Saya ini ِللهِ تَعَالَى “, akan tetapi dia nggak laopo-po (tidak mengerjakan apapun), maka perkataan itu salah, karena Pengeran (Allah SWT) memerintahkan opo-opo, dia kok nggak laopo-po. Ada orang berkata: “Saya ini للهِ تَعَالَى saja tidak perlu kerja, Pak Hasyim. Sudah sejak dulu saya ini للهِ تَعَالَى “. Menurut saya; Orang ini memang nganggur asli. Jadi, tidak boleh ngomong seperti itu, karena lafadz ” ِللهِ تَعَالَى ” itu artinya لأَوَامِر الله (karena perintah Allah). Allah SWT memerintahkan apa, itulah yang dilaksanakan. Jadi tidak dipasrahkan plek gelundungan. Bismillahi itu kalau coro Jowo seperti ketika seseorang dipanggil, lalu dia menjawab; Sendika Gusti. Sendika itu artinya datang menunggu perintah, bukan datang lalu diam. Perintah Allah SWT itu apa saja?; etos kerja, berjuang, mencari ilmu, memakmurkan tanah, pertanian, dsb. semua itu termasuk perintah-perintah Allah SWT. Jadi yang namanya ” ِللهِ تَعَالَى ” itu artinya لِسُمُوِ اَسْمَاءِ اللهِ وَلأَوَامِرِاللهِ (Atas dasar ketinggian Asma Allah dan perintah-perintah-Nya). Di sinilah letak kesalahan orang Islam!. Di mana-mana di dunia ini, orang Islam mengatakan ” ِللهِ تَعَالَى ” adalah pasivisme, padahal ” ِللهِ تَعَالَى ” adalah aktifisme dan fungsitisme. Jadi kalau ada orang Islam nggelembosi, berarti dia salah dalam meletakkan pengertian ” ِللهِ تَعَالَى “.
Seperti contoh Nabi Yusuf AS. Beliau itu orangnya jujur dan nggantenge wong sak dunyo iki dibagi loro, yang separoh diberikan kepada Nabi Yusuf AS, sisanya dibagi kepada kita semua. Ketika beliau digoda oleh Zulaikha, beliau ngaku sebenarnya sudah هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا (sebenarnya kita – Nabi Yusuf AS dan Zulaikha – sudah saling oke), seandainya لَوْلاَ أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّيْ (Andaikan tidak melihat cahaya Tuhanku), andaikan tidak ada ketentuan Allah SWT, bablas sudah. Jadi beliau tidak terjerumus pada perbuatan keji itu adalah karena Allah SWT, bukan karena beliau tidak suka. Jadi, kalau ada laki-laki yang tidak suka wanita, berarti dia itu bencong. Tapi penyaluran suka itu diatur oleh syari’at Nabi Muhammad SAW.

Makna Ketiga
Makna ketiga dari بِسْمِ اللهِ adalah طَالِبًا لِمَعُوْنَةِ اللهِ, yaitu mohon ditolong dan dilindungi oleh Allah SWT. Kamu berangkat ke sekolah, kadang paham, kadang tidak; Berangkat kerja, kadang dapat rezeki, kadang tidak. Artinya; tidak semua hal bisa beres oleh tangan kita, maka kita perlu pertolongan dan perlindungan Allah SWT. Ma’unah itu berarti pertolongan dan perlindungan (اَلْإِعَانَةُ وَالرِّعَايَةُ). Sekarang ini harganya selamet itu bertambah mahal. Di Sidoarjo, begitu banyak orang yang tidak selamat. Ada anak yang namanya Slamet Effendy sana, dia bolak-balik keserempet sepeda motor. Oleh karena itu, kita mohon ditolong dan dilindungi oleh Allah SWT. Siapa yang menjamin kamu yang berangkat kuliah, bisa selamat tidak tertabrak truk?. Nggak ada. Maka, Bismillah itu juga bermakna طَالِبًا لِرِعَايَتِهِ (meminta perlindungan-Nya). Ya Allah, saya mencari rezeji, tolong sampaikan tangan ini kepada rezeki itu.

Makna Keempat
Makna Keempat dari بِسْمِ اللهِ adalah طَالِبًا لِبَرَاكَتِهِ (Mohon berkah setelah memperoleh hasil), sebab sudah dapat pinter, belum pasti berkah; memperoleh rezeki, belum tentu berkah; dapat istri, uang habis dibuat beli lipstik; Jadi, ketika mencari saja, belum tentu berhasil dan belum tentu selamat, ketika sudah memperoleh, belum tentu barokah. Ilmu yang barokah akan menjadi derajat dan hikmah; Uang yang barokah bisa membawa kemakmuran, ketentraman dan kesejahteraan. Hukum yang berkah akan menjadi perlindungan dan keadilan. Budaya yang berkah akan menjadi kehormatan. Kalau tidak barokah, ilmu menjadi alat kejahatan; Hukum menjadi alat pemerasan, contoh: Kalau ada orang melakukan korupsi sebanyak 25 juta, ngurusnya itu bisa mencapai 1 Milyar ben ora ditangkap. Yang demikian itu adalah bentuk pemerasan. Jadi, hukum hanya untuk mencari mangsa. Pada akhirnya, uang akan menjadi kemelaratan; menjadi utang-piutang; membuat seseorang menjadi lintah darat; untuk menjerat hidup orang lain; dsb.
Kesimpulannya, kata Bismillah artinya: “Ya Allah Yang Maha Tinggi, saya mentaati perintah-Mu, saya mohon selamat dan keberhasilan, kalau sudah berhasil, semoga membawa berkah”. Dari ismun (nama) siapa semua itu diperoleh?, yaitu dari Asma Allah SWT. Misalnya dibaca ketika akan buka toko di pagi hari untuk mencari rezeki. Kemarin saya ingatkan, kalau kita minta kepada selain Allah SWT, maka yang datang adalah syaitan. Jika kebutuhan dipenuhi oleh syaitan, maka kita akan dikendalikan oleh kebutuhan kita.

Pengertian Lafadz الرحمن
Yaitu dari Rahmat yang menyeluruh. Jadi, Rahman itu kerahmatan Allah SWT yang menyeluruh (عَمَتْ كُلَّ شَيْئٍِ) alias semua keduman. Saya kadang mikir, kalau orang se-Malang ngumpul di alun-alun iku sak mono akehe, iki mangan kabeh, lha kok cukup berase?. Sapi tiap hari disembelih, ora entek-entek. Kucing iku ora tahu dibeleh, kok ora tahu onok kucing akeh. Padahal kucing iku mana’e sak kompi. Dunia ini tidak pernah penuh dengan kucing, padahal nggak ono wong mbeleh kucing kecuali wong geblek. Jadi, yang disembelih tidak habis, yang tidak diapa-apakan juga tidak kebanyakan. Semuanya seimbang.
Kalau saya melihat TV, saya senang melihat acara TV tentang binatang atau fauna, karena wis kesel lihat wong, karena acaranya Infotainment tok. Saya perhatikan, kok ada ikan makanannya juga ikan. Kenapa begitu?. Kira-kira kalau ndak begitu, bisa jadi laut akan kebanyakan ikan. Jadi, volume itu selalu seimbang. Ada harimau nguber dan makan kijang, namun kijang ndak pernah habis, sedangkan jumlah macan juga tidak bertambah banyak. Kalau harimau itu sebanyak kijang, maka kidang iku yo entek kabeh. Semua itu adalah aturan. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Mulk : 4
…”Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah”.
Perhatikan Rahmannya Allah SWT dan meneliti alam ini!. Semua tidak ada cacatnya sama sekali dan semuanya serba teratur. Contoh: Kijang dimakan oleh harimau, mesti ada sisanya. Sisa-sisa daging yang nempel di tulang itu menjadi bagiannya burung, sehingga menjadi bersih (habis).
Dengan sifat Rahman ini, semua dapat bagian, baik itu ikan maupun binatang yang lain. Bahkan Syaitan pun juga mendapat proyek, yaitu mengacaukan anak-anak Al-Hikam yang mbeling-mbeling. Tapi sekarang ini sudah tidak ada yang diwedeni oleh manusia, dulu kan banyak syaitan yang menakut-nakuti manusia, namun sekarang syaitan sudah ndak mau menakut-nakuti manusia, mergo wong-wong iku wis medeni. Salah-salah justru syaitan yang takut sendiri. Saat ini banyak syaitan yang nganggur karena kader-kadernya sudah jalan.

Pengertian Lafadz الرحيم
Sifat Ar-Rahim itu hanya diberikan kepada kita saja, sedangkan yang ndak punya iman tidak mungkin memperolehnya. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah : 126.Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, Kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali”.
Orang-orang kafir memang akan diberi kenikmatan oleh Allah SWT, namun dengan kenikmatan yang sedikit, kemudian mereka dijegurno ke dalam Neraka Jahannam. Kenapa kok disebut kenikmatan yang sedikit, padahal mereka itu konglomerat, kaya, punya pabrik? Yang demikian itu memang banyak jika dibandingkan dengan kamu yang melarat, namun semua itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kenikmatan di akhirat. Jangan lagi emas picis rojo brono, bunderan bumi itu pun tidak ada artinya apa-apa bagi Allah SWT.
Kalau kamu berjuang dan bergerak, biasakan memulainya dengan Bismillah. Kalau membaca Bismillah itu sing temenanan, yaitu mengusahakan Bismillah itu bisa menyentuh hati dan pikiranmu. Kalau kamu berangkat ke sekolah, yang dipasang kan pikiran, maka pikirannya harus keduman Bismillah, jangan hanya lisannya saja yang keduman Bismillah. Jadi, tambah roto Bismillah, daya jangkaunya bertambah hebat. Semua itu memang sulit dilakukan, maka perlu ada latihan.
Pertama-tama harus memulainya dengan membaca Bismillah melalui lisan, tidak masuk akal dan hati, namun lama kelamaan akan membekas sebagaimana tetesan air di atas batu, lama-lama bisa menembus batu itu. Di sinilah diperlukan istiqamah (konsistensi), karena di dalam agama tidak ada yang instan. Makanya saya tersinggung kalau ada pesantren kilat, karena pesantren yang ndak kilat saja santrinya gobloke setengah mati, apalagi pesantren yang kilat. Lima tahun saja masih nabrak larikan, apalagi yang kilat. Kenapa demikian? karena agama tidak cukup dimengerti, tapi harus dirasakan. Proses antara ngerti dan rasa itu memerlukan taqarrub kepada Allah SWT. Kalau kamu shalat, apakah kamu terasa shalat atau rumangso pegel kabeh. Yang bisa merasakan semua itu hanyalah dirimu sendiri.
Kwalitet shalat seseorang itu tergantung pada tarassukh (peresapan). Padahal kalau dipikir, susunan shalat itu sudah dahsyat. Bayangkan!, pertama kali berdiri sudah membaca Allahu Akbar; berarti ada keseimbangan hidayah, jadi ndak perlu nggowo pentung untuk mengucapkannya.
Kalau bacaan كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا itu sesuai dengan Surat Al-Baqarah : 185 ….”dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.
Jadi bacaan كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا itu berarti keseimbangan dari aspek-aspek hidayah, tapi kalau dibaca dengan tenanan.
Statemen selanjutnya juga dahsyat:
إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسثكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ ِللهِ رَبِّ الْعَالَميْنَ. لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah Tuhan semesta alam, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan saya diperintahkan melakukan yang demikian itu. Dan saya termasuk golongan orang-orang muslim.
Bacaan di atas seperti halnya Pembukaan UUD 45.
Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah : 200
  •        
“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu”.

Yang dimaksud dengan Manasik adalah aturan ibadah, cuma sing usum itu manasik haji, tapi sebenarnya manasik itu berarti technicel guiden (petunjuk pelaksanaan). Jadi, manasik itu format atau bentuk ibadah. Oleh karena itu, Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَأُ ببسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، فَهُوَ أَعْرَجٌ

“Setiap perkara yang penting, yang tidak didahului dengan membaca Basmalah, maka perkara itu cacat”.

Semua perilaku yang tidak menggunakan jiwa Bismillah, maka perilaku itu akan menjadi gotang (pincang). Mungkin cuma memperoleh dunia saja, tidak memperoleh akhirat; memperoleh ilmu saja bukan manfaatnya; memperoleh rezeki tanpa barokahnya; memperoleh pangkat tanpa ada derajat; dll. Tapi yang dimaksud di sini adalah menggunakan jiwa atau ruh Bismillah. Jiwa Bismillah itu baru bisa kita tangkap kalau kita mengerti arti Bismillah, kemudian diresapi sampai masuk ke dalam hati sanubari kita, sehingga jiwa Bismillah itu menjadi kharakter untuk semua gerakan kita.
Ketika saya di Jeddah tanggal 29 Agustus 2006, kok ada berita dari Kyoto yang meminta saya untuk menjadi presiden agama-agama di dunia. Wong jadi presiden agama sitok wae, repote setengah mati. Banyak yang kirim SMS tidak setuju mengenai hal itu. Apalagi saya juga sudah mempunyai ISIC yang isinya adalah ulama’ tok seluruh dunia, ulama’-ulama’ yang betulan, yaitu ulama’ yang sesuai dengan standard dalam Al-Qur’an dan Hadits. Lalu saya menjawab protes mereka: “Do’akan saja Kyai, nawaitu saya adalah Bismillah”. Di dalam Surat Ash-Shaaf : 9 disebutkan
              
“Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci”.

Jadi, Allah SWT mengirimkan para Rasul-Nya agar Islam ini dipertontokan kepada seluruh agama-agama yang ada. Ajaran Islam tidak bakal kalah, yang kalah adalah orang Islamnya.
Ulama’ standard Al-Qur’an dan Hadits adalah ulama’ yang mengamalkan ilmunya, konsisten, dan mengerti fenomena zaman. Sedangkan kalau Kyai itu adalah panggilan. Misalnya; ada orang yang bisa memimpin tahlil dan Yasiin dengan cepat dan tanpa melihat tulisan, sudah dianggap Al-Mukarram. Kalau di Jatim disebut Kyai, kalau di Jawa Tengah disebut dengan Mbah, di Jawa Barat disebut Ajengan, di NTB disebut Tuan Guru, di Padang Sumatera Barat disebut Buya, di Kalimantan Selatan disebut Guru, di Aceh disebut Abu atau Tengku. Itu semua adalah panggilan atau sebutan saja, belum standard Al-Qur’an dan Hadits. Standard ulama’ adalah:
 Mengamalkan Ilmunya (عَامِلٌ بِعِلْمِهِ)
Standard seseorang disebut ulama’ adalah kalau dia sudah mengamalkan ilmunya, sehingga amalannya cocok dengan ilmunya. Untuk mencocokkan ilmu dan amal inilah yang susah dan ndak ada sekolahnya. Apakah lulusan IAIN yang bergelar M.Ag (Master of Alam Ghaib) sudah mesti ulama’?. Jawabannya dilihat dulu, kalau ilmu dan amal seseorang sudah cocok, berarti dia adalah ulama’. Kalau tidak demikian, berarti dia cuma orang yang pinter (cendekiawan). Ternyata yang bisa merekatkan antara ilmu dan amal adalah Khasyyatullah (takut kepada Allah SWT), bukan rangking gelarnya maupun koleksi kitabnya. Dengan adanya Khasyyatullah, ilmu bisa diserp ke dalam hati. Namun sekarang ini, orang tambah pinter, justru tambah ndak wedi (tidak takut) kepada Allah SWT. Kata mereka; “Sing wedi Pengeran iku kan wong sing goblok-goblok”. Pikiran yang demikian ini adalah pikiran jahilillah.
 Istiqamah (وَاقِفٌ عَلَى شَأْنِهِ)
Standard kedua adalah dia harus mempunyai keistiqamahan. Sikap Istiqamah inilah yang melahirkan fadhilah, ma’unah dan karomah.
 Mengerti Makna Fenomena Zaman (بَصِيْرٌ عَلَى أَهْلِ زَمَانِهِ)

Iklan

Kategori

%d blogger menyukai ini: