Oleh: Admin | 4 Januari 2012

Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam Indonesia


Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam Indonesia
(Prespektif K. H. Ahmad Dahlan dan K. H. Hasyim Asy’ari)

Oleh: Ali Rif’an

A. PENDAHULUAN
Pendidikan Islam senantiasa menjadi sebuah kajian yang menarik bukan hanya karena memiliki kekhasan tersendiri, namun juga karena kaya akan konsep-konsep yang tidak kalah bermutu dibandingkan dengan pendidikan modern. Dalam khasanah pemikiran pendidikan Islam, kita temukan tokoh-tokoh besar dengan ide-idenya yang cerdas dan kreatif yang menjadi inspirasi dan kontribusi yang besar bagi dinamika pendidikan Islam di Indonesia.
Salah satu peran ulama sebagai tokoh Islam yang patut di catat adalah posisi mereka sebagai kelompok terpelajar yang membawa pencerahan kepada masyarakat sekitarnya. Berbagai lembaga pendidikan telah di lahirkan oleh mereka baik dalam bentuk sekolah maupun pondok pesantren. Semua itu adalah lembaga yang ikut mengantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan berpendidikan. Mereka telah berperan dalam memajukan ilmu pengetahuan, khususnya Islam lewat karya-karya yang telah ditulis atau melalui jalur dakwah mereka.


Adapun tantangan yang di hadapi pendidikan Islam di masa awal masuknya Islam ke Indonesia barangkali adalah kurangnya pemahaman pemeluk Islam baru akan pengetahuan agama Islam. Tersebarnya agama Islam ke Nusantara menimbulkan kebutuhan akan guru-guru, juru dakwah untuk menganjurkan prinsip-prinsip agama baru tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Islam itu muncullah pusat-pusat pembelajaran agama Islam, dalam bentuk pengajaran individual maupun secara kelompok (padepokan atau pesantren).
Pendidikan Islam dalam bentuk padepokan (pesantren ini berlangsung cukup lama sampai akhirnya timbul tantangan baru yaitu berdirinya sekolah Belanda. Sekolah Belanda ini dikembangkan oleh pemerintah kolonial untuk menghasilkan tenaga kantor tingkat rendah, dengan gaji jauh lebih murah. Akhirnya muncul pendidikan model tradisional yaitu pesantren, sekolah Belanda dan juga madrasah sebagai respon pembaharuan pendidikan dengan model sekuler Belanda. Modernisasi pendidikan ini terus berlanjut hingga akhirnya ada sekelompok Muslim yang mendirikan sekolah Islam, suatu bentuk pendidikan Islam yang sepenuhnya mengadopsi bentuk dan kurikulum sekolah kolonial Belanda. Munculnya model ini bukan berarti bentuk pendidikan Islam yang lama menjadi hilang. Yang lama masih tetap ada dan berdampingan dengan bentuk pendidikan Islam yang baru. Sehingga di kalangan masyarakat muslim ada tiga bentuk lembaga pendidikan Islam yaitu pesantren, madrasah (kurikulum lebih berat ke pendidikan agama dengan bangku dan papan tulis) dan sekolah Islam yang ketiganya bertahan sampai sekarang.
Pemikiran dan perjuangan KH. Hasyim Asyari dan KH. Ahmad Dahlan yang kiprah dan perjuangannya begitu sentral, utamanya di dalam bidang pendidikan telah menentukan arah pendidikan di tanah air, sebuah pendidikan yang berbasis keislamaan namun tetap sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman (al-muhafazhah alal qadim as-Shalih wal akhdu al-jadid al-aslah).
Untuk mengapresiasi setinggi-tingginya perjuangan dan pemikiran kedua tokoh perjuangan ini, penulis akan berusaha sebaik mungkin, namun ringkas dalam mengupas sepak terjang dan perjuangan kedua tokoh tersebut dalam mewarnai dan menentukan arah dan tipologi pendidikan di Indonesia yang mencakup tentang biografi beliau, pemikiran dan kontribusinya bagi pendidikan Islam di Indonesia

B. K. H. AHMAD DAHLAN; BIOGRAFI DAN PEMIKIRANNYA
1. Riwayat Hidup K.H Ahmad Dahlan
Seperti yang kita ketahui bahwa penulisan riwayat hidup K.H. Ahmad Dahlan telah banyak dilakukan oleh para sarjana. K.H. Ahmad Dahlan lahir di Kauman Yogyakarta pada tahun 1868. Nama kecilnya adalah Muhammad Darwisy dan merupakan anak keempat dari K.H. Abu Bakar (seorang ulama dan khatib terkemuka di Mesjid Besar Kesultanan Yogyakarta) dan ibunya merupakan putrid dari H. Ibrahim yang menjabat sebagai penghlu kesultanan juga. Ia merupakan anak keempat dari tujuh ornag bersudara yang keseluruhan saudaranya perempuan kecuali adik bungsunya.
Dalam silsilah ia termasuk keturunan yang keduabelas dari maulana malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di tanah Jawa. Ia dikenal jujur dan sederhana dan inilah yang membuatnya disukai orang. Untuk mempelajari ilmu-ilmu agama ia berpindah dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Ia mempunya sikap kritis terhadap pola pendidikan tradisional, tetapi tidak punya kekuatan untuk mengubahnya. Dalam keadaan seperti ini Ia beruntung memproleh kesempatan melanjutkan pendidikannya ke Mekah pada tahun 1890. Di sinilah Ia berinteraksi dengan pemikir-pemikir pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, al-Afgani, Rasyid RIdha, dan Ibnu Taimiyah. Pemikiran tokoh-tokoh Islam ini mempunya pengaruh yang besar padanya. Jiwa dan pemikirannya penuh disemangati oleh aliran pembaharuan ini sehingga kelak kemudian hari menampilkan corak keagamaan yang sama, yaitu melalui Muhammadiyah, yang bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan (ke-Islaman) di sebagian dunia Islma saat itu yang masih bersifat ortodoks.
Melalui kitab-kitab yang dikarang oleh reformer Islam, telah membuka wawasan beliau tentang universalitas Islam. Ide-ide tentang reenterpretasi Islam dengan gagasan kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah mendapat perhatian khususnya saat itu. Ia juga merupakan murid Syaikh Ahmad Khatib (1899-1916), tokoh kelahiran Indonseia yang saat itu menempati posisi tertinggi dalam penguasaannya atas ilmu-ilmu agama di Mekkah. Dalam pendidikan keagamaan formalnya sebagian besar waktu K.H. Ahmad Dahlan tampaknya dihabiskan untuk mempelajari ajaran Islam tradisionalis, karena itu perkenalannya dengan gagasan-gagasan modernisme Islam kemungkinan terjadi lewat bacaan pribadi dan hubungannya dengan kaum moerdenis Muslim lain.
Sekembalinya dari Mekkah tahun 1905. Ia menikah dengan Siti Walidah, anak perempuan seorang hakim di Yogyakarta yang kelak dikena dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Karena gajinya sebagai khatib tidak mencukupi untuk memenuhi keperluannnya sehari-hari, ia berdagang batik. Ini membawanya ke hampir semua daerah di Jawa dan memberinya kesempatan untk menyampaikan gagasan-gagasannya kepada kaum Muslim yang menonjol di daerah masing-masing. Mereka inilah yang belakangan menjadi bagian inti gerakan Muhammadiyah dan pengikutnya yang bersemangat. K.H. Ahmad Dahlan juga bergabung dengan organisasi Jam’iyatul Khair, Budi Utomo, a nggota teras Sarekat Islam hingga akhirnya di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 lahirlah Muhammadiyah sebagai gerakan umat Islam. dan sejak awal K.H. Ahmad Dahlan menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat social dan bergerak di bidang pendidikan. K.H. Ahmad Dahlan berpulang ke rahmatullah pada tanggal 23 Februari 1923 dalam usia 55 tahun.
2. Pemikiran Pendidikan Islam K. H. Ahmad Dahlan
Buya (K.H. Ahmad Dahlan) merasa tidak puas dengan system dan praktik pendidikan saat itu, dibuktikan dengan pandangannya mengenai tujuan pendidikan adalah untuk menciptakan manusia yang baik budi, luas pandangan, dan bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakat. Karena itu Buya merentaskan beberapa pandangannya mengenai pendidikan dalam bentuk pendidikan model Muhammadiyah khususnya, antara lain:
a) Pendidikan Integralistik
K.H Ahmad Dahlan (1868-1923) adalah tipe man of action sehingga sudah pada tempatnya apabila mewariskan cukup banyak amal usaha bukan tulisan. Oleh sebab itu untuk menelusuri bagaimana orientasi filosofis pendidikan Beliau musti lebih banyak merujuk pada bagaimana beliau membangun sistem pendidikan. Namun naskah pidato terakhir beliau yang berjudul Tali Pengikat Hidup menarik untuk dicermati karena menunjukkan secara eksplisit konsen Beliau terhadap pencerahan akal suci melalui filsafat dan logika.
Sedikitnya ada tiga kalimat kunci yang menggambarkan tingginya minat Beliau dalam pencerahan akal, yaitu: (1) pengetahuan tertinggi adalah pengetahuan tentang kesatuan hidup yang dapat dicapai dengan sikap kritis dan terbuka dengan mempergunakan akal sehat dan istiqomah terhadap kebenaran akali dengan di dasari hati yang suci; (2) akal adalah kebutuhan dasar hidup manusia; (3) ilmu mantiq atau logika adalah pendidikan tertinggi bagi akal manusia yang hanya akan dicapai hanya jika manusia menyerah kepada petunjuk Allah swt.
Pribadi K.H. Ahmad Dahlan adalah pencari kebenaran hakiki yang menangkap apa yang tersirat dalam tafsir Al-Manaar sehingga meskipun tidak punya latar belakang pendidikan Barat tapi ia membuka lebar-lebar gerbang rasionalitas melalui ajaran Islam sendiri, menyerukan ijtihad dan menolak taqlid. Dia dapat dikatakan sebagai suatu “model” dari bangkitnya sebuah generasi yang merupakan “titik pusat” dari suatu pergerakan yang bangkit untuk menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi golongan Islam yang berupa ketertinggalan dalam sistem pendidikan dan kejumudan paham agama Islam.
Berbeda dengan tokoh-tokoh nasional pada zamannya yang lebih menaruh perhatian pada persoalan politik dan ekonomi, K.H. Ahmad Dahlan mengabdikan diri sepenuhnya dalam bidang pendidikan. Titik bidik pada dunia pendidikan pada gilirannya mengantarkannya memasuki jantung persoalan umat yang sebenarnya. Seiring dengan bergulirnya politik etis atau politik asosiasi (sejak tahun 1901), ekspansi sekolah Belanda diproyeksikan sebagai pola baru penjajahan yang dalam jangka panjang diharapkan dapat menggeser lembaga pendidikan Islam semacam pondok pesantren. Pendidikan di Indonesia pada saat itu terpecah menjadi dua: pendidikan sekolah-sekolah Belanda yang sekuler, yang tak mengenal ajaran-ajaran yang berhubungan dengan agama; dan pendidikan di pesantren yang hanya mengajar ajaran-ajaran yang berhubungan dengan agama saja.
Dihadapkan pada dualisme sistem (filsafat) pendidikan ini K.H. Ahmad Dahlan “gelisah”, bekerja keras sekuat tenaga untuk mengintegrasikan, atau paling tidak mendekatkan kedua sistem pendidikan itu. Cita-cita pendidikan yang digagas Beliau adalah lahirnya manusia-manusia baru yang mampu tampil sebagai “ulama-intelek” atau “intelek-ulama”, yaitu seorang muslim yang memiliki keteguhan iman dan ilmu yang luas, kuat jasmani dan rohani. Dalam rangka mengintegrasikan kedua sistem pendidikan tersebut, K.H. Ahmad Dahlan melakukan dua tindakan sekaligus; memberi pelajaran agama di sekolah-sekolah Belanda yang sekuler, dan mendirikan sekolah-sekolah sendiri di mana agama dan pengetahuan umum bersama-sama diajarkan. Kedua tindakan itu sekarang sudah menjadi fenomena umum; yang pertama sudah diakomodir negara dan yang kedua sudah banyak dilakukan oleh yayasan pendidikan Islam lain. Namun, ide Beliau tentang model pendidikan integralistik yang mampu melahirkan muslim ulama-intelek masih terus dalam proses pencarian.
Sistem pendidikan integralistik inilah sebenarnya warisan yang musti kita eksplorasi terus sesuai dengan konteks ruang dan waktu, masalah teknik pendidikan bisa berubah sesau dengan perkembangan ilmu pendidikan atau psikologi perkembangan. Dalam rangka menjamin kelangsungan sekolahan yang ia dirikan maka atas saran murid-muridnya Beliau akhirnya mendirikan persyarikatan Muhammadiyah tahun 1912. Metode pembelajaran yang dikembangkan K.H. Ahmad Dahlan bercorak kontekstual melalui proses penyadaran. Contoh klasik adalah ketika Beliau menjelaskan surat al-Ma’un kepada santri-santrinya secara berulang-ulang sampai santri itu menyadari bahwa surat itu menganjurkan supaya kita memperhatikan dan menolong fakir-miskin, dan harus mengamalkan isinya. Setelah santri-santri itu mengamalkan perintah itu baru diganti surat berikutnya. Ada semangat yang musti dikembangkan oleh pendidik Muhammadiyah, yaitu bagaimana merumuskan sistem pendidikan ala al-Ma’un sebagaimana dipraktekan K.H. Ahmad Dahlan . Anehnya, yang diwarisi oleh warga Muhammadiyah adalah teknik pendidikannya, bukan cita-cita pendidikan, sehingga tidak aneh apabila ada yang tidak mau menerima inovasi pendidikan. Inovasi pendidikan dianggap sebagai bid’ah. Sebenarnya, yang harus kita tangkap dari K.H. Ahmad Dahlan adalah semangat untuk melakukan perombakan atau etos pembaruan, bukan bentuk atau hasil ijtihadnya.
b) Mengadopsi Substansi dan Metodologi Pendidikan Modern
Yaitu mengambil beberapa komponen pendidikan yang dipakai oleh lembaga pendidikan Belanda. Dari ide ini, K.H. Ahmad Dahlan dapat menyerap dan kemudian dengan gagasan dan prektek pendidikannya dapat menerapkan metode pendidikan yang dianggap baru saat itu ke dalam sekolah yang didirikannya dan madrasah-madrasah tradisional. Metode yang ditawarkan adalah sintesis antara metode pendidikan modern Barat dengan tradisional. Dari sini tampak bahwa lembaga pendidikan yang didirikan K.H. Ahmad Dahlan berbeda dengan lembaga pendidikan yang dikelola oleh masyarakat pribumi saat ini. Sebagai contoh, K.H. Ahmad Dahlan mula-mula mendirikan SR di Kauman dan daerah lainnya di sekitar Yogyakarta, lalu sekolah menengah yang diberi nama al-Qism al-Arqa yang kelak menjadi bibit madrasah Mu’allimin dan Mu’allimat Muhammadiyah Yogyakarta. Sebagai catatan, tujuan umum lembaga pendidikan di atas baru disadari sesudah 24 tahun Muhammadiyah berdiri, tapi Amir Hamzah menyimpulkan bahwa tujuan umum pendidikan Muhammadiyah menurut K.H. Ahmad Dahlan adalah:
1. Baik budi, alim dalam agama
2. Luas pandangan, alim dalam ilmu-ilmu dunia (umum)
3. Bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya
Mungkin ada benarnya jika dikaitkan dengan latar belakang timbulnya pemikiran pendidikan Islam K.H. Ahmad Dahlan yang antara lain disebabkan oleh rasa tidak puas terhadap system pendidikan yang ada dan hanya mengembangkan salah satu bidang pengetahuan dari kedua pengetahuan yang ingin dirangkul oleh K.H. Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyahnya. Ijtihad pemikiran pendidikan yang dicetuskan K.H. Ahmad Dahlan melalui gagaan dan praktek pendidikan Islamnya merupakan cikal bakal dan dijadkan estafet dalam pembaharuan system pendidikan Muhammadiyah, sebagai contoh “pondok Muhammadiyah”. Ada empat pokok model pembaharuan pendidikan di Pondok Muhammadiyah antara lain:

No. Sistem Pendidikan Lama Pondok Muhammadiyah
1
System belajar mengajar Weton dan Sorogan. Sistem klasikal dengan cara-cara Barat.

2 Bahan pelajaran semata-mata agama, kitab-kitab karangan ulama pembaharuan tidak dipergunakan. Bahan pelajaran tetap, ditambah ilmu pengetahuan umum. Kitab-kitab agama dipergunakan secara luas, baik klasik maupun kontemporer.
3 Belum ada RP yang teratur dan integral. Sudah diatur dengan RP.
4
. Hubungan guru dan murid lebih bersifat otoriter dan kurang demokratis. Diusahakan suasana hubungan guru dan murid lebih akrab bebas dan demokratis.

Dalam pendidikan di pondok Muhammadiyah mata pelajaran agama dan alat untuk mempelajari agama sebagai mata pelajaran pokok. Program pendidikan pondok Muhammadiyah berbeda dengan sekolah Muhammadiyah. Pondok Muhammadiyah menekankan hal keagamaan . sementara sekolah kelas I dan II yang dikelola Muhammadiyah, pendidikan agama hanya sebagai mata pelajaran suatu bidang studi yaitu mata pelajaran Agama Islam. Mata pelajaran ini disampaikan pada suatu kelas tertentu dnegna waktu yang ditetapkan.
Sekolah Muhammadiyah pada awal abad ke-20 sudah menerapkan system ulangan, absensi murid dan kenaikan kelas. Sementara itu, ujian dipakai sebagai pengukur kecakapan murid. Pendidikan Muhammadiyah juga ditunjang dengan beberapa kegiatan di luar jam pelajaran dan guru dihormati secara wajar. K.H. Ahmad Dahlan telah membawa pembaharuan pendidikan waktu itu melalui Muhammadiyah baik dengan memasukkan mata pelajaran agama di sekolah-sekolah umum dan menyerap ilmu-ilmu yang datang dari Barat, serta memasukkan kitab-kitab ulama baru ke dalam kurikulumnya. Semuanya itu mengundang munculnya berbagai kecaman terhadap beliau. Ada yang menuduh sebagai murtad, kreisten, penganut paham mu’tazilah, kharijiah, dsb. Bahkan sampai tahun 1933 disebutkan bahwa sekolah Muhammadiyah sebagai sekolah kebelanda-belandaan atau kebarat-baratan. Namun Muhammadiyah tetap bisa bertahan dan hingga saat ini mewajikan pembelajaran pengetahuan keIslaman yang disebut al-Islam dan keMuhammadiyahan, dengan mengajarkan Islam versi Majlis Tarjih.
c) Memberi Muatan Pengajaran Islam pada Sekolah-sekolah Umum Modern
Muhammadiyah baru memutuskan meminta kepada pemerintah agar memberi izin bagi orang Islam untuk mengajarkan agama Islam di sekolah-sekolah Goebernemen pada bulan April 1922. sebenarnya sebelum Muhammadiyah didirikan ini sudah diusahakan namun baru mendapat izin saat itu. Hingga akhirnya Muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah swasta yang meniru sekolah Gubernemen dengan pelajaran agama di dalamnya. Tujuan pokok organisasi dan pendirian lembaga pendidikan menjadi orientasi utama K.H. Ahmad Dahlan sehingga berusaha untuk menandingi sekolah pemerintahan Belanda dengan mengikuti contoh misi Kristen dengan menyebarkan fasilitas dan mendesakkan pengalaman iman. ] Sekolah Dasar Belada dengan al-Qur’an didirikan dari keterkesanannya terhadap kerja para misionaris Kristen dan SD Belanda dengan Alkitabnya.
Sekolah Muhammadiyah mempertahankan dimensi Islam yang kuat, tetapi dilakukan dengan cara yang berbeda dengan sekolah-sekolah Islam yang lebih awal dengan gaya pesantrennya yang kental. Dengan contoh metode dan system pendidikan baru yang diberikannya. K.H. Ahmad Dahlan juga ingin memodernisasi sekolah keagamaan tradisional. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam, K.H. Ahmad Dahlan mendirikan sekolah Muallimin dan Muallimat, Muballighin dan Muballighat. Dengan demikian diharpakan lahirlah kader-kader Muslim sebagai bagian inti program pembaharuannya yang bisa menjadi ujung tombak gerakan Muhammadiyah dan membantu menyampaikan misi-misi dan melanjutkannya di masa depan. K.H. Ahmad Dahlan juga bekerja keras meningkatkan moral dan posisi kaum perempuan dalam kerangka Islam sebagai instrument yang efektif dan bermanfaat di dalam organisasinya karena perempuan merupakan unsur penting berkat bantuan istri dan koleganya sehingga terbentuklah Aisyiah.
d) Menerapkan Sistem Kooperatif dalam Bidang Pendidikan
Kita dapat melihat adanya kerjasama yang harmonis antara pemerintahan Belanda dengan Muhammadiyah. Keduanya sama-sama memperoleh keuntungan. Pertama, dari sikap non oposisional. Kedua, mendukung program pembaharuan keagamaan termasuk di dalam bidang pendidikan. Sikapnya yang akomodatif dan kooperatif memberikan ketentuan mutlak untuk bertahan hidup di tengah iklim yang sangat tidak ramah terhadap gerakan nasionalis pribumi dan disaat tidak satupun gerakan yang sebanding dengannya dapat bertahan saat itu. Sehingga K.H. Ahmad Dahlan dapat masuk lebih dalam pada lingkungan pendidikan kaum misionaris yang diciptakan oleh pemerintah Belanda, yang saat itu lebih maju kedepan dari pada sistem penddikan pribumi yang tradisional.
Dari uraian tersebut di atas, ada beberapa catatan yang direntaskan oleh buya, antara lain:
a) Membawa pembaruan dalam bentuk kelembagaan pendidikan, yang semula seistem pesantren menjadi system sekolah.
b) Memasukkan pelajaran umum kepada sekolah-sekolah keagamaan atau madrasah.
c) Mengadakan perubahan dalam metode pengajaran, dari yang semula menggunakan metode weton dan sorogan menjadi lebih bervariasi.
d) Mengajarkan sikap hidup terbuka dan toleran dalam pendidikan.
e) Dengan Muhammadiyahnya buya berhasil mengembangkan lembaga pendidikan yang beragam dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi dan dari yang berbentuk sekolah agama hingga yang berbentuk sekolah umum.
f) Berhasil memperkenalkan manajemen pendidikan modern ke dalam system pendidikan yang dirancangkannya.
g) Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah
Ada banyak hal yang menjadikan K.H. Ahmad Dahlan sebagai pembaharu, di antaranya yaitu:
1. Melakukan purifikasi ajaran Islam dari khurafat tahayul dan bid’ah yang selama ini telah bercampur dalam akidah dan ibadah umat Islam, dan mengajak umat Islam untuk keluar dari jarring pemikiran teradisional melalui reinterpretasi terhadap doktrin Islam dalam rumusan dan penjelasan yang dapat diterima oleh rasio.
2. Usaha dan jasanya mengubah dan membetulkan arah kiblat yang tidak tepat menurut mestinya. Umumnya masjid-masjid dan langgar-langgar di Yogyakarta menghadap Timur dan orang-orang shalat mengahadap kearah Barat lurus. Padahal kiblat yang sebenarnya menuju Ka’bah dari tanah Jawa haruslah iring kearah Utara + 24 derajat dari sebelah Barat. Berdasarkan ilmu pengetahuan tentang ilmu falak itu, ornag tidak boleh menghadap kiblat menuju Barat lurus, melainkan harus miring ke Utara + 24 derajat. Oleh sebab itu, K.H. Ahmad Dahlan mengubah bangunan pesantrennya sendiri supaya menuju kearah kiblat yang betul. Perubahan yang diadakan oleh K.H. Ahmad Dahlan itu mendapat tantangan keras dari pembesar-pembesar masjid dan kekuasaan kerajaan.
3. Mengajarkan dan menyiarkan agama Islam dengan popular, bukan saja di pesantren, melainkan ia pergi ke tempat-tempat lain dan mendatangi berbagai golongan. Bahkan dapat dikatakan bahwa K.H. Ahmad Dahlan adalah bapak Muballig Islam di Jawa Tengah, sebagaimana syekh M. Jamil Jambek sebagai bapak Muballigh di Sumatra Tengah.
4. Mendirikan perkumpulan Muhammadiyah yang tersebar di seluruh Indonesia sampai sekarang.

C. K.H. HASYIM ASY’ARI; BIOGRAFI DAN PEMIKIRANNYA
1. Riwayat Hidup K.H. Hasyim Asy’ari

K.H. Hasyim Asy’ari nama lengkapnya adalah Muhammad Hasyim bin Muh Asy’ari bin Abdul Wahid bin Abdul Halim bin Abdurahman bin Abdullah bin Abdul Aziz bin Abdul Fatih bin Maulana ‘Ainul Yaqin (sunan Giri) bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik). Hasyim Asy’ari lahir di desa Gedang, Jombang Jawa Timur sebuah desa yang terletak di sebelah utara Kota Jombang, pada hari Selasa Kliwon, pada tanggal 24 Dzulqaidah 1287, bertepatan pada tanggal 14 Februari 1871. K.H. Hasyim Asy’ari adalah seorang pendiri sekaligus pemimpin atau pengasuh pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang didirikan pada tanggal 6 Februari 1906 M. Selain itu beliau merupakan perintis dan pendiri organisasi kemasyarakatan NU (Nahdlatul Ulama) sekaligus sebagai rais akbar. K.H. Hasyim Asy’ari wafat pada tanggal 25 Juli 1947 M/ 7 Ramadhan 1366 H di Tebuireng Jombang dalam usia 79 tahun.
Dalam buku yang lain, Hasyim Asy;ari Dilahirkan dalam keluarga elit kiai Jawa dengan nama kecil Muhammad Hasyim lahir pada 24 Dzul Qa’dah 1287 atau 14 Pebruari 1871 di desa Gedang, sebelah timur kota Jombang. Ayahnya bernama Kiai Asy’ari yang mendirikan pesantren Keras di Jombang, sedangkan kakeknya Kiai Usman adalah kiai terkenal pendiri pesantren Gedang diakhir abad ke-19. Dia merupakan cicit Kiai Sihah, pendiri pesantren Tambak Beras Jombang. Ayah Kiai Hasyim berasal dari Tingkir dan merupakan keturunan Abdul Wahid dari Tingkir. Dipercayai bahwa mereka adalah keturunan raja Muslim Jawa, Jaka Tingkir dan raja Hindu Majapahit, Brawijaya VI. Dari hal itu, maka K.H. Hasyim Asy’ari dipercayai sebagai keturunan bangsawan. Ibunda Muhammad Hasyim bernama Halimah, putrid da’i Kyai Usman, pendiri Pesantren Gedang yang didirikan pada akhir abad ke-19).
Muhammad Hasyim merupakan putra ke tiga dari 11 bersaudar.Sejak masih bayi,Muhammad Hasyim sudah tinggal di Pesantren Gedang milik kakeknya dari pihak ibu, yaitu Kiai Usman, karena ayahnya Muhammad Asy’ari diserahi menjadi lurah pondok di Pesantren Gedang. Sejak itu juga beliau mendapatkan pendidikan agama baik dari ibu, ayah dan kakeknya walaupun baru sebatas mendengar alunan merdu suara Al-Qur’an dari mereka.
Pada tahun 1309 H./1893 M. K.H. Hasyim Asy’ari kembali ke Makkah bersama adik kandungnya yang bernama Anis. Hasyim Asy’ari kembali menetap dan menuntut ilmu agama lagi kebeberapa ulama-ulama besar. Dalam perjalanannya menuntut ilmu di Makkah itu, Hasyim Asy’ari berjumpa dengan beberapa tokoh yang selanjutnya dijadikan sebagai gurunya dalam berbagai disiplin ilmu agama Islam. Di antara guru Hasyim Asy’ari di Makkah adalah Syekh Mahfud al-Tarmasy, putra Kiai Abdullah, pemimpin Pesantren Tremas Pacitan. Dari Syekh Mahfud ini Hasyim Asy’ari belajar Shahih Bukhari, hal itu dikarenakan Syekh Mahfud sendiri terkenal sebagai seorang ahli Hadis Bukhari, khususnya di kalangan kiai di Jawa. Selain dengan Syekh Mahfud al-Tarmasy, KH. Hasyim Asy’ari juga berguru kepada Syaikh al-Allamah Abdul Hamid al-Darustani, Syaikh Muhammad Syua’ib Al-Magribi, Syaikh Ahmad Amin al-Athar, Syaikh Sayid Yamani, Sayyid Alawi ibn Ahmad al-Aaqqaf, Sayyid AbbasMaliki, Sayid Abdullah al-Zawawy, Syaikh Saleh Bafadhal, dan Syaikh SultanHasyim Dagastani.
Melalui berbagai tokoh yang menjadi gurunya, KH. Hasyim Asy’ari banyak menimba ilmu agama islam, antara lain Fiqih dengan konsentrasi pada mazhab Syafi’i, ulum al-hadist, tauhid, tafsir, tasawuf, ilmu-ilmu alat (nahwu, sharaf, mantiq, balaghah) dan lain-lain. Dari berbagai ilmu agama tersebut K.H.Hasyim Asy’ari lebih banyak memusatkan perhatian dan keahlianya pada hadist, terutama kumpulan hadis Imam Muslim. Hal itu terjadi karena salah satu jalan untuk memahami Islam, selain dengan mempelajari Al-Qur’an beserta tafsirnyayang mendalam, juga perlu memiliki pengetahuan yang cukup dalam bidang hadis dengan syarh dan hasyiyah. Hal ini yang membuat KH. Hasyim Asy’ari banyak menarik perhatianya dalam bidang hadis.
K.H. Hasyim Asy’ari yang merupakan pendiri Pesantren Tebuireng adalah seorang yang luar biasa. Di seluruh Jawa, para kyai mempersembahkan gelar “Hadratus-Syeikh” yang artinya “Tuan Guru Besar”kepada beliau. Pesantren Tebuireng pertama kali didirikan oleh K.H Hasyim Asy’ari di atas sebidang tanah yang telah dibeli dari seorang dalang di desa Tebuireng, tepatnya pada tanggal 26 Robiul Awal 1317 H atau sekitar tahun 1899 M. Pondok ini didirikan dari sebuah teratak bambu luasnya hanya sekitar 10 meter persegi. Teratak ini terbagi atas dua buah petak rumah, yang sebuah untuk tempat tinggal Kyai Hasyim dan yang sebuah lagi digunakan sebagai tempat mengaji dan sembahyang sholat. Murid yang bersamanya sekitar 8 orang yang dibawanya sejak dari pesantren Keras, di bagian selatan Jombang tempat ia berasal. Dalam tempo tiga bulan, 28 orang di Tebuireng menjadi santri Kyai Hasyim.
Namun, keputusan Kyai Hasyim untuk mendirikan pesantren baru ini bukanlah tanpa maksud. Beliau mempunyai tujuan, yaitu untuk menyampaikan dan mengamalkan ilmu yang telah diperolehnya, dan menggunakan pesantren sebagai sebuah agent social of change.
Patut dicatat bahwa di sana terdapat sebuah pabrik gula, yaitu Pabrik Gula Cukir, kurang lebih berjarak 5 mil dari Pesantren Tebuireng, pabrik ini didirikan oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1853. Pada masa itu, gula merupakan sumber terpenting perdagangan luar negri bagi kaum kolonial. Dalam konteks ini, berdirinya pesantren Tebuireng vis-à-vis pabrik milik orang asing bisa dilihat bahwa berdirinya pesantren tersebut merupakan perlawanan terhadap hegemoni Belanda.
Dia tidak hanya sebagai seorang pengajar, tetapi juga seorang penulis. Karya-karyanya cukup banyak dan ditulis dalam bahasa Arab sebagaimana umumnya karya-karya ulama tradisionalis Jawa yang lain. Karya-karya antara lain Ziyadat Ta’liqat, At-Tanbihat al Wajibat Liman Yasna’u al Maulid bi al Munkarat, Ar-Risalah al-Jami’ah, Annur al mubin fi Mahabbati Sayyid al Mursalin, dan masih banyak yang lain. Akan tetapi, karyanya yang paling banyak dikenal di masyarakat pesantren dan NU adalah Qanun Asasi Nahdlatul Ulama dan Adabu al- Alim wa al-Muta’allim.
.
2. Pemikiran Pendidikan Islam K.H. Hasyim Asy’ari
K.H. Hasyim Asy’ari dibesarkan dalam tradisi sufi dari golongan Sunni di Jawa. Beliau belajar dan berkiprah di masyarakat pada masa munculnya gerakan Wahabi dalam dunia Islam. Abad ke-19, di Jawa merupakan masa transisi yaitu masa dialog antara golongan santri tradisional dengan golongan modernis yang dipengaruhi oleh gerakan Wahabi dan Muhammad Abduh. Golongan modernis menyatakan bahwa Islam di Jawa telah tertinggal jauh karena salah menafsirkan Islam dengan tujuan sufi dan percampuran Islam dengan budaya lokal. Slogan golongan modernis adalah kembali kepada al-Qur’an dan Hadits, sedangkan misi mereka adalah memurnikan ajaran Islam dari pengaruh-pengaruh budaya lokal.
Meskipun sama-sama berguru kepada Ahmad Khatib di Makkah, namun K.H. Hasyim Asy’ari berbeda dalam pemikiran dengan K.H. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah yang menyatakan diri sebagai reformis. K.H. Hasyim mewakili kelompok pelajar-pelajar Timur Tengah yang menentang ide-ide reformis. K.H. Hasyim lebih dipengaruhi oleh guru-guru yang lain seperti Syaikh Mahfuz at-Tirmisi, Imam Nawawi al-Bantani, dan Syaikh Ahmad Khatib as-Sambasi. Dia lebih memilih meneruskan tradisi intelektual ketiga gurunya tersebut dengan secara konsisten menjaga ajaran madzhab dan tarekat. Meskipun begitu, K.H. Hasyim mengakui ide-ide Muhammad Abduh dalam menghidupkan kembali nilai-nilai Islam, namun dia menolak ide Abduh yang lain, yaitu melepaskan diri dari bermadzhab. Bagi K.H. Hasyim, mustahil untuk mendekati al-Qur’an dan Hadits dengan baik tanpa memahami dan mempelajari kitab-kitab ulama abad pertengahan. Tanpa hal ini upaya penafsiran al-Qur’an dan Hadits hanya merupakan pengikisan terhadap ajaran Islam yang sesungguhnya.
Pada tahun 1920-an, banyak ulama dan santri yang belajar kepada K.H. Hasyim mengenai ilmu Hadits di pesantren Tebuireng, bahkan seorang ulama yang paling berpengaruh di Jawa pada masa itu, yang juga guru dari K.H. Hasyim, yaitu K.H. Khalil Bangkalan ingin berguru kepadanya dalam ilmu hadits. Ketika kiai Khalil minta izin untuk menjadi muridnya, dengan santun dia mengatakan bahwa kiai Khalil adalah gurunya dan selamanya akan tetap menjadi gurunya. Hal yang demikian menunjukkan kerendahan hati kedua ulama tersebut karena kiai Khalil dikenal sebagai seorang guru yang tiada tandingannya, yang gemar berdebat untuk tujuan keilmuan melebihi siapapun, dan hal itu sulit dimengerti ketika akhirnya sang Guru sangat menghormati muridnya. Kerendahan hati adalah salah satu ciri penting dari ulama pesantren.
Uraian di atas menunjukkan bahwa K.H. Hasyim Asy’ari sangat fenomenal pada masanya. Keputusannya untuk menempuh jalur intelektual bermadzhab dan bertarekat, serta berdakwah secara kultural dengan jalan melakukan perpaduan antara elemen-elemen Islam dengan budaya lokal menjadikan K.H. Hasyim selain unik dan khas, juga menunjukkan bahwa dia adalah seorang ulama yang mampu membaca jiwa zaman (situasi dan kondisi masa itu). Kecintaannya terhadap ilmu, kepandaiannya mengajar, kearifan dan kesabarannya terhadap murid, dan kerendahan hatinya terhadap guru menjadi penting untuk ditelaah secara mendalam. Telaah itu untuk mengkaji pemikiran-pemikirannya dalam dunia yang paling dia cintai, yaitu dunia pendidikan.
K.H. Hasyim Asy’ari dibesarkan dalam tradisi sufi dari golongan muslim tradisionalis Jawa. Ia menuntut ilmu dan berkiprah di masyarakat pada masa munculnya gerakan Wahabi dalam dunia Islam. Abad ke-19 di Jawa merupakan masa transisi, yaitu masa dialog antara golongan santri tradisional dengan golongan modernis yang dipengaruhi oleh gerakan Wahabi dan Muhammad Abduh. Golongan modernis mengatakan bahwa Islam di Jawa telah tertinggal jauh karena salah menafsirkan Islam dengan tujuan sufi dan percampuran Islam dengan budaya lokal. Slogan golongan modernis adalah kembali kepada al-Qur’an dan Hadis. Misi mereka adalah memurnikan ajaran Islam dari pengaruh-pengaruh budaya lokal.
Dalam karya-karyanya, seperti juga karya ulama lain pada masa itu, K.H. Hasyim Asy’ari dalam menjelaskan berbagai pemikirannya selalu disandarkan kepada persoalan etika (moralitas). Hal ini tidak mengherankan karena memang tradisi sufi pada masa itu masih sangat melekat pada kehidupan masyarakat Islam tradisionalis.
Dalam pemikiran tentang pendidikan dia juga lebih fokus kepada persoalan-persoalan etika dalam mencari dan menyebarkan ilmu. Dia berpendapat bahwa bagi seseorang yang akan mencari ilmu pengetahuan atau menyebarkan ilmu pengetahuan (guru dan murid), yang pertama harus ada pada diri mereka adalah semata-mata untuk mencari ridha Allah (pracaya lan mituhu). Seseorang yang akan mencari dan menyebarkan ilmu pengetahuan, maka dia harus memperbaharui niatnya hanya untuk mencari ridha Allah, mengamalkan, dan menjalankan syari’at Islam untuk menerangi hatinya dalam mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk mencari keduniaan, dalam istilah Jawa dikenal dengan konsep eling lan waspada.
Dalam konteks ini, pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari seirama dengan pandangan-pandangan kaum sufi, bahwa menjadikan persoalan-persoalan profan sebagai tujuan tidak hanya tabu dan jelek, tetapi juga akan menyesatkan, memperbaharui niat murni hanya untuk Allah tidak terpengaruh oleh hal-hal lain menjadi keharusan. Hal seperti ini diperlukan agar manusia tidak lalai sehingga dia dapat menyelesaikan perbuatannya dan mengakhiri dengan ikhlas. Untuk menuju tingkatan hati yang hanya mencari ridha Allah, maka menurut K.H. Hasyim Asy’ari, jalan yang harus ditempuh adalah melakukan penyucian hati atau jiwa, dalam istilah Jawa dikenal dengan ngeker hawa nepsu lan sepi ing pamrih.
Seseorang harus membersihkan hati atau jiwanya sebelum mencari ilmu pengetahuan, pembersihan hati ini penting bagi suksesnya mencapai ilmu pengetahuan, sebagaimana pandangan kaum sufi bahwa hati harus disucikan dari kejahatan-kejahatan esoteris seperti penipuan, kekotoran hati, rasa dendam, dengki, keyakinan yang tidak baik, dan pekerti yang tidak baik.
Setelah menguasai ilmu pengetahuan, maka sebagai mekanisme kontrol adalah sifat tawadlu. Tawadlu adalah merendahkan diri terhadap makhluk dan melembutkan diri kepada mereka atau patuh terhadap kebenaran dan tidak berpaling dari hikmah, hukum, dan kebijaksanaan. Dalam konteks ini K.H. Hasyim Asy’ari secara eksplisit menyebutkan bahwa rendah hati di hadapan guru adalah kemuliaan murid, sedangkan patuh kepada guru adalah kebanggaan dan tawadlu di hadapan guru adalah keluhuran murid, sifat semacam ini dalam istilah Jawa dikenal dengan sifat andhap asor .
Tawakal dan istiqamah dalam muraqabah dan khauf adalah tingkatan sifat selanjutnya yang harus dimiliki. Tawakal adalah berserah diri kepada Allah, khauf adalah selalu takut kepada Allah, dan muraqabah adalah selalu melihat Allah dengan mata hati, merasakan adanya pemantauan Allah terhadap dirinya, mengagungkan apa yang diagungkan Allah dan merendahkan apa yang direndahkan Allah. Dalam hal ini, K.H. Hasyim Asy’ari menekankan bahwa tiga sifat tersebut harus dimiliki supaya pada saat melakukan pergumulan dengan ilmu pengetahuan tidak terganggu oleh persoalan-persoalan profan dan diharapakan akan mempunyai kesadaran bahwa ilmu pengetahuan adalah amanah.
Kandungan yang terdapat dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’alim dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian:
Pertama, Kelebihan Ilmu dan ilmuwan. Menurut Kyai Hasyim dalam menuntut ilmu itu perlu diperhatikan dua hal. Bagi murid hendaknya meiliki niat yang suci lagi luhur, dan untuk guru hendaknya mempunyai niat yang tulus tidak mengharapkan materi semata-semata. Mengenai kelebihan Iluwan jika dibandingkan dengan orang awam menurut Kyai Hasyim itu bagaikan terangnya bulan purnama dan cahaya bintang.
Kedua, Tanggung jawab dan tugas peserta didik. Untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat, yang harus dicamkan oleh peserta didik adalah membersihkan hati dari berbagai gangguan-gangguan material-keduniaan dan hal-hal yang merusak sistem kepercayaan (aqidah). Dalam etika peserta didik terhadap pendidiknya adalah melakukan perenungan dan meminta petunjuk kepada Allah SWT dalam memilih guru, sementara etika peserta didik dalam hal pelajaran adalah mendahulukan ilmu yang bersifat fardhu ‘ain daripada ilmu-ilmu yang lain.
Ketiga, Tanggung jawab dan tugas pendidik. Kyai Hasyim memberikan catatan kepada para pendidik agar dirinya tertanam sifat berusaha sekuat tenaga untuk mendekatkan diri kepada Allah, baik ketika sendirian maupun ketika berada di tempat umum. Sedangkan etika pendidik yang berkaitan dengan pelajaran adalah etika mensucikan diri dari hadats dan kotoran, sementara etika terhadap peserta didik adalah untuk berniat mendidik dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta menghidupkan syari’at Islam.
Dalam kitab tersebut beliau merangkum pemikirannya tentang pendidikan Islam kedalam delapan poin, yaitu :
1. Keutamaan ilmu dan keutamaan belajar mengajar
2. Etika yang harus diperhatikan dalam belajar mengajar
3. Etika seorang murid kepada guru
4. Etika seorang murid terhadap pelajaran dan hal-hal yang harus dipedomi berasama guru
5. Etika yang harus dipedomi seorang guru
6. Etika guru ketika dan akan mengajar
7. Etika guru terhadap murid-murid nya
8. Etika terhadap buku, alat untuk memperoleh pelajaran dan hal-hal yang berkaitannya dengannya.
Dari delapan pokok pemikiran di atas, Hasyim Asy’ari membaginya kembali kedalam tiga kelompok, yaitu:
1. Signifikansi Pendidikan
2. Tugas dan tanggung jawab seorang murid
3. Tugas dan tanggung jawab seorang guru.
Berdasarkan hal di atas, beberapa pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari dapat disarikan sebagai berikut:
1) Kiai Hasyim asy’ari memainkan peranan penting dalam modernisasi daerah Tebuireng.
2) Menurut Abu Bakar Aceh yang dikutip oleh editor buku Rais ‘Am Nahdlatul Ulama hal.153 bahwa KH. Hasyim Asy’ari mengusulkan sistem pengajaran di pesantren diganti dari sistem bandongan menjadi sistem tutorial yang sistematis dengan tujuan untuk mengembangkan inisiatif dan kepribadian para santri. Namun hal itu ditolak oleh ayahnya, Asy’ari dengan alasan akan menimbulkan konflik di kalangan kiai senior.
3) Pada tahun 1916 – 1934 Hasyim Asy’ari membuka sistem pengajaran berjenjang. Ada tujuh jenjang kelas dan dibagi menjadi ke dalam dua tingkatan. Tahun pertama dan kedua dinamakan siffir awal dan siffir tsani yaitu masa persiapan untuk memasuki masa lima tahun jenjang berikutnya. Pada siffir awal dan siffir tsani itu diajarka bahasa Arab sebagai landasan penting pembedah khazanah ilmu pengetahuan Islam.
4) Kurikulum madrasah mulai ditambah dengan pelajaran-pelajaran bahasa Indonesia (Melayu), matematika dan ilmu bumi, dan tahun 1926 ditambah lagi dengan mata pelajaran bahasa Belanda dan sejarah.
5) Kiai Hasyim terkenal sebagai ulama yang mampu melakukan penyaringan secara ketat terhadap sekian banyak tradisi keagamaan yang dianggapnya tidak memiliki dasar-dasar dalam hadis dan ia sangat teliti dalam mengamati perkembangan tradisi ketarekatan di pulau Jawa, yang nilai-nilainya telah menyimpang dari kebenaran ajaran Islam.
6) Menurut hasyim Asy’ari, ia tetap mempertahankan ajaran-ajaran mazhab untuk menafsirkan al-Qur’an dan hadis dan pentingnya praktek tarikat.

D. ANALISIS
Sesungguhnya, Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah dan diyakini sebagai kebenaran tunggal, ditafsirkan penganutnya secara berbeda dan berubah-ubah, akibat perbedaan kehidupan sosial penganut yang juga terus berubah. Dari perbedaan penafsiran itu lahirlah kemudian pemikiran fiqh dan teologi yang berbeda.
Jika diuraikan berdasarkan kerangka ideologis, terdapat paling tidak empat kategorisasi umat Islam; tradisionalis-konservatif, reformis-modernis, radikal-puritan, dan nasionalis-sekuler. Hal ini menandakan bahwa meskipun Islam itu satu dari sudut ajaran pokoknya, akan tetapi setelah terlempar dalam konteks sosial-politik tertentu pada tingkat perkembangan sejarah tertentu pula agama bisa memperlihatkan struktur interen yang berbeda-beda.
Maka, jika dilihat dari masalah yang diperdebatkan di antara beberapa kelompok di atas, mereka berdebat bukan tentang pokok-pokok ajaran Islam itu sendiri, akan tetapi bagaimana memanifestasikan ajaran Islam itu di dalam sistem kehidupan sosial, antara Islam sebagai model of reality dan Islam sebagai models for reality, sehingga menciptakan setidaknya dua bentuk komunitas beragama yaitu antara folk variant dan scholarly veriant, yang dalam konteks keindonesiaan terwujud dalam bentuk komunitas NU dan komunitas Muhammadiyah. Yang pertama sering diklaim sebagai kelompok tradisionalis, dan yang kedua sebagai kelompok modernis.
Kelompok tradisionalis sering dikategorikan sebagai kelompok Islam yang masih mempraktekkan beberapa praktek tahayyul, bid’ah, khurafat, dan beberapa budaya animisme, atau sering diidentikkan dengan ekspresi Islam lokal, sementara kelompok modernis adalah mereka yang sudah tidak lagi mempraktekkan beberapa hal di atas. Akan tetapi kategorisasi ini menjadi kurang tepat ketika ditemukan adanya praktek budaya animisme yang dilakukan oleh kalangan Muslim modernis, seperti yang pernah diungkap oleh Munir Mulkhan dalam penelitiannya tentang Islam Murni dalam Masyarakat Petani. Di dalam penelitiannya ia menemukan adanya empat varian masyarakat Muhammadiyah; yaitu Islam murni (kelompok al-Ikhlas), Islam murni yang toleran terhadap praktek TBC (kelompok Kyai Dahlan), Islam neo-tradisionalis (kelompok MUNU, Muhammadiyah-NU), dan Islam neosinkretis (kelompok MUNAS, Muhammadiyah-Nasionalis).
Ketika berbicara mengenai masyarakat Islam tradisional, yang terbayang adalah sebuah gambaran mengenai masyarakat yang terbelakang, masyarakat Islam yang kolot, masyarakat yang anti atau menolak perubahan (anti progresivitas), konservatif (staid approach), dan diliputi oleh sikap taqlid. Mereka adalah kelompok yang membaca dan belajar “kitab kuning”, termasuk karya al-Ghazali dan ulama’ fiqh klasik, dan tokoh-tokoh sufi pada zaman pertengahan Islam.
Terma tradisional merupakan terma untuk sesuatu yang irrational, pandangan dunia yang tidak ilmiah, lawan dari segala bentuk kemodernan. Tradisionalisme dianggap sebagai aliran yang berpegang teguh pada fundamen Agama melalui penafsiran terhadap kitab suci Agama secara rigid dan literalis.
Sementara itu, tradisionalisme adalah paham yang berdasar pada tradisi. Lawannya adalah modernisme, liberalisme, radikalisme, dan fundamentalisme. Berdasarkan pada pemahaman terhadap tradisi di atas, maka tradisionalisme adalah bentuk pemikiran atau keyakinan yang berpegang pada ikatan masa lampau dan sudah diperaktekkan oleh komunitas Agama. Kaum tradisionalis di Indonesia adalah mereka yang konsisten dalam berpegang teguh pada mata rantai sejarah serta pemikiran ulama’-ulama’ terdahulu dalam perilaku keberagamaannya. Konkritnya, memegang dan mengembangkan ajaran fiqh scholastik madzhab empat.
Dalam konteks sosial-budaya, unsur-unsur yang terdapat pada Islam tradisional Indonesia meliputi adanya lembaga pesantren, peranan dan kepribadian kyai yang sangat menentukan dan kharismatik. Basis masa kaum tradisionalis semacam ini pada umumnya berada di pedesaan. Begitu lekatnya Islam tradisionalis di Indonesia dengan kalangan pedesaan, sampai-sampai dikatakan bahwa Islam tradionalis adalah Islam pedesaan.
Islam tradisional secara religi bersifat kultural, secara intelektual sederhana, secara kultural bersifat sinkretik, dan secara politis bersifat oportunis. Meskipun untuk saat ini banyak kaum tradisionalis yang kontroversial dengan yang konservatif, akan tetapi peran warna konservatifme sangat kuat sekali di tingkat lokal.
Lawan dari tradisional adalah modern, yaitu suatu istilah yang diidentikkan dengan zaman teknologi. Modernitas adalah sebuah sikap yang mempertanyakan problem masa lampau, bentuk tradisional harus dipertanyakan dan diuji, tidak ada sikap kembali ke belakang. Ide-ide masa lampau tidak relevan lagi di masa sekarang.
Kata modern, modernisme, modernisasi, modernitas, dan beberapa istilah yang terkait dengannya, selalu dipakai orang dalam ungkapan sehari-hari. Karena perubahan makna yang terdapat di dalamnya, istilah-istilah ini seringkali memiliki makna yang kabur. Modern adalah sebuah istilah korelatif, yang mencakup makna baru lawan dari kuno, innovative sebagai lawan tradisional. Meskipun demikian, apa yang disebut modern pada suatu waktu dan tempat, dalam kaitannya dengan budaya, tidak akan memiliki arti yang sama baik pada masa yang akan datang atau dalam konteks yang lain.
Dalam bidang intelektual, modernisme Islam muncul karena tantangan perkembangan yang dihadapi oleh umat. Dalam abad ke-19 dan awal abad ke-20 tantangan politik yang dihadapi oleh umat Islam bagaimana membebaskan diri dari penjajahan Barat, tantangan kultural adalah masuknya nilai-nilai baru akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan modern Barat, tantangan sosial-ekonomi adalah bagaimana mengentaskan kebodohan dan kemiskinan umat, dan tantangan keagamaan adalah bagaimana meningkatkan wawasan pengetahuan agama serta mendorong umat untuk bisa memahami ajaran agama secara mandiri.
Di antara cirri dari gerakan Islam modern adalah menghargai rasionalitas dan nilai demokratis. Semua anggota memiliki hak yang sama dan semua tingkat kepemimpinan dipilih tidak diangkat. Tidak ada perbedaan antara warga biasa dan ulama menyangkut hak dan kewajiban organisasi.
Gerakan ini di Indonesia memiliki pengaruh kuat di kalangan kelas menengah kota, mulai dari pengrajin, pedagang, seniman sampai para professional. Sebagai sebuah fenomena kota, di antara karakteristik gerakan ini adalah “melek huruf”, yang pada akhirnya ciri ini menuntut adanya pendidikan. Sehingga pendidikan merupakan program yang paling utama.
Kelompok ini memandang bahwa syari’ah harus diaplikasikan dalam semua aspek kehidupan secara fleksibel dan mereka ini cenderung menginterpretasikan ajaran Islam tertentu dengan menggunakan berbagai pendekatan, termasuk dari Barat. Maka modernisme Islam memiliki pola pikir rasional, memiliki sikap untuk mengikuti model Barat di bidang pendidikan, teknologi, dan industri atau telah terbawa oleh arus modernisasi. Pemikiran kaum modernis bukan hanya terbatas pada bidang teknologi ataupun industri, akan tetapi juga merambah ke dalam bidang pemikiran Islam yang bertujuan untuk mengharmonikan keyakinan Agama dengan pemikiran modern.
Beberapa hal lain yang menjadi perbedaan antara NU dan Muhammadiyyah adalah bahwa NU lebih besifat rural (gejala pedesaan), syarat dengan simbol tradisional (dulu disimbolkan dengan pakaian sarung dan serban), berlebihan dalam pengamalan ibadah, lebih mempercayai kata ulama’, lebih terikat dengan jama’ah, lemah inisiatif dan lebih hirarkis-struktural dalam hal status sosial, tidak menolak beberapa praktek ritual yang tidak tertulis di dalam hadith sahih, atau tidak sesuai dengan pemikiran modern, karena, menurut mereka, tidak berarti sesuatu yang tidak tercantum di dalam hadith sahih itu bertentangan dengan Islam selama masih belum menyangkut masalah akidah. Prinsip kaum tradisionalis adalah ‘adam al wujûd lâ yadullu ‘alâ ‘adam al wujdân.
Sebaliknya, Muhammadiyyah lebih bersifat urban (gejala perkotaan) yang sangat apresiatif dengan simbol modernitas (dulu disimbolkan dengan memakai dasi, dan sebagainya), kritis, mandiri, individu jadi fokus perhatian, penuh inisiatif, menganggap sesuatu yang tidak tercantum di dalam hadith sahih dianggap sebagai sesuatu yang menyimpang dari ajaran Islam dan tidak boleh diamalkan, karena akan berdosa dan berimplikasi buruk terhadap akidah.
Dalam bidang pendidikan, NU menggunakan gaya sorogan, menggunakan kitab kuning sebagai bahan kajian, yaitu kitab-kitab karya al-Ghazali dan beberapa pemikir lainnya, yang muncul pada abad Islam klasik. Sementara dalam pendidikan yang dikelola Muhammadiyyah, menggunakan sistem klasikal, menggunakan kitab putih sebagai ganti dari kitab kuning. Kelompok tradisionalis ini mengklaim bahwa pintu interpretasi telah tertutup, sementara kaum modernis menganggap bahwa kesempatan untuk melakukan interpretasi masih tetap terbuka.

E. PENUTUP
Dari beberapa pemaparan di atas, dapatlah diketahui bahwa ketokohan KH. Hasyim Asy’ari dan K.H. Ahmad Dahlan dikalangan masyarakat dan organisasi Islam Indonesia bukan saja sangat sentral tetapi juga menjadi tipe utama seorang pemimpin yang pada masa berikutnya menentukan tipologi pendidikan Islam maupun organisasi keagamaan di Indonesia.
Pemikiran utama dari K.H. Ahmad Dahlan dalam dunia pendidikan Islam Indonesia diantaranya: 1). Membawa pembaruan dalam bentuk kelembagaan pendidikan, yang semula seistem pesantren menjadi system sekolah; 2). Memasukkan pelajaran umum kepada sekolah-sekolah keagamaan atau madrasah; 3). Mengadakan perubahan dalam metode pengajaran, dari yang semula menggunakan metode weton dan sorogan menjadi lebih bervariasi. 4). Mengajarkan sikap hidup terbuka dan toleran dalam pendidikan; 5). Dengan Muhammadiyahnya buya berhasil mengembangkan lembaga pendidikan yang beragam dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi dan dari yang berbentuk sekolah agama hingga yang berbentuk sekolah umum. Dan 6). Berhasil memperkenalkan manajemen pendidikan modern ke dalam system pendidikan yang dirancangkannya.
Sedangkan K. H. Hasyim Asy’ari memberikan kontribusi pemikiran yang sama besarnya terhadap Pendidikan Islam Indonesia diantaranya: 1). memainkan peranan penting dalam modernisasi daerah Tebuireng. 2). mengusulkan sistem pengajaran di pesantren diganti dari sistem bandongan menjadi sistem tutorial yang sistematis dengan tujuan untuk mengembangkan inisiatif dan kepribadian para santri. Namun hal itu ditolak oleh ayahnya, Asy’ari dengan alasan akan menimbulkan konflik di kalangan kiai senior. 3). Pada tahun 1916 – 1934 Hasyim Asy’ari membuka sistem pengajaran berjenjang serta diajarkan bahasa Arab sebagai landasan penting pembedah khazanah ilmu pengetahuan Islam. 4). Kurikulum madrasah mulai ditambah dengan pelajaran-pelajaran bahasa Indonesia (Melayu), matematika dan ilmu bumi, dan tahun 1926 ditambah lagi dengan mata pelajaran bahasa Belanda dan sejarah. 5). melakukan penyaringan secara ketat terhadap sekian banyak tradisi keagamaan yang dianggapnya tidak memiliki dasar-dasar dalam hadis dan ia sangat teliti dalam mengamati perkembangan tradisi ketarekatan di pulau Jawa, yang nilai-nilainya telah menyimpang dari kebenaran ajaran Islam. Dan 6). Menurut hasyim Asy’ari, ia tetap mempertahankan ajaran-ajaran mazhab untuk menafsirkan al-Qur’an dan hadis dan pentingnya praktek tarikat.

DAFTAR RUJUKAN

Abdullah, Taufik. 1996. Islam dan Masyarakat (Jakarta: LP3S)
Ahmed, Akbar S. 1992. Post Modernism and Islam (London: Routledge)
Anam, Choirul .1985.Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama (Solo: Jatayu Sala).
Arifin, Imron 1993. Kepemimpinan Kyai: Kasus Pondok Pesantren Tebuireng, (Malang: Kalimasahada Press), cet. Ke-1
Asrofie, M. 1983. Yusron K.H. Ahmad Dahlan Pemikiran dan Kepemimpinannya (Yogyakarta: Offset,).
Aveling, Harry (ed), 1980. The Development of Indonsesian Society (New York: St. Artin Press).
Dofier, Zamakhsyari. 1994. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta: LP3ES), cet. Ke-6
Franz Magnis Suseno, 1999. Etika Jawa Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)
Geertz, Clifford. 1961. The Religion of Java (New York: The free Press of Glencoe, Inc.,)
Gellner, Ernest. 1984. Muslim Society (Cambridge: Cambridge University Press)
Hadziq, Ishomuddin dalam Hasyim Asy’ari, 2003.Adabu al-Alim wa al- Muta’allim, Edisi Terjemah (Yogyakarta: Qirtas,).
Jainuri, Achmad. 2004. Orientasi Ideologi Gerakan Islam (Surabaya: LPAM).
Khuluq, Lathiful. 2000. Fajar Kebangunan Kebangunan Ulama, Biografi K.H. Hasyim Asy’ari (Yogyakarta: LKiS,)
Lubis, Arbiyah. 1993. Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduh (Jakarta: Bulan Bintang,).
Maliki, Zainuddin .2004.Agama Priyayi (Yogyakarta: Pustaka Marwa)
Marijan, Kacung 1992.Quo Vadis NU Setelah Kembali ke Khittah 1926 (Jakarta: Penerbit Erlangga)
Mas’ud, Abdurrahman. 2004. Intelektual Pesantren Perhelatan agama dan Tradisi (Yogyakarta: LKiS).
Mas’ud, Abdurrahman. 2006. Dari Haramain ke Nusantara, (Jakarta: Kencana,), cet. Ke-1,
Mastuki, HS dan M. Ishom El Saha, 2004. Intelektualisme Pesantren: Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di Era Perkembangan Pesantren Jilid 2. (Jakarta: Diva Pustaka)
Mulkhan, Munir 2000. Islam Murni dalam Masyarakat Petani (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya,)
Nata, Abudin. 2005. Tokoh-Tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia ,(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada)
Nizar, Samsun. 2002.Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan praktis , (Jakarta: Ciputat Press)
Noer, Deliar 1995. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942 (Jakarta: LP3ES,).
Pasha, Musthafa Kamal. 1975. Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam untuk Angkatan Muda (Yogyakarta: Persatuan)
Poesposuwarno, M. Margono. 1995. Gerakan Islam Muhammadiyah (Yogyakarta: Persatuan Offet,).
Rizal. Samsul. 2002. Filsafat Pendidikan Islam . (Jakarta :Ciputat Pers)
Sairin, Weinata. 1995. Gerakan Pembaharuan Muhammadiyah (Jakarta: Pustaka SInar Harapan,).
Salam, Yunus K.H. 1963. Ahmad Dahlan Reformer Islam Indonesia (Jakarta: Djajamurni,)
Shihab, Alwi .1998.Membendung Arus Resopn Gerakan Muhammdiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia (Bandung: Mizan,).
Shubhi, Ahmad Mahmud. 2001. Filsafat Etika Tanggapan Kaum Rasionalis dan Intuisionalis, Edisi Terjemah (Jakarta: Serambi)
Siyab, Muhammad Asad. 1994.Hadlaratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari : Perintis Kemerdekaan Indonesia, alih bahasa A. Mustafa Bisri, cet I, Yogyakarta : Titian Ilahi Press dan Kurnia Alam Semesta)
Steenbrink, Karel. K. 1994. Pesantren, Madrasah, Sekolah, (Jakarta: LP3ES)
Sumardjo, Syamsi 1976. Pengetahuan Muhammadiyah dengan Tokoh-tokohnya dalam Kebangunan Islam (Yogyakarta: P.B. Muhammadyah)
Suprapto, H.M. Bibit .2010. Ensiklopedi Ulama Nusantara: Riwayat Hidup, Karya, dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara, (Jakarta: Gelegar Media Indonesia).
Suwendi, 2005. Konsep Kependidikan KH. Hasyim Asy’ari, (Jakarta: LeKDiS). cet. Ke-1,
Syamsu, Muhammad As, 1999, Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya (Jakarta: Lentera)
Wibowo, Susatyo Budi. 2011. Dahlan Asy’ari Kisah Perjalanan Wisata Hati, (Yogyakarta: Diva Press)
Wirjosukarto, Amir Hamzah. 1985. Pembaharuan Pendidikan dan Pengajaran Islam (Jember, Mutiara Offset)


Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: