Oleh: Admin | 3 Mei 2009

Filsafat MSDM dalam Pendidikan Islam


Filsafat Manajemen SDM dalam Pendidikan Islam

Oleh: Ali Rif’an

A. PENDAHULUAN

Sumber Daya Manusia (SDM) mempunyai posisi sentral dalam mewujudkan kinerja pembangunan, yang menempatkan manusia dalam fungsinya sebagai resource pembangunan. Di dalam konteks ini, harga dan nilai manusia ditentukan oleh relevansi konstruksinya pada proses produk. Kualitas manusia diprogramkan sedemikian agar dapat sesuai dengan tuntutan pembangunan atau tuntutan masyarakat.[1] Eksistensi bangsa Indonesia ditengah percaturan era global sekarang, akan dipengaruhi kemampuan sumber daya manusia Indonesia, terutama yang bercirikan kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dan pemantapan iman dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.[2]

Salah satu sumber daya yang penting dalam manajemen adalah sumber daya manusia atau human resources. Pentingnya sumber daya manusia ini, perlu disadari oleh semua tingkatan manajemen termasuk juga manajemen pendidikan Islam. Bagaimanapun majunya teknologi saat ini, namun faktor manusia tetap memegang peranan penting bagi keberhasilan suatu organisasi. Bahkan dapat dikatakan bahwa manajemen itu pada hakikatnya adalah manajemen sumber daya manusia atau manajemen sumber daya manusia adalah identik dengan manajemen itu sendiri.

Hakikat sumber daya manusia pada setiap organisasi atau perusahaan khususnya pada lembaga pendidikan diperlukan adanya suatu sumber daya manusia sebagai tenaga kerja. Oleh sebab itu bahwa yang dimaksud dengan sumber daya manusia adalah tenaga kerja pada suatu organisasi.[3] Dari pendapat tersebut jelas bahwa sumber daya manusia adalah tenaga kerja yang menduduki suatu posisi atau orang-orang yang mempunyai tanggungjawab untuk melaksanakan tugas atau pekerjaan pada suatu organisasi atau instansi tertentu. Oleh karena itu, menurut Mukhyi bahwa hal yang penting untuk diperhatikan oleh organisasi adalah bagaimana memperoleh tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan dan posisi yang akan diduduki, bagaimana mengembangkannya dan memelihara tenaga kerja, menggunakan serta mengavaluasi hasil kerjanya.[4]

Dalam perspektif Islam, pendidikan telah memainkan peran penting dalam upaya melahirkan manusia yang handal dan dapat menjawab tantangan zaman. Sumber daya manusia tersebut merupakan gerakan human investment. Human Invesment adalah upaya pendidikan jangka panjang untuk melahirkan sumber daya manusia[5]. Pengembangan sumber daya manusia bukan merupakan persoalan yang mudah karena membutuhkan pemikiran langkah aksi yang sistematik, sistemik, dan serius. Karena berusaha memberikan konstruksi yang utuh tentang manusia dengan mengembangkan seluruh potensi dasar manusia dan bagaimana aktifitasnya.

Di dalam pengetahuan manajemen, falsafah sebenarnya menyediakan seperangkat pengetahuan (a body of related knowledge) untuk berfikir efektif dalam memecahkan masalah-masalah manajemen.[6] Ini merupakan hakikat manajemen sebagai suatu disiplin ilmu dalam mengatasi masalah organisasi berdasarkan pendekatan yang integral.

Terkait dengan judul makalah di atas, maka dalam makalah ini akan membahas tentang falsafah manajeman SDM dalam pandangan Pendidikan Islam dengan memfokuskan pada 3 hal pokok, yaitu: apa hakikat tujuan manajemen sumber daya manusia?, Siapa sebenarnya manusia dan hakikat penciptaannya? serta bagaimana hakikat kerja jika dimaknai dalam kerangka Pendidikan Islam.

B. PEMBAHASAN

I. Filsafat Manajemen SDM dalam Pendidikan Islam

a). Filsafat Manajemen

Filsafat / filosofi berasal dari kata Yunani yaitu philos (suka) dan sophia (kebijaksanaan), yang diturunkan dari kata kerja filosoftein, yang berarti : mencintai kebijaksanaan, tetapi arti kata ini belum menampakkan arti filsafat sendiri karena “mencintai” masih dapat dilakukan secara pasif. Pada hal dalam pengertian filosoftein terkandung sifat yang aktif. Karena itu, tugas utama filsafat adalah menetapkan dasar-dasar yang dapat di andalkan.[7]

Filsafat adalah pandangan tentang dunia dan alam yang dinyatakan secara teori. Filsafat adalah suatu ilmu atau metode berfikir untuk memecahkan gejala-gejala alam dan masyarakat. Namun filsafat bukanlah suatu dogma atau suatu kepercayaan yang membuta. Filsafat mempersoalkan soal-soal: etika/moral, estetika/seni, sosial dan politik, epistemology/tentang asal pengetahuan, ontology/tentang manusia, dll.[8]

Nanang Fattah menjelaskan bahwa falsafah manajemen yang termasuk di dalamnya adalah falsafah Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) bahwa yang dijadikan dasar falsafah manajemen dibedakan dalam tiga jenis hakikat, yaitu: Hakikat tujuan, hakikat manusia dan hakikat kerja.[9] Jadi, Filsafat manajemn adalah sebuah  dasar atau beberapa dasar yang digunakan sebagai pijakan untuk mencapai tujuan, baik itu dari aspek tujuan, askek pelaku (manusia) maupun aspek aktifitas yang dilakukan.

Namun dalam tulisan ini, terkait dengan konsentrasi studi penulis, maka dalam pembahasannya akan ada sentuhan-sentuhan nilai-nilai yang terkandung dalam Pendidikan Islam, karena bagaimana pun, itulah yang membedakan studi kita dengan studi MSDM secara umum walau obyeknya mungkin tidak berbeda, yaitu tentang hakikat tujuan, manusia dan hakikat kerja.

b). MSDM: Pengertian, Tujuan dan Fungsinya

Berbagai istilah yang dipakai untuk menunjukkan manajemen sumber daya manusia antara lain: manajemen sumber daya manusia (MSDM), manajemen sumber daya insani, manajemen personalia, manajemen kepegawaiaan, manajemen perburuhan, manajemen tenaga kerja, administrasi personalia (kepegawaian), dan hubungan industrial.

Manajemen sumber daya manusia timbul sebagai masalah baru pada tahun 1960-an, sebelum itu kurang lebih pada tahun 1940-an yang mendominasi adalah manajemen personalia. Antara keduanya jelas terdapat perbedaan di dalam ruang lingkup dan tingkatannya. Manajemen sumber daya manusia mencakup masalah-masalah yang berkaitan dengan pembinaan, penggunaan dan perlindungan sumber daya manusia; sedangkan manajemen personalia lebih banyak berkaitan dengan sumber daya manusia yang berada dalam perusahaan-perusahaan, yang umum dikenal dengan sector modern itu. Tugas manajemen personalia adalah mempelajari dan mengembangkan cara-cara agar manusia dapat secara efektif di integrasikan ke dalam berbagai organisasi guna mencapai tujuannya. [10]

Pergantian istilah dari manajemen personalia dengan manajemen sumber daya manusia, dianggap sebagai suatu gerakan yang mencerminkan pengakuan adanya peranan vital dan menunjukkan pentingnya sumber daya manusia dalam suatu organisasi. Adanya tantangan-tantangan yang semakin besar dalam pengelolaan sumber daya manusia secara efektif, serta terjadinya pertumbuhan ilmu pengetahuan dan profesionalisme di bidang manajemen sumber daya manusia.[11]

Manajemen sumber daya manusia merupakan salah satu bidang dari manajemen umum yang meliputi segi-segi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian. Karena sumber daya manusia dianggap semakin penting peranannya dalam pencapaian tujuan, maka berbagai pengalaman dan hasil penelitian dalam bidang sumber daya manusia (SDM) dikumpulkan secara sistematis dalam apa yang disebut dengan Manajemen sumber daya manusia. Istilah “manajemen” mempunyai arti sebagai kumpulan pengetahuan tentang bagaimana seharusnya memanage (mengelola) sumber daya manusia.[12]

Pengertian manajemen sumber daya manusia menurut beberapa ahli, diantaranya:

  1. Menurut Hall T. Douglas dan Goodale G. James bahwa Manajemen sumber daya manusia adalah the prosess through which optimal fit is achieved among the employee, job, organization, and environment so that employees reach their desired level of satisfaction and performance and the organization meets it’s goals”.[13] (Manajemen sumber daya manusia adalah suatu proses melalui mana kesesuaian optimal yang diperoleh di antara pegawai, pekerjaan organisasi dan lingkungan sehingga para pegawai mencapai tingkat kepuasan dan performansi yang mereka inginkan dan organisasi memenuhi tujuannya).
  2. Menurut Edwin Flippo yang di alih bahasakan oleh Moh. Masud bahwa “Manajemen sumber daya manusia adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian atas pengadaan tenaga kerja, pengembangan, kompensasi, integrasi, pemeliharaan, dan pemutusan hubungan kerja dengan sumber daya manusia untuk mencapai sasaran perorangan, organisasi, dan masyarakat”. [14]
  3. Sedangkan menurut Malayu Hasibuan “Manajemen sumber daya manusia adalah ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja, agar efektif dan efisien membantu terwujudnya tujuan”. [15]
  4. Menurut Bashir Barthos, Manajemen SDM mencakup masalah-masalah yang berkaitan dengan pembinaan, penggunaan, dan perlindungan sumber-sumber daya manusia baik yang berada dalam hubungan kerja maupun yang berusaha sendiri.[16]
  5. Menurut Amin Widjaja Tunggal Manajemen sumber daya manusia adalah fungsi manajemen yang berhubungan dengan rekrutmen, penempatan, pelatihan, dan pengembangan anggota organisasi.[17]
  6. Menurut T. Hani Handoko Manajemen sumber daya manusia adalah penarikan, seleksi, pengembangan, pemeliharaan, dan penggunaan sumber daya manusia untuk mencapai baik tujuan-tujuan individu maupun organisasi.[18]

Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa manajemen sumber daya manusia adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian atas pengadaan tenaga kerja, pengembangan, kompensasi, integrasi, pemeliharaan, dan pemutusan hubungan kerja dengan sumber daya manusia untuk mencapai sasaran perorangan, organisasi, dan masyarakat. Dengan memperhatikan peranan manajemen, maka pengertian manajemen adalah ilmu tentang upaya manusia untuk memanfaatkan semua sumber daya yang dimilikinya untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

Adapun tujuan utama dari manajemen sumber daya manusia adalah untuk meningkatkan kontribusi sumber daya manusia (karyawan) terhadap organisasi dalam rangka mencapai produktivitas organisasi yang bersangkutan.[19] Sedangkan Werther dan Davis menyatakan bahwa tujuan manajemen sumber daya manusia itu meliputi beberapa tujuan, antara lain:

  1. Tujuan Kemasyarakatan (Societal objective); Setiap organisasi apapun tujuannya, harus mengingat akibat bagi kepentingan masyarakat umum, di samping itu aspek etika dan atau moral dari produk yang dihasilkan suatu organisasi.[20] Suatu organisasi yang berada di tengah-tengah masyarakat diharapkan membawa manfaat atau keuntungan bagi masyarakat. Oleh sebab itu, semua organisasi mempunyai tanggung jawab mengelola sumber daya manusianya agar tidak mempunyai dampak negative terhadap masyarakat.[21]
  2. Tujuan Organisasi (Organization objective); Untuk mengenal bahwa manajemen sumber daya manusia itu ada (exist), perlu memberikan kontribusi terhadap pendayagunaan organisasi secara keseluruhan. Manajemen sumber daya manusia bukanlah suatu tujuan dan akhir suatu proses, melainkan suatu perangkat atau alat untuk membantu tercapainya suatu tujuan organisasi secara keseluruhan. Oleh sebab itu suatu unit atau bagian manajemen sumber daya di suatu organisasi diadakan untuk melayani bagian-bagian lain organisasi tersebut.
  3. Tujuan Fungsional (Functional objective); Secara fungsional manajemen sumber daya manusia adalah untuk memelihara (maintain) kontribusi bagian-bagian lain agar mereka (sumber daya manusia dalam tiap bagian) melaksanakan tugasnya secara optimal.
  4. Tujuan Pribadi (Personel objective); Kepentingan personal atau individual dalam organisasi juga harus diperhatikan oleh setiap manajer, terutama manajemen sumber daya manusia, dan harus diarahkan dengan tujuan organisasi secara keseluruhan (overall, organizational objectives). Dengan demikian tujuan personal atau individual setiap anggota organisasi harus diarahkan pula untuk tercapainya tujuan organisasi. Untuk itu, motivasi pemeliharaan maupun pengembangan individu-individu dalam organisasi perlu senantiasa diperhatikan dan dilaksanakan dengan baik.

Atas dasar hal di atas, pada dasarnya setiap manusia adalah manajer, karena dalm kehidupan sehari-hari setiap manusia selalu melakukan manajemen bagi dirinya sendiri ataupun keluarganya untuk memenuhi kebutuhan keluarga serta merealisasikan tujuan-tujuan yang diinginkan (self management).

Ada 3 macam Sumber Daya (resources) yang dimanfaatkan oleh manusia untuk meraih tujuan yang diharapkan, yaitu:

1).    Sumber daya alam (SDA);

2).    Sumber daya capital (SDK) dana/uang/penghasilan yang diperoleh.

3).    Sumber daya manusia (SDM).

Sudah merupakan tugas manajer sumber daya manusia untuk mengelola manusia seefektif mungkin, agar diperoleh suatu satuan sumber daya manusia yang merasa puas dan memuaskan. Manajemen sumber daya manusia merupakan bagian dari manajemen umum yang memfokuskan diri pada sumber daya manusia.[22] Adapun fungsi manajemen sumber daya manusia seperti halnya fungsi manajemen umum, yaitu:

  1. Fungsi Manajerial

–       Perencanaan (Planning)

–       Pengorganisasian (Organizing)

–       Pengarahan (Directing)

–       Pengendalian (Controlling)

  1. Fungsi Operasional

–       Pengadaan Sumber Daya Manusia (recruitment)

–       Pengembangan (development)

–       Kompensasi (compensation)

–       Pengintegrasian (integration)

–       Pemeliharaan (maintenance)

–       Pemutusan Hubungan Tenaga Kerja (separation)[23]

Semua fungsi dalam manajemen tersebut akan dilakukan tergantung dengan kebutuhan, apakah akan dilakukan secara sederhana atau dengan tingkat kesulitan yang tinggi, dan dapat menggunakan hanya beberapa fungsi saja.

Proses manajemen adalah interaksi dan saling keterkaitan antara beberapa fungsi manajemen yang digunakan. Dalam melakukan tugas manajerial seseorang tidak terlepas dari kerjasama dengan orang lain dan dilakukan dengan proses step by step of doing something.

Model manajemen yang merupakan kegiatan utama manajemen yaitu: Perencanaan, Pengorganisasian, Pelaksanaan, dan Pengendalian.

a

Perencanaan

:

Merupakan pemilihan sasaran organisasi atau penentuan organisasi yang kemudian dijabarkan ke dalam bentuk kerja sama dan pembagian tugas;

b

Pengorganisasian

:

Sebagai wadah atau alat yang dapat digunakan   untuk merealisasikan sasaran atau tujuan organisasi yang telah ditetapkan bersama;

c

Pelaksanaan

:

Dilakukan oleh manajer untuk dapat mengarahkan, mengkoordinasikan dan mempengaruhi kepada bawahan untuk bekerja dengan sadar dan tanpa paksaan untuk mencapai tujuan.

d

Pengendalian

:

Upaya untuk melancarkan usaha perbaikan dan pengembangan yang menekankan pada penggunaan rencana yang strategic (rencana panjang dengan cakupan yang luas).

Gambar 1 : Model hubungan dan keterkaitan MSDM

Karena hal itulah, setiap manusia mempunyai sumber daya yang dapat dikembangkan, yaitu: 1). Sumber daya Cipta; 2). Sumber daya  Rasa; dan 3). Sumber daya  Karsa. Pengembangan sumber daya tersebut akan menghasilkan budaya –kebudayaan – peradaban yang dalam prosesnya akan dipengaruhi oleh: kondisi alam lingkungan dan kondisi pergaulan manusia (interaksi social), perkembangan sains dan teknologi.

Gambar 2 : Peran Science dan Teknologi dalam Tujuan MSDM

c). Hakikat Tujuan Manajemen SDM dalam Pendidikan Islam

Sebelum kita memahami apa hakikat tujuan manajemen SDM, terlebih dahulu penulis singgung tentang pendidikan Islam, karena tujuan dalam pendidikan Islam inilah nantinya yang akan menjadi hakikat tujuan dalam manajemen SDM dalam pendidikan Islam.

Pendidikan Dalam term bahasa Arab, ada tiga istilah yang sering digunakan, yakni: al-ta’lim, al-tarbiyah dan al-ta’dib,[24] yang ketiganya mempunyai makna yang berbeda dalam menunjukkan makna pendidikan.

Ahmad Tafsir menyatakan bahwa pendidikan dalam Islam merupakan sebuah rangkaian proses pemberdayaan manusia menuju taklif (kedewasaan), baik secara akal, mental maupun moral, untuk menjalankan fungsi kemanusiaan yang diemban-sebagai seorang hamba (abd) dihadapan Khaliq-nya dan sebagai ‘pemelihara’ (khalifah) pada semesta.[25] Karenanya, fungsi utama pendidikan adalah mempersiapakan peserta didik (generasi penerus) dengan kemampuan dan keahlian (skill) yang diperlukan agar memiliki kemampuan dan kesiapan untuk terjun ke tengah masyarakat (lingkungan).

Setidaknya ada tiga alasan penyebab alasan manusia membutuhkan pendidikan sebagaiman diungkapkan Sansul Nizar,[26] yaitu: pertama, terpelihara dan berlanjutnya nilai-nilai hidup dimasyarakat; Kedua, mengembangkan potensi yang ada dalam diri manusia seoptimal mungkin; dan ketiga, konvergensi kedua tuntutan diatas yang pengaplikasiannya lewat pendidikan.

H. M. Arifin memandang bahwa pendidikan Islam adalah ”suatu proses sistem pendidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh anak didik dengan berpedoman pada ajaran Islam”.[27] Hasan Langgulun juga menjelaskan bahwa secara garis besar Pendidikan Islam merupakan suatu proses pembentukan individu berdasarkan ajaran–ajaran Islam yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammmad melalui proses di mana individu dibentuk agar dapat mencapai derajat yang tinggi sehingga ia mampu menunaikan tugasnya sebagai kholifah di muka bumi, yang dalam rangka lebih lanjut mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat.[28] Tegasnya, sebagaimana yang dikemukakan Ahmad D. Mariban bahwa Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.[29]

M. Kanal Hasan sebagaimana dikutip Syamsul Nizar mendefinisikan pendidikan Islam adalah ”suatu proses yang komprehensif dari pengembangan kepribadian manusia secara keseluruhan yang meliputi aspek intelektual. spiritual, emosi, dan fisik. sehingga seorang muslim disiapkan dengan baik untuk melaksanakan tujuan kehadirannya di sisi Allah sebagai ’abd dan wakil-Nya dimuka bumi.[30] Tegasnya, sebagaimana yang dikemukakan Ahmad D. Mariban bahwa Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.[31]

Prof. Dr. Muhaimin secara lebih perasional menjelaskan tentang pendidikan Islam bahwa:

”Pendidikan Islam merupakan suatu sistem pendidikan yang diselenggarakan dengan hasrat dan niat untuk mengejawentahkan ajaran dan nilai-nilai Islam dalam kegiatan pendidikannya. Kata niat mengandung pengetian suatu usaha yang direncanakan dengan sungguh-sungguh yang muncul dari hati yang suci karena mengharap ridho-Nya, yang kemudian ditindaklanjuti dengam mujahadah (kesungguhan) dan dilakukan dengan muhasabah (kontrol dan evaluasi) terhadap niat yang direncanakan”.[32]

Dalam kaitannya dengan pendidikan Islam, Syamsul Nizar merumuskan tujuan pendidikan harus berorientasi setidaknya pada empat aspek, Yaitu: pertama, berorientasi pada tujuan dan tugas pokok manusia, yakni sebagai ’abd dan khalifah fil ardh.  Kedua, berorientasi pada sifat dasar (fitrah) manusia, yaitu mempunyai kecenderungan pada hanif lewat tuntunan agama-Nya. Ketiga, berorintasi pada tuntutan masyarakat dan zaman, serta keempat, orientasi kehidupan ideal Islami.[33]

Dengan demikian, hakikat tujuan dari manajemen SDM dalam kerangka pendidikan Islam dapat diformulasikan dengan sebuah upaya mendayagunakan berbagai suber daya (resources) baik itu sumber daya alam, sumber daya capital maupun sumber daya manusia untuk mencapai tujuan dalam pendidikan Islam secara efektif dan efisien baik dalam aspek produktifitas maupun kepuasan sesuai dengan nilai-nilai yang dikandung dalam Islam.

Gambar 3: Hakikat Tujuan MSDM dalam Pendidikan Islam

II. Hakikat Manusia dalam Manajemen SDM Pendidikan Islam

Berbicara dan berdiskusi tentang manusia selalu menarik. Karena selalu menarik, maka masalahnya tidak pernah selesai dalam artia tuntas. Pembicaraan mengenai makhluk psikofisik ini laksana suatu permainan yang tidak pernah selesai. Selalu ada saja pertanyaan mengenai manusia.

Timbul pertanyaaan siapakah manusia itu? Pertanyaan ini nampaknya amat sederhana, tetapi tidak mudah memperoleh jawaban yang tepat. Biasanya orang menjawab pertanyaan tersebut menurut latar belakangnya, jika seseorang yang menitik beratkan pada kemampuan manusia berpikir, memberi pengertian manusia adalah “animal rasional”, “hayawan nathiq” “hewan berpikir”. Orang yang menitik beratkan pada pembawaan kodrat manusia hidup bermasyarakat, memberi pengertian manusia adalah “zoom politicon”, “homo socius”, “makhluk sosial”. Orang yang menitik beratkan pada adanya usaha manusia untuk mencukupi kebutuhan hidup, memberi pengertian manusia adalah “homo economicus”, “makhluk ekonomi”. Orang yang menitik beratkan pada keistimewaan manusia menggunakan simbul-simbul, memberi pengertian manusia adalah “animal symbolicum”. Orang yang memandang manusia adalah makhluk yang selalu membuat bentuk-bentuk baru dari bahan-bahan alam untuk mencukupkan kebutuhan hidupnya, memberi pengertian manusia adalah “homo faber”, dan seterusnya.[34] Untuk mengaktualisasikan potensi di atas, dibutuhkan kemampuan dan kualitas manusia yaitu kualitas iman, kualitas ilmu pengetahuan, dan kualitas amal saleh untuk mampu mengolah dan mengfungsikan potensi yang diberikan Allah kepada manusia tersebut.

Menurut pandangan Psikoanalitik tradisional bahwa manusia pada dasarnya digerakkan oleh dorongan dari dalam dirinya yang bersifat instingtif. Tingka laku individu ditentukan dan di kontril oleh kekuatan psikologis yang sejak semula sudah ada pada diri individu. Selanjutnya, dalam pandangan humanis mengemukakan bahwa individu adalah proses yang terus berjalan. Artinya individu merupakan satu kesatuan potensi ynag terus bertambah. Manusia dalam pandangan ini pada hakikatnya dalam proses menjadi –on becoming- dan tidak pernah selesai ataupu sempurna.[35]

Dalam al-Qur’an, ada tiga kata yang digunakan untuk menunjukkan arti manusia dengan berbagai perubahannya, yaitu insan, basyar dan Bani Adam.[36] Kata insan dalam al-Qur’an dipakai untuk manusia yang tunggal, sama seperti ins. Sedangkan untuk jamaaknya dipakai kata an-nas, unasi, insiya, anasi. Adapun kata basyar dipakai untuk tunggal dan jamak. Kata insan yang berasal dari kata al-uns, anisa, nasiya dan anasa, maka dapatlah dikatakan bahwa kata insan menunjuk suatu pengertian adanya kaitan dengan sikap, yang lahir dari adanya kesadaran penalaran.[37] Kata insan digunakan al-Qur’an untuk menunjukkan kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga. Manusia yang berbeda antara seseorang dengan yang lain adalah akibat perbedaan fisik, mental, dan kecerdasan.[38]

Kata basyar dipakai untuk menyebut semua makhluk baik laki-laki ataupun perempuan, baik satu ataupun banyak. Manusia dinamai basyar karena kulitnya tampak jelas, dan berbeda dengan kulit binatang yang lain”. Al-Qur’an menggunakan kata ini sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan sekali dalam bentuk mutsanna [dual] untuk menunjukkan manusia dari sudut lahiriyahnya serta persamaannya dengan manusia seluruhnya. Penggunaan kata basyar di sini “dikaitkan dengan kedewasaan dalam kehidupan manusia, yang menjadikannya mampu memikul tanggungjawab. Dan karena itupula, tugas kekhalifahan dibebankan kepada basyar [Q.S. al-Hijr: 28],[39] yang menggunakan kata basyar, dan Q.S. al-Baqarah: 30[40] yang menggunakan kata khalifah, yang keduanya mengandung pemberitahuan Allah kepada malaikat tentang manusia.[41]

Musa Asy’arie[42], mengatakan bahwa manusia dalam pengertian basyar tergantung sepenuhnya pada alam, pertumbuhan dan perkembangan fisiknya tergantung pada apa yang dimakan. Sedangkan manusia dalam pengertian insan mempunyai pertumbuhan dan perkembangan yang sepenuhnya tergantung pada kebudayaan, pendidikan, penalaran, kesadaran, dan sikap hidupnya. Untuk itu, pemakaian kedua kata insan dan basyar untuk menyebut manusia mempunyai pengertian yang berbeda. Insan dipakai untuk menunjuk pada kualitas pemikiran dan kesadaran, sedangkan basyar dipakai untuk menunjukkan pada dimensi alamiahnya, yang menjadi ciri pokok manusia pada umumnya, makan, minum dan mati.

Dari pengertian insan dan basyar, manusia merupakan makhluk yang dibekali Allah dengan potensi fisik maupun psikis yang memiliki potensi untuk berkembang. Al-Qur’an berulangkali mengangkat derajat manusia dan berulangkali pula merendahkan derajat manusia. Manusia dinobatkan jauh mengungguli alam surga, bumi dan bahkan para malaikat. Allah juga menetapkan bahwa manusia dijadikan-Nya sebagai makhluk yang paling sempurna keadaannya dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain [Q.S. At Tiin :4].[43] Allah sendirilah yang menciptakan manusia yang proporsional (adil) susunannya [Q.S. Al Infithar: 7]. [44]

Dengan demikian, hakekat manusia dalam MSDM Pendidikan Islam dapat dikelompokkan sebagai berikut :

a).    Makhluk yang memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

b).   Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.

c).    Mereka yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya.

d).   Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya.

e).    Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati

f).     Suatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudanya merupakan ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas.

g).    Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung kemungkinan baik dan jahat.

h).    Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan turutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai dengan martabat kemanusaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.

III. Hakikat Kerja dalam Manajemen SDM

Kerja merupakan sebuah kegiatan dalam melakukan sesuatu dan orang yang kerja ada kaitannya dengan mencari nafkah atau bertujuan untuk mendapatkan imbalan atau prestasi atas kepentingan organisasi. Pada hakikatnya, bekerja adalah untuk memenuhi kebutuhan atas motif tertentu. Ia dipandang sebagai penggerak atau pembangkit perilaku, sedangkan tujuan berfungsi mengarahkan perilaku.[45]

Berbagai teori motivasi kerja telah dikemukakan oleh para pakar manajemen. Menurut Abraham Maslow manusia mempunyai lima kebutuhan yang membentuk tingkatan-tingkatan atau disebut juga hirarki dari yang mudah hingga yang sulit untuk dicapai atau didapat. Motivasi manusia sangat dipengaruhi oleh kebutuhan mendasar yang perlu dipenuhi. Untuk dapat merasakan nikmat suatu tingkat kebutuhan perlu dipuaskan dahulu kebutuhan yang berada pada tingkat di bawahnya.

Lima kebutuhan dasar Maslow – disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting hingga yang tidak terlalu krusial adalah sebagai berikut:

  1. Kebutuhan Fisiologis (phsyicological); seperti sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya.
  2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan (Safety); seperti: Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan lain sebagainya.
  3. Kebutuhan Social (Belonging); seperti memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.
  4. Kebutuhan Penghargaan (Esteem); contoh: pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya.
  5. Kebutuhan Aktualisasi Diri (Self Actualisation); Adalah kebutuhan dan keinginan untuk bertindak sesuka hati sesuai dengan bakat dan minatnya.

Gambar 4 : Hierarki kebutuhan menurut Abraham Maslow

Dalam Pandangan Islam, kerja atau amal dapat diartikan dengan makna yang umum dan makna yang khusus. Amal dengan makna umum adalah amar ma’ruf nahi munkar. Adapun kerja atau amal dengan maknanya yang khusus adalah melakukan pekerjaan atau usaha yang menjadi salah satu unsur terpenting dan titik tolak bagi proses kegiatan ekonomi seluruhnya. Kerja dalam makna yang khusus menurut Islam terbahagi kepada:

  1. Kerja yang bercorak jasmani (fisikal)
  2. Kerja yang bercorak aqli/fikiran (mental)

Islam datang dengan membawa nilai-nilai kebaikan dan menganjurkan manusia ntuk memperjuangkannya hingga menggapai tujuan. Namun, itu tidak dapat terlaksana dengan sendirinya, kecuali melalui perjuangan dan kesungguhan. Istilah Al Qur’an untuk menunjukkan perjuangan dan kesungguhan adalah kata jihad dengan makna yang luas.

Jihad menurut Quraish Shihab selain dimaknai sebagai cara yang ditetapkan Allah untuk menguji manusia, juga mengandung makna “kemampuan” yang menuntut sang mujahid mengeluarkan semua daya dan kemampuannya demi mencapai tujuan. Karena itu, jihad adalah pengorbanan, dan dengan demikian sang mujahid tidak menuntut atau mengambil, tetapi memberi semua daya yang dimilikinya. Ketika memberi, dia tidak berhenti sebelum tujuannya tercapai.[46]

Karena jihad adalah perwujudan kepribadian, aktualisasi diri, maka tidak pernah dibenarkan jihad yang bertentanggan dengan fitrah kemanusiaan. Bahkan, jika jihad diperunakan untuk berbuat kebatilan, maka harus di tolak bahkan oleh kedua orang tua kita. Hal ini sebagaimana dalam Q.S. Luqman: 15.[47]

Hal yang paling mendasar terkait dengan jihad atau sebuah upaya untuk mencapai tujuan menurut prespektif Islam adalah PASTI akan diberi petunjuk dan jalan untuk mencapai cita-cita dan tujuan. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Al Ankabut :69

z`ƒÏ%©!$#ur (#r߉yg»y_ $uZŠÏù öNåk¨]tƒÏ‰öks]s9 $uZn=ç7ߙ 4 ¨bÎ)ur ©!$# yìyJs9 tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÏÒÈ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

Terahir dan yang paling penting dari segalanya adalah bahwa jihad yang didalamnya juga adalah hakkat kerja harus dilakukan karena Allah serta dalam redaksi yang lebih tepat adalah jihad fi sabilillah. Sebagaimana tertuang dalam Q.S. Al Hajj: 78:

(#r߉Îg»y_ur ’Îû «!$# ¨,ym ¾Ínϊ$ygÅ_ 4 uqèd öNä38u;tFô_$# $tBur Ÿ@yèy_ ö/ä3ø‹n=tæ ’Îû ÈûïÏd‰9$# ô`ÏB 8ltym 4 s’©#ÏiB öNä3‹Î/r& zOŠÏdºtö/Î) 4 uqèd ãNä39£Jy™ tûüÏJÎ=ó¡ßJø9$# `ÏB ã@ö6s% ’Îûur #x‹»yd tbqä3u‹Ï9 ãAqߙ§9$# #´‰‹Îgx© ö/ä3ø‹n=tæ (#qçRqä3s?ur uä!#y‰pkà­ ’n?tã Ĩ$¨Z9$# 4 (#qßJŠÏ%r’sù no4qn=¢Á9$# (#qè?#uäur no4qx.¨“9$# (#qßJÅÁtGôã$#ur «!$$Î/ uqèd óOä39s9öqtB ( zN÷èÏYsù 4’n<öqyJø9$# zO÷èÏRur 玍ÅÁ¨Z9$# ÇÐÑÈ

78.  Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. dia Telah memilih kamu dan dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. dia (Allah) Telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu[993], dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka Dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. dia adalah Pelindungmu, Maka dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong.

[993]  Maksudnya: dalam kitab-kitab yang Telah diturunkan kepada nabi-nabi sebelum nabi Muhammad s.a.w.

Hal ini sesuai dengan hadits Rasul terkait dengan niat sebagai langkah awal dalam melakukan aktifitas yang diriwayatkan oleh Abi Hafs sebagai berikut:

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ . [رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. (Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kita Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .

Dengan demikian, hakikat kerja dalam MSDM dalam pandangan Islam adalah sebuah upaya untuk mencapai tujuan yang tertinggi, yakni fi sabilillah dengan tidak mengenal menyerah, putus asa untuk menggapai kebahagiaan.[48] Ia merupakan jalan untuk menggapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri.  Namun, jihad tidak dapat dilakukan tanpa modal, karena itu jihad harus disesuaikan dengan modal yang dimiliki untuk mencapai tujuan. Jihad menjadi titik tolak segala upaya, karena jihad adalah puncak aktivitas. Jihad bermula dari upaya mewujudkan jati diri yang bermula dari kesadaran.

C. Kesimpulan

Di dalam ilmu manajemen, falsafah sebenarnya menyediakan seperangkat pengetahuan (a body of related knowledge) untuk berfikir efektif dan efisien dalam memecahkan masalah-masalah manajemen. Ini merupakan hakikat manajemen sebagai suatu disiplin ilmu dalam mengatasi masalah organisasi berdasarkan pendekatan yang integratif. Falsafah manajemen SDM dalam pendidikan Islam mempunyai karakteristik tersendiri bahkan berbeda sama sekali dengan dengan manajemen pada umumnya walau objeknya sama.

Falsafah MSDM dalam pendidikan Islam terbagi dalam 3 kategiri utama, yakni tentang hakikat tujuan, hakikat manusia dan hakikat kerja. Hakikat tujuan MSDM adalah sebuah upaya mendayagunakan berbagai sumber daya (resources) untuk mencapai tujuan dalam pendidikan Islam secara efektif dan efisien baik dalam aspek produktifitas maupun kepuasan sesuai dengan nilai-nilai yang dikandung dalam Islam.

Begitu pula dengan hakikat manusia yang lebih mengedepankan bahwa manusia adalah mahluk yang dituntut untuk melakukan 2 hal, yakni sebagai ‘abddullah dan sebagai manajer (khalifah) untuk mengelola semua sumber daya (resources) yang ada. Serta hakikat kerja dalam pandangan Islam lebhi sebagai jalan untuk menggapai kebahagiaan, bukan pada tujuan. Karea ia sebagai jalan, maka konsekwensi logisnya, hasil yang diharapkan akan diserahkan sepenuhnya pada Sang Penentu, Allah Tuhan semesta Alam. Tugas manusia (manajer) adalah mengusahakannya dengan memaksimalkan semua sumber daya yang ada.

Daftar Rujukan

Ash-Shidiqie, Jimmly (eds). 1996. Sumber Daya Manusia untuk Indonesia Masa Depan. Bandung: Mizan

Asy’arie, Musya. 1992. Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam al-Qur’an, Lembaga Studi Filsafat Islam.

Barthos, Basir. 1990. Manajemen Sumber Daya Manusia Suatu Pendekatan Makro. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Basyir, Ahmad Azhar. 1984. Falsafah Ibadah dalam Islam. Yogyakarta: UII Press.

Douglas, Hall T. & James Goodale G.. 1986. Human Resources Management, Strategy, Design and Impelementation. Glenview: Scott Foresman and Company.

Echols, John M. dan Hasan Sadily, 2002. Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia.

Fattah, Nanang. 2004. Lndasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Remaja Rosyda Karya. Cet. ke-7.

Faustino, Cardoso Gomes. 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Penerbit Andi

Flippo, Edwin. B.. 1984. Manajemen Personalia. Jakarta: Erlangga.

Handoko, T. Hani. 2001. Manajemen Personalia Dan Sumber Daya Manusia Edisi 2, .Yogyakarta: BPFE Anggota IKAPI.

Hasibuan, Malayu S. P. 2003. Manajemen, Dasar, Pengertian, Dan Masalah Edisi Revisi . Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Jalal, Abdul Fatah. 1988. Azas-Azas Pendidikan Islam, Terj. Herry Noer Ali. Bandung: CV. Diponegoro.

Kapit, Filsafat: Sebuah Pengantar dalam http://bungkapit21artikel.blogspot.com

Langgulung, Hasan.  1980. Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam. Bandung: Al-Ma’arif.

Marimba, Ahmad D.. 1980. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Al-Ma’arif.

Martoyo, Susilo. 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia Edisi 4. Yogyakarta: BPFE Anggota IKAPI.

Muhaimin, 2006. Nuansa Baru Pendidikan Islam: Mengurai Benang Kusut Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Raja Grafisindo Persada

Mukhyi, Moh. Abdul dan Hadir Hudiyanto. 1995. Pengantar Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : Gunadarma.

Nizar , Syamsul, 2001. Pengantar Dasar-Dasar Pemikiran Pendidikan Islam Jakarta: Gaya Media Prakarsa.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.

Rakhmad, Jalaluddin. 2006. Meraih Kebahagiaan. Bandung: Simbosia Rekatama Media. Cet. ketiga

Rivai, Veithzal. 2005. Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan dari Teori ke Praktik. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Shihab, M. Quraish. 2001. Wawasan Al Qur’an: Tafsir Maudhu’I atas Pelbagai persoalan Umat. Bandung: Mizan.

Stoner, James A.F dkk. 1996. Alih Bahasa Oleh Drs. Alexander Sindoro, Manajemen Sumber Daya Manusia. Yakarta: PT. Indeks Gramedia Grup.

Supriyanto, Triyo. 2004. Paradigma Pendidikan Islam Berbasis Teo-Antropo-Sosiosentris. Malang: PPM kerjasaman dengan UIN Malang Press.

Suryasumantri, Jujun S.. 2003. Filsafat: Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Cet. Ke-16.

Tjokrowinoto, Moeljanto.1995. Pembangunan Dilema dan Tantangan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tunggal, Amin Widjaja. 1993. Manajemen Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta.

Yasmadi. 2002. Modernisasi Pesantren Kritik Nurcholish Madjid terhadap Pendidikan Islam Tradisional. Jakarta : Ciputat Press.


[1] Moeljanto Tjokrowinoto, Pembangunan Dilema dan Tantangan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995), hlm. 28.

[2] Jimmly Ash-Shidiqie (eds), Sumber Daya Manusia untuk Indonesia Masa Depan (Bandung: Mizan, 1996), hlm. 9.

[3] Moh. Abdul Mukhyi dan Hadir Hudiyanto, Pengantar Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta : Gunadarma, 1995) hlm. 2.

[4] Moh. Abd. Mukhyi, … Hlm. h. 3.

[5] Yasmadi, Modernisasi Pesantren Kritik Nurcholish Madjid terhadap Pendidikan Islam Tradisional, ( Jakarta : Ciputat Press, 2002), hlm.152.

[6] Nanang Fattah, Lndasan Manajemen Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosyda Karya, 2004) Cet. ke-7. Hlm. 11

[7] Jujun S. Suryasumantri, Filsafat: Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2003) Cet. Ke-16.  Hlm. 22

[8] Kapit, Filsafat: Sebuah Pengantar dalam http://bungkapit21artikel.blogspot.com/2008/06/f-i-l-s-f-t.html

[9] Nanang Fattah, Op. Cit. Hlm. 15

[10]. Cardoso Gomes Faustino, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2003) Hlm. 2

[11] Ibid, Hlm.  3

[12] Veithzal Rivai, Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan dari Teori ke Praktik, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), Hlm. 1

[13] Hall T. Douglas. & James Goodale G, Human Resources Management, Strategy, Design and Impelementation, (Glenview: Scott Foresman and Company, 1986) Hlm. 6

[14] Edwin. B. Flippo Alih bahasa oleh Moh Masud Manajemen Personalia, (Jakarta: Erlangga, 1984) Hlm. 5

[15] Malayu Hasibuan S. P, Manajemen, Dasar, Pengertian, Dan Masalah Edisi Revisi ( Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2003), Hlm. 21

[16] Basir Barthos, Manajemen Sumber Daya Manusia Suatu Pendekatan Makro, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 1990) Hlm. 1

[17] Amin Widjaja Tunggal, Manajemen Suatu Pengantar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1993) Hlm. 250

[18] T. Hani Handoko, Manajemen Personalia Dan Sumber Daya Manusia Edisi 2, (Yogyakarta: BPFE, 2001) Hlm. 4

[19] Ibid: 118

[20] Susilo Martoyo, Manajemen Sumber Daya Manusia Edisi 4, (Yogyakarta: BPFE Anggota IKAPI, , 2000) Hlm. 13

[21] Soekidjo Notoatmodjo, Pengembangan Sumber Daya Manusia, (Yakarta: Rineka Cipta, 2003), Hlm. 118

[22] James A.F Stoner dkk Alih Bahasa Oleh Drs. Alexander Sindoro, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Yakarta: PT. Indeks Gramedia Grup, 1996), Hlm. 14

[23] Ibid, Hlm. 14-15

[24] Syamsul Nizar, Pengantar Dasar-Dasar Pemikiran Pendidikan Islam (Jakarta: Gaya Media Prakarsa, 2001). Hlm. 86. Al-ta’lim mengandung pengertian hanya sebatas proses pentransferan seperangkat nilai antar manusia. Ia hanya dituntut untuk menguasai nilai yang ditrasnfer secara kognitif dan psikomorik, akan tetapi tidak dituntut pada domain afektif. Al-tarbiyah memiliki arti mengasuh, bertanggung jawab, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membesarkan, menumbuhkan, dan memproduksi serta menjinakkannya, baik yang mencakup aspek jasmaniyah maupun rohaniyah. Sedangkan Al-ta’dib lebih terfokus pada pembentukan pribadi muslim yang berahlak mulia.

[25] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Prespektif Islam, (Bandung: Remaja Rosydakarya, 2001) Cet. Keempat. Hlm. 34

[26] Syamsul Nizar, op.cit. Hlm. 85. Pembagian dan penggunaan istilah untuk menterjemahkan makna pendidikan dalam gramatikal bahasa Arab secara lebih terperinci diterangkan oleh Triyo Supriyanto, Paradigma Pendidikan Islam Berbasis Teo-Antropo-Sosiosentris, (Malang: PPM kerjasaman dengan UIN Malang Press, 2004) Hlm. 1-6

[27] M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), Hlm. 11

[28] Hasan Langgulung. Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam (Bandung: Al-Ma’arif, 1980) Hal 94.

[29] Ahmad D. Marimba. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: Al-Ma’arif, 1980) hal. 23.

[30] Syamsul Nizar, Op. Cit., Hlm.93-94

[31] Ahmad D. Marimba. hal. 23.

[32] Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam: Mengurai Benang Kusut Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafisindo Persada, 2006). Hlm. 6-7

[33] Syamsul Nizar, Op. Cit., 108-109

[34] Ahmad Azhar Basyir, Falsafah Ibadah dalam Islam, (UII Press: Yogyakarta, 1984), Hlm. 7.

[35] Nanang Fattah, Op. Cit. Hlm. 17

[36] M. Quraish Shihab, Wawasan Al Qur’an: Tafsir Maudhu’I atas Pelbagai persoalan Umat, (Bandung: Mizan, 2001), Hlm. 278

[37] Musya Asy’arie, Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam al-Qur’an, Lembaga Studi Filsafat Islam, 1992. Hlm. 22

[38] M.Quraish Shihab, Op. Cit. Hlm. 280

øŒÎ)ur tA$s% y7•/u‘ Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ’ÎoTÎ) 7,Î=»yz #\t±o0 `ÏiB 9@»|Áù=|¹ ô`ÏiB :*yJym 5bqãZó¡¨B ÇËÑÈ [39]

[40] øŒÎ)ur tA$s% š•/u‘ Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ’ÎoTÎ) ×@Ïã%y` ’Îû ÇÚö‘F{$# Zpxÿ‹Î=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ߉šøÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡o„ur uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ωôJpt¿2 â¨Ïd‰s)çRur y7s9 ( tA$s% þ’ÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ

[41] Ibid.,

[42] Musa Asy’arie, Op. Cit. Hlm. 21

[43] ô‰s)s9 $uZø)n=y{ z`»|¡SM}$# þ’Îû Ç`|¡ômr& 5OƒÈqø)s? ÇÍÈ

[44] “Ï%©!$# y7s)n=yz y71§q|¡sù y7s9y‰yèsù ÇÐÈ

[45] Nanang Fattah, Op. Cit., Hlm. 19

[46] M.Quraish Shihab, Op. Cit. Hlm. 503-505

[47] bÎ)ur š‚#y‰yg»y_ #’n?tã br& š‚͍ô±è@ ’Î1 $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ ÖNù=Ïæ Ÿxsù $yJßg÷èÏÜè? ( $yJßgö6Ïm$|¹ur ’Îû $u‹÷R‘‰9$# $]ùrã÷ètB ( ôìÎ7¨?$#ur Ÿ@‹Î6y™ ô`tB z>$tRr& ¥’n<Î) 4 ¢OèO ¥’n<Î) öNä3ãèÅ_ötB Nà6ã¥Îm;tRé’sù $yJÎ/ óOçFZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÎÈ

[48] Dalam pandangan Jalaluddin Rakhmad bahwa kebahagiaan dalam bahasa Arab diterjemahkan dengan falah yang dalam kamus bahasa Arab Klasik berarti kemakmuran, keberhasilan, atau pencapaian apa yang kita inginkan atau kita cari. Jalaluddin Rakhmad, Meraih Kebahagiaan, (Bandung: Simbosia Rekatama Media, 2006) Cet. ketiga. Hlm. 24-25

Iklan

Kategori

%d blogger menyukai ini: