Pengembangan Kurikulum Berbasis Integrasi

Sains dan Agama

 

Oleh: Ali Rif’an

 

  1. PENDAHULUAN

Pemikiran tentang integrasi atau Islamisasi ilmu pengetahuan dewasa ini yang dilakukan oleh kalangan intelektual Muslim, tidak lepas dari kesadaran beragama. Secara totalitas ditengah ramainya dunia global yang sarat dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan sebuah konsep bahwa ummat Islam akan maju dapat menyusul menyamai orang-orang Barat apabila mampu menstransformasikan dan menyerap secara aktual terhadap ilmu pengetahuan dalam rangka memahami wahyu, atau mampu memahami wahyu dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.[1] Hal ini dapat dilakukan dengan salah satunya adalah dalam muatan dan pengembangan kurikulumnya. Baca Lanjutannya…

Iklan
50 Hal Penting Terkait Kesehatan, Rezeki dan Kecerdasan
Yang bisa merusak tubuh:
1. Murung
2. Sedih
3. Lapar
4. Begadang
Yang bisa menggembirakan hati:
5. Melihat yang hijau-hijau
6. Melihat air yang mengalir
7. Melihat orang yang dicintai
8. Melihat buah-buahan
Yang bisa menggelapkan penglihatan:
9. Berjalan tanpa alas kaki
10. Menghabisakan pagi dan sore di hadapan orang yang dibenci, orang yang menyusahkan atau musuh
11. Banyak menangis
12. Membaca tulisan yang sangat kecil

Baca Lanjutannya…

SIAPA YANG TIDAK INGIN MENJADI IBU SEPERTI BELIAU?

Tiga anaknya tidak sekolah di sekolah formal layaknya anak-anak pada umumnya. Tapi ketiganya mampu menjadi anak teladan, dua di antaranya sudah kuliah di luar negeri di usia yang masih sangat muda. Saya cuma berdecak gemetar mendengarnya. Bagaimana bisa?

Namanya Ibu Septi Peni Wulandani. Kalau kita search nama ini di google, kalian akan tahu bahwa Ibu ini dikenal sebagai Kartini masa kini. Beliau seorang ibu rumah tangga profesional, penemu model hitung jaritmatika, juga seorang wanita yang amat peduli pada nasib ibu-ibu di Indonesia. Seorang wanita yang ingin mengajak wanita Indonesia kembali ke fitrahnya sebagai wanita seutuhnya.

Beliau bercerita kiprahnya sebagai ibu rumah tangga yang mendidik tiga anaknya dengan cara yang bahasa kerennya anti mainstream. It’s like watching 3 Idiots. But this is not a film. This is a real story from Salatiga, Indonesia. Baca Lanjutannya…

Oleh: Admin | 20 Oktober 2014

TEARS OF HEAVEN: From Beirut to Jerusalem

Sinopsis

cover Tear  of  HeavenBuku “From Beirut to Jerusalem” merupakan kesaksian dr. Swee tentang Pembantaian Sabra-Shatila, kamp pengungsi Palestina di Beirut, Lebanon. Tak ada buku lain yang lebih otoritatif dan paling detil menceritakan pembantaian itu selain buku ini; termasuk bahkan di antara buku yang ditulis oleh orang-orang Arab maupun Muslim sendiri. [Farid Gaban | Pena Indonesia]
Pembantaian Sabra-Shatilla merupakan salah satu tonggak paling tragis dalam konflik Israel-Arab; dan merupakan jejak Israel yang berlumuran darah dalam konflik yang berumur hampir satu abad ini. Agresi Israel di Lebanon dan gaza sekarang ini yang membunuh lebih 3300 orang, sebagian besar sipil, perempuan dan anak-anak, serta menghancurkan
infrastruktur sosial-ekonomi sebuah negeri, hanyalah pengulangan sejarah dari agresi dan teror sebelumnya. Baca Lanjutannya…

Oleh: Admin | 17 Oktober 2014

Amplop Mbah Abdullah Salam – Kajen

Amplop Mbah Dullah

Kyai Abdullah Salam
“Ada yang bilang, saya ini masih keturunan Kanjeng Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam“, seorang kyai berkata dalam sebuah obrolan, “untungnya riwayat silsilah yang ditunjukkan kepada saya itu dlo’if!”
“Kok malah untung?”

“Waaa…. kalau saya disahkan menjadi keturunan Kanjeng Nabi…. payah saya!”

“Lho? Gimana sih?”

“Nggak payah gimana? Saya ‘kan jadi nggak boleh terima sedekah? Apalagi zakat? Apa nggak ngaplo saya?”

Memang tidak boleh menerimakan zakat dan sedekah kepada Bani Hasyim dan Bani Abdil Muththolib. Dan mereka pun diharamkan menerimanya, demi keagungan dan kehormatan keluarga Kanjeng Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam.

Mbah Dullah Salam, Kyai Abdullah bin Abdussalam rahimahullah, Kajen, Pati, diyakini juga dari Bani Hasyim. Wa qiila silsilah beliau menyambung sampai kepada Syaikh Sayyid Abdurrahman Basyaiban, Mbah Sambu, Lasem. Bertemu dengan silsilah Mbah Baidlowi Lasem, Mbah Hamid Pasuruan, Kyai Achmad Shiddiq Jember, dan Gus Dur. Memang, catatan-catatan silsilah itu sebagian masih diperdebatkan. Tapi Mbah Dullah adalah seorang yang amat hati-hati. Lagi pula, beliau adalah Mbah Dullah Salam, lebih dari sekedar seorang kyai.

Seseorang bertamu, menyerahkan amplop tebal berisi segepok uang.

“Nuwun sewu, Mbah, ini sedekah saya…”

“Untuk aku?”

“Iya”.

Mbah Dullah manggut-manggut.

“Di kampungmu sudah nggak ada orang feqir?”

Si tamu kaget dan serta-merta kecut hati, tapi berusaha menjawab hati-hati,

“Yang di kampung saya insyaallah sudah semua, Mbah. Ini saya sediakan khusus untuk Simbah…”

Sinar mata Mbah Dullah tidak berkurang tajamnya,

“Jadi, aku ini kamu anggap feqir?”

Nyaris pingsan tamu itu! Keringat dingin bertotol-totol di dahinya. Begitu takut hingga lidahnya lumpuh. Tak mampu berucap walau hanya kata “ampun”.

Senyum mengembang di wajah Mbah Dullah. Membebaskan si tamu dari himpitan gunung.

“Pokoknya ini buat aku ya?” suara Mbah Dullah jauh lebih ramah.

“I… iya…, Mbah…”

“Tashorrufnya terserah aku ya?”

Tamu cuma mampu mengangguk lemah.

Mbah Dullah menengok ke halaman rumah. Santri-santri cilik berkeliaran dan bercengkerama. Mbah Dullah memanggil salah satunya,

“Nak! Hei! Kamu! Ya! Sini kamu!”

Kepada santri itu Mbah Dullah mengulurkan amplop pemberian tamu.

“Nih! Bagi-bagi dengan teman-temanmu ya!”

Santri melongo tak percaya. Tapi Mbah Dullah menggerakkan tangan memberi isyarat supaya dia lekas beranjak. Santri beringsut keluar rumah. Dan begitu lepas dari pintu, ia langsung teriak-teriak memanggili teman-temannya. Riuh-rendah pecah. Mbah Dullah tersenyum-senyum memandangi santri-santri berkejaran di halaman, berebut bagian.

“Lihat!” beliau berkata pada tamu, “Duit sampeyan sudah bikin gembira anak-anak sebanyak itu!”

Oleh KH. Yahya C Staquf

Baca Lanjutannya…

37 Kebiasaan Orang Tua

Yang Menghasilkan Perilaku Buruk Pada Anak

Mengapa oh mengapa?

  • Apakah anda mulai merasa kesulitan mengendalikan perilaku anak anda?
  • Apakah anda dan pasangan sering nggak sepaham dalam mendidik anak anak?
  • Apakah anak anda sering merengek dan maksa untuk dituruti kemauannya?
  • Apakah anak anda sering berantem satu sama lain?
  • Apakah anda kesulitan karena anak anda selalu nonton tv atau maen PS?

Jika anda menjawab ya dari salah satu pertanyaan diatas, maka ada baiknya baca tips tips dibawah ini. Berikut ini adalah tips tips dari buku Ayah Edy ini.

1. Raja yang Tak Pernah Salah

Sewaktu anak kita masih kecil dan belajar jalan tidak jarang tanpa sengaja mereka menabrak kursi atau meja. Lalu mereka menangis. Umumnya, yang dilakukan oleh orang tua supaya tangisan anak berhenti adalah dengan memukul kursi atau meja yang tanpa sengaja mereka tabrak. Sambil mengatakan, “Siapa yang nakal ya? Ini sudah Papa/Mama pukul kursi/mejanya…sudah cup….cup…diem ya..Akhirnya si anak pun terdiam. Baca Lanjutannya…

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM
(Sebuah Tinjauan Biopsikososiospiritual)
Oleh: Ali Rif’an

A. Pendahuluan
Pendidikan dalam Islam merupakan sebuah rangkaian proses pemberdayaan manusia menuju taklif (kedewasaan), baik secara akal, mental maupun moral, untuk menjalankan fungsi kemanusiaan yang diemban sebagai seorang hamba (abd) dihadapan Khaliq-nya dan sebagai ‘pemelihara’ (khalifah) pada semesta. Karenanya, fungsi utama pendidikan adalah mempersiapakan peserta didik (generasi penerus) dengan kemampuan dan keahlian (skill) yang diperlukan agar memiliki kemampuan dan kesiapan untuk terjun ke tengah masyarakat (lingkungan).
Dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Admin | 3 September 2013

INTERRELASI AGAMA DAN ILMU

INTERRELASI AGAMA DAN ILMU

(Prespektif dan Kritik Islam terhadap Sains Modern sebagai upaya Mempertemukan Dikotomi Ilmu Pengetahuan)

  1. A.      Pendahuluan

Pemikiran tentang integrasi atau Islamisasi ilmu pengetahuan dewasa ini yang dilakukan oleh kalangan intelektual muslim, tidak lepas dari sebuah kesadaran beragama. Secara totalitas ditengah ramainya dunia global yang sarat dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan sebuah konsep bahwa ummat Islam akan maju dapat menyusul menyamai orang-orang barat apabila mampu menstransformasikan dan menyerap secara aktual terhadap ilmu pengetahuan dalam rangka memahami wahyu, atau mampu memahami wahyu dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.[1]

Disamping itu terdapat asumsi bahwa ilmu pengetahuan yang berasal dari negara-negara barat dianggap sebagai pengetahuan yang sekuler oleh karenanya ilmu tersebut harus ditolak, atau minimal ilmu pengetahuan tersebut harus dimaknai dan diterjemahkan dengan pemahaman secara islami. Ilmu pengetahuan yang sesungguhnya merupakan hasil dari pembacaan manusia terhadap ayat-ayat Allah swt telah kehilangan dimensi spiritualitasnya, maka berkembangkanlah ilmu atau sains yang tidak punya kaitan sama sekali dengan agama. Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori

%d blogger menyukai ini: