Oleh: Admin | 11 Juli 2009

Kepimpinan Manajerial Kepala Sekolah


Kepemimpinan Manajerial Kepala Sekolah/ Madrasah


leaderSekolah yang sehat memiliki kultur organisasi sekolah yang baik. Sekolah dikatakan sehat bila terdapat dorongan dan semangat yang tinggi. Moral kerja yang tinggi jika kepala sekolah, guru dan staf selalu bekerja dengan semangat yang tinggi, sangat antusias, bergairah, dan sebagainya. Selanjutnya sekolah sehat bila sekolah itu terhindar dari tekanan-tekanan berbagai pihak.

Semangat kerja, antusiasme, motivasi, dan sebagainya akan dapat diciptakan dengan baik jika sekolah/ madrasah mempunyai seorang pemimpin yang mampu mengelola dan memanaj dengan baik lembaganya.

Pengertian Kepemimpinan

Kepemimpinan sebagai istilah umum dapat dirumuskan sebagai proses dengan sengaja mempengaruhi orang lain dalam merealisasikan tujuan. Nawawi melihat kepemimpinan sebagai proses mengarahkan, membimbing, mempengaruhi atau mengawasi pikiran, perasaan atau tindakan.[1]

Edwin A. Locke mendefinisikan kepemimpinan sebagai : … proses membujuk (inducting) orang-orang lain untuk mengambil langkah-langkah menuju suatu sasaran bersama. Definisi ini mengkatagorikan tiga elemen :

  1. Kepemimpinan merupakan suatu konsep relasi (relational concept).
  2. Kepemimpinan merupakan suatu proses.
  3. Kepemimpinan harus membujuk orang-orang lain untuk mengambil tindakan.[2]

Dengan demikian terlihat bahwa kepemimpinan merupakan suatu aktivitas, suatu seni membujuk, mempengaruhi orang lain atau kelompok untuk bekerjasama dalam mencapai tujuan bersama. Aktivitas yang dilakukan pimpinan meliputi kegiatan mengarahkan, membimbing, memotivasi dan mengawasi pikiran, perasaan, tindakan atau tingkah laku orang lain.

Kepemimpinan Kepala Sekolah/Madrasah

Dalam konteks sekolah K. Laws, (et al) menjelaskan kepemimpinan sebagai berikut:

“Leadership, in the context of a school, help bring meaning and asense of purpose to the relationship between the leader, the staff, the students, the parents and the wider school community. Leadership is not only a matter of what a leader does, but how a leader makes people feel about themselves in the work situation and about the organisation it self.”[3]

Kepemimpinan dalam kontek sekolah lebih menekankan pada terjadinya hubungan antara personil sekolah serta menciptakan iklim kebersamaan dan saling memiliki yang ditandai dengan rasa kebersamaan dalam bekerja. Dalam kondisi seperti itu akan tercipta hubungan yang harmonis diantara seluruh personil sekolah (Kepala Sekolah, Guru, Staf Tata Usaha, Siswa, dll.).

Keberhasilan pimpinan menggerakkan bawahan sangat tergantung kepada kemampuannya mempengaruhi bawahannya agar mau berkerja dengan baik. Kepemimpinan merupakan faktor penentu yang paling dominan dalam usaha organisasi untuk mencapai tujuan dan berbagai sasarannya. Sedangkan Richard Beckhard mengemukakan ada dua prinsif kepemimpinan. “Prinsip pertama adalah adanya hubungan antara pemimpin dan pengikutnya. … Prinsip kedua adalah bahwa pemimpin yang efektif menyadari dan mengelola secara sadar dinamika hubungan antara pemimpin dan pengikutnya.”[4]

Lebih jauh Idochi Anwar mengemukakan bahwa :

… kemampuan seorang pemimpin dalam menggunakan kewenangannya untuk menggerakkan organisasi melalui keputusan yang dibuatnya. Pengertian yang lebih populer menunjuk pada pola keharmonisan interaksi antara pemimpin diimplementasikan dalam bentuk pembimbingan dan pengarahan terhadap bawahan. Pola interaksi biasanya diawali dengan upaya mempengaruhi bawahan agar mereka mau digerakkan sesuai dengan tujuan organisasi.[5]

Kepala sekolah/madrasah selaku pimpinan merupakan aspek penentu bagi pengembangan dan peningkatan mutu sekolah dan pendidikannya. Salah satu indikator keberhasilan sekolah adalah bila sekolah dapat berfungsi dengan baik, terutama bila prestasi belajar siswa dapat mencapai hasil yang memuaskan.

Berdasarkan satuan pendidikan, kepala sekolah/ madrasah menduduki dua jabatan penting untuk dapat menjamin kelangsungan proses pendidikan sebagaimana yang telah digariskan oleh peraturan perundang-undangan. Pertama, kepala sekolah adalah pengelola pendidikan di sekolah secara keseluruhan. Kedua, kepala sekolah adalah pemimpin formal pendidikan disekolahnya.

Sebagai pengelola pendidikan, kepala sekolah bertanggung jawab terhadap keberhasilan penyelenggaraan kegiatan pendidikan dengan cara melaksanakan administrasi sekolah dengan seluruh substansinya. Disamping itu, kepala sekolah bertanggung jawab terhadap kualitas sumberdaya manusia yang ada agar mereka mampu menjalankan tugas-tugas pendidikan. Oleh karena itu, kepala sekolah sebagai pengelola memiliki tugas mengembangkan kinerja para personel, terutama meningkatkan kompetensi profesional para guru.

Proses pengelolaan sekolah mencakup empat tahap, yaitu Planing (perencanaan); Organizing (mengorganisasikan); Actuating (pengerahan); dan Controling (pengawasan).

Sebagai pemimpin formal, kepala sekolah/madrasah bertanggung jawab atas tercapainya tujuan pendidikan melalui upaya menggerakkan bawahan ke arah pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Dalam hal ini kepala sekolah /madrasah bertugas melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan, baik fungsi yang berhubungan dengan pencapaian tujuan pendidikan maupun penciptaan iklim sekolah yang kondusif bagi terlaksananya proses belajar mengajar secara efektif dan efesien.

Fungsi kepemimpinan pendidikan menunjuk kepada berbagai aktivitas atau tindakan yang dilakukan oleh seorang kepala sekolah dalam upaya menggerakkan guru-guru, karyawan, siswa dan anggota masyarakat lain agar mau berbuat sesuatu guna mensukseskan program-program pendidikan di sekolah. Untuk memungkinkan tercapainya tujuan kepemimpinan pendidikan di sekolah, pada pokoknya kepala sekolah melakukan fungsi sebagai EMASLIM, yaitu Educator (pendidik), Manager, Administrator, Supervisor, Leader (pemimpin), Inovator (pencipta), dan Motivator. Ketujuh tugas dan fungsi kepala sekolah tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh yang tidak boleh dipisahkan antara satu dengan lainnya.

Praktek kepemimpinan kepala sekolah yang dijiwai dengan kriteria-kriteria sebagai mana disebutkan di atas, akan dapat membentuk persepsi guru yang positif terhadap kepemimpinan kepala sekolah/madrasah. Bila persepsi guru positif terhadap kepemimpinan kepala sekolah/madrasah, mereka akan cenderung mengikuti aturan-aturan yang berlaku disekolah dengan penuh kesadaran. Oleh karena itu, kepala sekolah harus mampu melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik. Dalam hubungannya dengan penelitian yang akan dilakukan, empat fungsi kepala sekolah yang menjadi bahan pertimbangan untuk diteliti, yaitu kepemimpinan kepala sekolah dalam mengarahkan, membimbing, memotivasi dan mengawasi guru-guru.

Kepemimpinan Kepala sekolah/ Madrasah Sebagai Manajer

Di dalam Permen Diknas Nomor 13 tahun 2007 tentang standar kepala sekolah yang disahkan pada 17 April tahun 2007 dijelaskan bahwa kepala sekolah mempunyai 5 kompetensi utama yaitu: kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi dan kompetensi sosial.[6] Namun, dalam penulisan ini, penulis fokuskan hanya pada peran kepala sekolah / Madrasah sebagai manajer yang mempunyai tanggung jawab manajerial, yang meliputi beberapa aspek, yaitu:

a).  Menyusun perencanaan sekolah/madrasah untuk berbagai tingkatan perencanaan.

b). Mengembangkan organisasi sekolah/madrasah sesuai dengan kebutuhan.

c).  Memimpin sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan sumber daya sekolah/madrasah secara optimal.

d). Mengelola perubahan dan pengembangansekolah/madrasah menuju organisasi pembelajar yang efektif.

e). Menciptakan budaya dan iklim sekolah/madrasah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik.

f).   Mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal.

g).  Mengelola sarana dan prasarana sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan secara optimal.

h). Mengelola hubungan sekolah/madrasah dan masyarakat dalam rangka pencarian dukungan ide, sumber belajar, dan pembiayaan sekolah/madrasah.

i).   Mengelola peserta didik dalam rangka penerimaan peserta didik baru, dan penempatan dan pengembangan kapasitas peserta didik.

j).   Mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan nasional.

k).  Mengelola keuangan sekolah/madrasah sesuai dengan prinsip pengelolaan yang akuntabel, transparan, dan efisien.

l).    Mengelola ketatausahaan sekolah/madrasah dalam mendukung pencapaian tujuan sekolah/ madrasah.

m).            Mengelola unit layanan khusus sekolah/madrasah dalam mendukung kegiatan pembelajaran dan kegiatan peserta didik di sekolah/madrasah.

n).  Mengelola sistem informasi sekolah/madrasah dalam mendukung penyusunan program dan pengambilan keputusan.

  • o). Memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen sekolah/madrasah.

p). Melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan sekolah/madrasah dengan prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak lanjutnya.

Beberapa hal di atas merupakan satu kompetensi dari 5 kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala sekolah. Namun, bagaimana kenyataan di lapangan? Masih banyak peran serta semua pihak baik itu pemerintah, guru, masyarakat, dan lainnya untuk dapat menjalankan peran dan kompetensi mereka sampai pada batas minimal sebagaimana diamanatkan oleh Permen No. 13 thn 2007 tersebut.[].


[1] Hadari Nawawi. Administrasi Pendidikan ,( Jakarta: Gunung Agung, 1985). hlm. 33

[2] Locke, A. Edwin & Association. Esensi Kepemimpinan, (Jakarta: Spektrum, 1997).  hlm. 3

[3] Turney, C. (et al), The School Manager, (Australia: Allen and Unwin, t.th) Hlm. 48

[4] Richard Beckhard. The Leader Of the Future, ( Jakarta: Gramedia, 2000). Hlm. 125-126

[5] Idochi  Anwar & Yayat Hidayat Amir. Administrasi Pendidikan, Teori, Konsep & Issu,( Bandung : Bumi Siliwangi, 2000). Hlm. 26

[6] Permen Diknas Nomor 13 tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah

About these ads

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: